Tinggal satu hari menuju final Piala Asia U23: kelemahan terbesar Timnas China terungkap, jalan menuju gelar kini makin berat.
Dalam dua hari ke depan, Piala Asia U23 akan memasuki fase paling menentukan dengan digelarnya laga ...
Dalam dua hari ke depan, Piala Asia U23 akan memasuki fase paling menentukan dengan digelarnya laga perebutan tempat ketiga dan partai final. Pada Jumat malam pukul 23.00, Vietnam U23 akan berhadapan dengan Korea Selatan U23 untuk memperebutkan posisi ketiga. Sementara itu, pada Sabtu malam pukul 23.00, Timnas China U23 akan menantang Jepang U23 dalam laga puncak penentuan gelar juara. Seluruh pertandingan akan disiarkan secara langsung melalui CCTV-5.
Sebelum semifinal dimulai, pelatih Vietnam Kim Sang-sik sempat berharap akan tercipta skenario ideal, yakni Vietnam dan Korea Selatan bertemu di partai final. Namun kenyataan berkata lain. Korea Selatan harus mengakui keunggulan Jepang dengan skor tipis 0-1, sedangkan Vietnam tumbang 0-3 dari China. Kedua tim pun gagal melaju ke final dan kini hanya bersaing untuk posisi ketiga.
Pada hari ini, media Vietnam Tuoi Tre mengutip laporan media Korea Selatan yang menegaskan bahwa laga perebutan tempat ketiga memiliki makna simbolis yang sangat besar bagi tim muda Korea. Kekalahan dari Vietnam akan dianggap sebagai pukulan telak yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah, sekaligus berpotensi memengaruhi reputasi tim serta masa depan pelatih kepala Lee Min-sung.
Media Korea Selatan juga menyoroti arti penting laga perebutan peringkat ketiga dari sudut pandang jangka panjang. Meski tidak berpengaruh terhadap tiket Olimpiade, hasil pertandingan ini akan berdampak langsung pada penentuan unggulan untuk Piala Asia U23 2028.
Menjelang semifinal, banyak penggemar China berharap Korea Selatan mampu menghentikan langkah Jepang dan menyingkirkan sang juara bertahan lebih awal. Harapan itu tak terwujud, dan China kini harus berhadapan langsung dengan Jepang di final. Pada titik ini, tidak ada pilihan lain selain bertarung habis-habisan.
Berbeda dengan semifinal ketika Yang Haoyu harus absen karena sanksi, China kini dapat menurunkan skuad penuh di partai final. Ini menjadi kabar terbaik bagi tim, karena pelatih Antonio memiliki keleluasaan penuh dalam menyusun strategi dan menentukan susunan pemain.
Namun, menjelang laga puncak, kelemahan terbesar China juga mulai terlihat jelas, yakni kemampuan menyerang.
Media Jepang Qoly dalam analisis pra-pertandingan menilai bahwa China, dengan kiper Li Hao—produk akademi muda Atlético Madrid—sebagai poros utama, telah membangun lini pertahanan yang sangat solid dengan catatan lima pertandingan tanpa kebobolan. Meski demikian, produktivitas gol tetap menjadi titik lemah yang mencolok. Dari empat gol yang dicetak China sepanjang turnamen, tiga di antaranya tercipta saat menghadapi Vietnam. Karena itu, laporan tersebut menyebutkan bahwa jika Jepang mampu mencetak gol lebih dulu, peluang mereka untuk meraih kemenangan akan sangat besar—seolah menjadi “panduan strategi” bagi tim Jepang.
Pandangan ini langsung memicu perdebatan hangat di kalangan penggemar China.
Sebagian fans mengakui dengan jujur bahwa jika Jepang unggul lebih dulu, peluang China untuk menang akan sangat kecil. Ada pula yang khawatir gol cepat Jepang bisa berujung pada kekalahan telak. Di sisi lain, muncul suara yang lebih tenang, menegaskan bahwa melangkah hingga final saja sudah merupakan pencapaian besar, sehingga tim sebaiknya bermain tanpa beban.
Fans yang lebih optimistis berpendapat bahwa meski kebobolan lebih dulu, China tidak perlu panik. Pertahanan harus tetap dijaga, lalu di 20 menit terakhir melakukan pergantian pemain untuk meningkatkan tekanan, mengejar gol penyama, dan mencoba menang lewat perpanjangan waktu atau adu penalti.
Banyak pendukung menilai bahwa keunggulan terbesar China saat ini adalah minimnya tekanan. Sebelum turnamen dimulai, hampir tidak ada yang menjagokan mereka. Melaju ke final sebagai tim unggulan keempat sudah menjadi sejarah tersendiri. Justru tekanan sepenuhnya berada di pihak Jepang sebagai juara bertahan.
Final ini diprediksi menjadi duel klasik antara “tombak terkuat” melawan “perisai terkokoh”. Jepang telah mencetak 12 gol, terbanyak di turnamen, sementara China belum kebobolan satu gol pun, menjadikannya tim dengan pertahanan terbaik. Meski begitu, pertahanan Jepang juga sangat solid, hanya kemasukan satu gol dalam lima pertandingan.
Hal ini menunjukkan bahwa jika China tertinggal lebih dulu dan terpaksa bermain dalam posisi tertekan, membobol gawang Jepang akan menjadi tugas yang sangat sulit, meskipun mereka memiliki keunggulan dalam rata-rata tinggi badan dan duel fisik.
Menjelang final, AFC menggelar jajak pendapat di situs resminya terkait kandidat juara. Sebanyak 66 persen penggemar memprediksi Jepang akan mengangkat trofi, sementara 34 persen lainnya mendukung China untuk keluar sebagai juara.
Jika China benar-benar mampu menjuarai turnamen ini, mereka akan meraih gelar juara kontinental pertama dalam 22 tahun terakhir—setelah terakhir kali mengangkat trofi di Piala Asia U17. Prestasi tersebut juga akan menjadikan China sebagai tim kedua dalam sejarah, setelah Irak pada 2013, yang berhasil menjuarai Piala Asia U23 dengan status unggulan keempat.
Jurnalis Top Tegaskan: Kong Linghui Tak Bersalah atas ‘Insiden Konyol’! Liu Guoliang Patut Terima Kritik, Tapi Tidak Melakukan Kesalahan
Mantan jurnalis senior La Gazzetta dello Sport asal Italia, Bozza, baru-baru ini meluruskan pemberit...
Google Luncurkan Google Home Baru dengan Asisten Gemini AI, Harga Mulai $99
Pada 1 Oktober, Google resmi memperkenalkan Google Home generasi terbaru, membawa pengalaman rumah p...
Mengapa “Sekutu Lama” Kini Berbalik Menyerang NIO?
Baru saja NIO berjanji akan mencapai profit pada kuartal keempat, saham perusahaan itu langsung terk...
Mengapa Begitu Banyak Usia 35 Tahun Beralih ke Ujian Pegawai Negeri? Apa yang Sebenarnya Mereka Cari?
Usia 35 Masih Ikut Tes CPNS? Sudah Gila atau Justru Paling Masuk Akal?Setiap akhir tahun, saat ujian...
Di Era AI, Bagaimana Mendefinisikan Paradigma Baru Pemasaran E-commerce?
Penulis | CynthiaEditor | Zheng Xuan “Memanfaatkan AI untuk mentransformasi industri” adalah kalimat...
Rekor Fantastis! Messi Pemuncak Gol Usia 27 hingga 38 Tahun
Pada 29 Desember, media menggunakan data Transfermarkt, RSSSF, dan Fbref untuk menganalisis jumlah g...
Melihat Jejak ofo dalam Perjalanan Songguo Chuxing (Pinecone Mobility)
“Perusahaan publik pertama” di segmen e-moped bersama tampaknya benar-benar akan segera hadir. Songg...
Lakers Kalah 112–124 dari Kings, Empat Masalah Besar Terungkap: Ayton Masih Loyo, Pemain Pendukung Tak Stabil, Serangan dan Pertahanan Runtuh
Los Angeles Lakers harus menerima kekalahan mengecewakan 112–124 dari Sacramento Kings. Meski unggul...
Lao Gao dan Xiao Mo dikabarkan bercerai; hubungan pernikahan mereka akhirnya dijelaskan secara lengkap.
(Beijing, 3 Februari)Kanal YouTube populer “Lao Gao & Xiao Mo” yang memiliki 6,71 juta subscriber se...
Kamera Ponsel Bisa Dilepas? Ulefone RugOne Xsnap 7 Pro Bikin Penasaran
Produsen ponsel tahan banting Ulefone mengumumkan partisipasinya di MWC 2026 (2–5 Mare...
Louis Koo tetap melanjutkan pekerjaan meski kondisi matanya belum sepenuhnya pulih, menunjukkan dedikasi tinggi sebagai seorang profesional.
(Hong Kong, 8 April) Aktor pemenang penghargaan Louis Koo hadir bersama Sonija Kwok, Joyce Tang, Ray...