2026年9月10日

Siswa SD Ramai-Ramai “Serbu” Ulasan Buruk—Sampai Qwen Resmi Turun Tangan dan Gelar Rapat Khusus?

Kocak banget, teman-teman—belakangan ini dunia AI dan dunia pendidikan benar-benar “tabrakan jalur”,...

Kocak banget, teman-teman—belakangan ini dunia AI dan dunia pendidikan benar-benar “tabrakan jalur”, dan hasilnya jadi drama yang bikin banyak orang geleng-geleng sambil ketawa.

Awalnya pun terasa agak “surealis”. Pas banget momentum akhir semester, Alibaba lewat aplikasi Qwen (千問) meluncurkan pembaruan besar. Niatnya jelas: membantu orang tua dan siswa. Ada fitur foto untuk mencari soal asli, AI yang bisa membacakan dan menjelaskan materi dari tulisan di papan, sampai kemampuan menganalisis kesalahan lalu otomatis membuat paket latihan “contoh serupa” ala latihan penguatan.

Di atas kertas, ini terdengar seperti paket lengkap: praktis, cepat, dan sangat “menyelamatkan”.

Tapi begitu orang-orang melirik kolom ulasan di toko aplikasi, suasananya langsung meledak—dan polanya pecah jadi dua kubu yang kontras banget.

Di satu sisi, para orang tua yang super serius mendidik anak langsung memberi bintang lima. Banyak yang memuji Qwen seperti “guru privat VIP gratis”—praktis, informatif, dan terasa banget manfaatnya.

Di sisi lain, datang gelombang bintang satu yang tampaknya “baru pulang sekolah”. Mereka kompak menyerbu ulasan dengan nada protes: “Kenapa aku harus ngerjain latihan tambahan sebanyak ini? Bintang satu!”

Mulanya, orang mengira ini sekadar efek samping lucu dari pembaruan produk. Namun ternyata isu ini membesar dengan cepat, sampai memantik perdebatan publik yang lebih serius: sebenarnya, anak-anak perlu pakai AI atau justru harus dibatasi?

Sepertinya tim Qwen juga tidak menyangka dampaknya sedemikian besar. Karena kontroversi makin ramai, mereka memilih menghadapi isu ini secara terbuka. Beberapa hari kemudian, mereka benar-benar mengadakan forum pendidikan di Beijing bertajuk: “Apakah Anak Boleh Menggunakan AI?” Sebagai pengguna lama Qwen, saya ikut menghadiri sesi ini secara daring.

Yang menarik, daftar pembicaranya tidak main-main. Mereka mengumpulkan figur-figur yang dikenal “paling paham pendidikan” dan “paling paham cara kerja otak”, dari berbagai latar: edukasi, kognisi, sampai budaya. Dengan komposisi seperti ini, jelas forum tersebut tidak sekadar formalitas.

Jujur, saya sempat mengira acaranya akan standar: semua orang berbicara sopan, saling memuji, lalu foto bersama.

Ternyata tidak. Diskusinya panas, tajam, dan—anehnya—cukup membuka perspektif.

Kalau dipikir-pikir, wajar juga isu ini menyentuh saraf banyak keluarga. Dari luar, terlihat seperti anak-anak “mau cepat selesai” dan malas latihan. Tapi di balik itu, ada ketakutan orang tua yang jauh lebih dalam: kalau nanti PR selalu dikerjakan AI, dan langkah-langkah penyelesaian diberikan begitu saja, apakah anak akan kehilangan kemampuan berpikir mandiri?

Karena itu, forum langsung melempar pertanyaan inti: jika AI dipakai terus-menerus, apakah anak akan menjadi kurang cerdas?

Di forum, pimpinan lini pembelajaran Qwen memperkenalkan satu gagasan yang cukup kuat: AI kini sudah menjadi “alat tulis keempat” setelah pensil, penghapus, dan penggaris. Dulu, ketika anak mentok mengerjakan soal, orang tua harus menunggu pulang kerja dan sering kali sesi PR berubah jadi “drama rumah tangga”. Sekarang, AI bisa mengenali tulisan tangan anak atau catatan dari papan tulis, lalu dalam hitungan detik memberikan penjelasan dan alur berpikir.

Namun justru di sini masalahnya muncul.

Jika anak memakai AI untuk mengambil jalan pintas, apakah itu masih bisa disebut belajar?

Seorang influencer pendidikan terkenal mengingatkan soal bahaya “kepintaran palsu”. Anak dengan fondasi lemah bisa mencari dengan AI, mendapatkan tulisan yang terlihat bagus, lalu menyalinnya mentah-mentah sambil merasa dirinya hebat—padahal proses belajarnya nyaris nol. Ibarat pelatih renang menjelaskan teknik napas di pinggir kolam: kalau kamu tidak turun ke air, kamu tidak akan bisa berenang.

Keluhan seperti ini sebenarnya sudah muncul sejak lama. Banyak guru di internet mengaku bisa langsung menebak ketika sebuah esai “terlalu AI”: terlalu rapi, terlalu dewasa, terlalu tidak natural untuk tulisan anak.

Lebih ekstrem lagi, generasi muda yang jago teknologi mulai mengubah tugas sekolah menjadi “perang strategi”. Kalau guru memakai AI untuk mengoreksi, mereka mencoba memanipulasi instruksi atau “mengakali” sistem saat ujian, supaya skor bisa terdongkrak.

Bayangkan situasinya: murid memakai AI untuk mengerjakan, guru memakai AI untuk menilai, dan semuanya memakai AI untuk saling “mengakali”.

Tidak heran, banyak orang tua merasa makin cemas.

Namun kemudian muncul sudut pandang yang benar-benar berlawanan arus. Seorang profesor dari Fudan University menyebut bahwa pertanyaan “apakah AI membuat anak lebih bodoh” sebenarnya adalah pertanyaan yang keliru sejak awal.

Kenapa? Karena pertanyaan itu menyimpan asumsi bahwa pendidikan berbasis ujian yang selama ini kita jalani memang membuat anak lebih cerdas.

Dan itu sebuah serangan langsung ke akar persoalan.

Menurutnya, definisi “cerdas” dalam pendidikan tradisional sering dipersempit menjadi kemampuan menghitung cepat dan menghafal kuat. Masalahnya, itu justru bidang yang paling unggul untuk AI. Ketika AI bisa menghitung lebih cepat dan mengingat lebih banyak, maka “kepintaran gaya lama” memang akan tergantikan. Jadi yang terjadi bukan anak menjadi bodoh, melainkan standar tentang “cerdas” sedang berubah di era AI.

Pembicara lain menambahkan analogi: AI seperti lampu sorot yang menerangi area yang dulu sulit dijangkau pendidikan konvensional. Jika digunakan benar, AI bukan menggantikan berpikir, tetapi menambal kekurangan.

Ini sejalan dengan logika inti produk edukasi AI modern: AI yang baik bukan yang langsung memberi jawaban, melainkan yang membimbing. Idenya mirip metode Socrates—membantu lewat pertanyaan terarah sampai siswa menuntaskan proses penalarannya sendiri. Contoh yang sering disebut adalah kolaborasi Khan Academy dengan ChatGPT melalui Khanmigo, dengan konsep “Socrates digital” yang fokus pada guided questioning, bukan “jawaban instan”. Produk AI lokal, termasuk Qwen, juga bergerak ke arah serupa.

Di forum itu, ada juga siswa dari sekolah YunGu yang berbagi perspektif dari sisi pelajar. Ia menyampaikan metafora yang sangat menarik: dulu belajar itu seperti “mendaki gunung”. Guru mengajarkan langkah demi langkah untuk naik, prosesnya berat dan perlahan.

AI bisa langsung “mengantar ke puncak” dengan memberikan jawaban.

Karena itu, keterampilan yang paling penting justru adalah “turun gunung”: memahami logika jawaban AI, membedah langkahnya, lalu mengubahnya menjadi pemahaman dan kebiasaan berpikir sendiri. Proses “turun gunung” inilah yang membuat pengetahuan menjadi “memori otot” dalam cara berpikir.

Banyak orang di ruangan tampak tercengang—bukan karena tidak setuju, tapi karena perspektif seperti ini jarang terdengar. Dan memang terasa, generasi yang tumbuh bersama AI mulai membangun pola pikir yang berbeda.

Namun, teori sebagus apa pun tetap punya tantangan di lapangan.

AI berkembang terlalu cepat—bahkan guru pun mulai bergantung padanya. Belakangan, banyak siswa mengeluh bahwa soal ujian sekarang terasa “berbau mesin”: struktur kalimat aneh, frasa yang kaku, sampai pola-pola ungkapan yang terlalu khas AI.

Ada juga kasus lucu sekaligus memalukan: dalam soal apresiasi puisi klasik, AI malah menganggap teks promosi perusahaan game sebagai puisi, dan kolom penulisnya tercantum nama perusahaan tersebut.

Pada titik ini, AI bukan hanya membantu belajar—AI ikut membuat soal, mengoreksi, dan menjelaskan, bahkan sering kali lebih sabar daripada manusia.

Lalu muncullah pertanyaan yang paling menohok: kalau AI sudah bisa melakukan semuanya, untuk apa guru? Apakah sekolah akan “tidak relevan” suatu hari nanti?

Menanggapi kekhawatiran ini, seorang profesor populer memberikan jawaban yang tajam. Ia mengatakan, bagian “mengajar pengetahuan” memang bisa didelegasikan ke AI—wajar, karena basis data AI jauh lebih besar daripada “stok pengetahuan” di kepala manusia.

Namun masalahnya, AI tidak punya rasa manusia.

AI terlalu standar dan dingin. Sementara manusia—meski punya kekurangan—punya ketulusan, kepribadian, dan koneksi emosional. Ia bahkan memberi contoh: meski kemampuan bahasa lisannya tidak sempurna, murid tetap suka mengikuti kelasnya, karena mereka terhubung dengan sosok yang nyata, bukan kesempurnaan yang datar.

Seorang guru lain menambahkan contoh yang sangat praktis: ketika siswa bertengkar soal penilaian, ada yang menangis, ada yang marah, ada yang stres—apakah kita berharap AI turun tangan sebagai mediator? Tentu tidak.

Nilai guru ada pada kemampuan “melihat murid”, merespons emosi, dan menghubungkan proses belajar dengan pertumbuhan pribadi. Itu wilayah yang sulit—bahkan hampir mustahil—digantikan AI. Sebaliknya, AI paling tepat dipakai untuk mengambil alih pekerjaan administratif dan rutinitas, agar guru bisa fokus pada hal yang lebih penting: membina manusia.

Menjelang akhir acara, diskusi bergeser dari murid dan guru ke masalah pendidikan sebagai sistem.

Selama ini, guru terbaik dan bank soal terbaik adalah sumber daya langka—sering kali terikat pada sekolah favorit dan wilayah dengan harga properti luar biasa mahal. Kini, AI seperti Qwen “membuka keran” sumber daya itu dan membagikannya secara gratis kepada semua orang.

Sebagian pembicara melihat ini sebagai kabar baik: pendidikan menjadi lebih setara. Namun tidak semua setuju.

Seorang profesor memberi “siraman air dingin”: AI memang mendorong pemerataan, tetapi biayanya bisa berupa standardisasi—atau bahkan “rata-rata yang merata”. Jika semua orang bisa dengan mudah mendapatkan skor tinggi dengan bantuan AI, seleksi sosial justru bisa menjadi lebih ketat. Dulu kompetisi soal siapa paling kuat menghafal. Sekarang, ketika AI membuat semua orang bisa “menghafal”, siapa yang akan dipilih?

Seorang kepala sekolah dari sekolah masa depan di Shenzhen menawarkan jalan pikir lain. Jika pengetahuan tidak lagi menjadi pembeda utama, pendidikan harus melampaui otak. Kita perlu melatih tubuh, mental, dan kemampuan bertindak.

AI bisa menulis kode dan membuat proposal, tetapi AI tidak bisa berlari 5 kilometer. AI tidak bisa menggantikan rasa sakit otot saat latihan, dan tidak bisa merasakan kepuasan ketika melampaui batas diri. Ke depan, pendidikan mungkin akan lebih menilai kemampuan belajar seumur hidup yang utuh dan menyeluruh.

Kesimpulan terbesar setelah mengikuti forum ini adalah: pendidikan berbasis AI masih berada dalam fase “seribu bunga mekar”. Argumen saling beradu, dan belum ada jawaban tunggal.

Namun bagi saya, satu hal sudah jelas: di titik hari ini, memperdebatkan “boleh atau tidak anak memakai AI” sudah tidak terlalu relevan.

AI sudah seperti udara—menyelusup ke mana-mana. Mau diterima atau tidak, ia sudah masuk ke kehidupan keluarga dan sekolah. Pertanyaan yang benar-benar penting adalah: bagaimana kita menggunakannya dengan tepat?

Dulu kita menghadiahi anak setumpuk soal supaya mereka banyak latihan. Sekarang anak “minta Qwen” supaya AI membantu mereka berlatih. Baik mengajar maupun belajar, AI seharusnya tetap alat bantu—subjek utamanya tetap manusia. Kuncinya bukan pada alatnya, melainkan pada cara kita memasukkannya ke rutinitas sehari-hari.

Apakah kita membiarkan AI menggantikan cara berpikir kita, atau kita membuat AI bekerja untuk memperkuat cara berpikir kita?

Pertanyaan ini bukan hanya untuk anak-anak. Setiap orang tua—bahkan setiap orang dewasa—perlu memikirkannya serius. Di era ketika AI merambah ke segalanya, siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini dengan jernih, dialah yang paling siap menangkap peluang zaman.

Menurut kamu bagaimana? Yuk, berbagi pandangan di kolom komentar.

接著讀