2026年9月10日

Kemeriahan Gala Tahunan di Hotel Tahun Ini Diam-Diam Menghilang

“Jumlah pesanan acara tahunan perusahaan yang kami terima tahun ini benar-benar memprihatinkan.” A, ...

“Jumlah pesanan acara tahunan perusahaan yang kami terima tahun ini benar-benar memprihatinkan.”

A, seorang staf penjualan hotel berbintang di salah satu kota di Tiongkok Utara, tak bisa menahan diri untuk mengeluh kepada Jinglv Jun dalam beberapa hari terakhir. Biasanya, pada periode seperti ini, seluruh tim sudah sibuk luar biasa menangani pesanan acara tahunan perusahaan. Namun tahun ini, situasinya justru berbalik total.

Bukan hanya jumlah pesanan acara tahunan yang anjlok tajam, harga pun terus mengalami penurunan.

Pada tahun-tahun sebelumnya, standar jamuan makan untuk acara tahunan perusahaan setidaknya mencapai 1.500 yuan per meja. Tahun ini, bahkan harga 1.000 yuan per meja terasa dipaksakan.

Dalam kasus yang lebih ekstrem, beberapa perusahaan kecil hanya membawa belasan karyawan ke hotel untuk makan bersama dan menyebutnya sebagai “acara tahunan”. Tidak ada laporan kerja, tidak ada penghargaan atau undian. Semua orang makan dengan tenang, lalu bubar. Sama sekali tidak terasa suasana meriah.

Di media sosial, unggahan bertanya “Apakah acara tahunan tahun ini menghilang?” terus bermunculan. Banyak orang diam-diam saling bertanya, apakah perusahaan lain masih mengadakan acara tahunan atau tidak.

Dalam sebuah jajak pendapat berjudul “Apakah perusahaan Anda masih mengadakan acara tahunan tahun ini?”, lebih dari 5.000 orang ikut memilih, dan 75% menjawab “Perusahaan tidak mengadakan acara tahunan”.

Lebih banyak lagi warganet meninggalkan komentar di berbagai unggahan, secara terang-terangan mengatakan bahwa acara tahunan di perusahaan mereka sudah dibatalkan, atau bahkan sudah bertahun-tahun tidak pernah diadakan.

Di internet pun beredar sebuah candaan tentang evolusi acara tahunan perusahaan di dalam negeri: hotel berbintang → ruang rapat perusahaan → rapat online via Tencent → langsung dibatalkan.

Data dari lembaga riset secara diam-diam mengonfirmasi tren ini.

Menurut Laporan Survei Iklim Industri Triwulan III 2025 dari Asosiasi Pariwisata dan Perhotelan Tiongkok, akibat kebijakan dan kondisi pasar secara keseluruhan, permintaan terhadap pertemuan dan acara perusahaan terus menurun, terutama dengan prospek kinerja sektor katering yang jelas melemah.

Statistik lain menunjukkan bahwa proporsi perusahaan yang mengadakan acara tahunan berskala besar anjlok dari 78% pada 2019 menjadi 42% pada 2023, lalu turun lagi ke 31% pada 2024. Diperkirakan pada akhir 2025, perusahaan yang masih mempertahankan format acara tahunan tradisional berskala besar akan kurang dari 20%.

Ini berarti, pada 2026, sekitar 80% acara tahunan perusahaan yang biasanya digelar di hotel akan diam-diam menghilang.

Periode 2010 hingga 2019 bisa disebut sebagai “dekade emas” bagi acara tahunan perusahaan.

Sejak 2010, ketika Jinglv Jun pertama kali memasuki dunia kerja, perusahaan tempatnya bekerja tidak hanya rutin mengadakan acara tahunan setiap tahun, tetapi juga terus meningkatkan skalanya. Pada puncaknya, perusahaan bahkan menyewa seluruh sebuah resor mewah di pinggiran Beijing, membawa ratusan karyawan untuk menikmati tiga hari penuh makan, hiburan, dan aktivitas bersama. Sesi undian benar-benar membangkitkan adrenalin—saya memenangkan hadiah mewah pertama dalam hidup saya: sebuah kamera DSLR Sony. Saat nama pemenang diumumkan, saya yang setengah mabuk terbangun oleh sorakan rekan kerja, lalu memeluk hadiah itu semalaman tanpa bisa tidur. Hingga kini, itu masih menjadi salah satu kenangan kerja paling berkesan.

Sekitar 2015, gelombang startup internet mendorong “kompetisi berlebihan” dalam acara tahunan perusahaan. Jinglv Jun pernah menghadiri acara tahunan sebuah perusahaan internet besar di resor kelas atas. Begitu masuk ke lokasi, saya langsung terkejut melihat tumpukan iPhone dan iPad terbaru setinggi dinding—dan itu baru hadiah undian tingkat awal. Hadiah utama mencakup “paket wisata Eropa tujuh hari untuk dua orang” hingga “emas batangan zodiak khusus”, dengan tingkat kemewahan yang mencengangkan.

Sekitar 2018, tren “acara tahunan bergaya liburan” mulai merebak. Perusahaan kecil dan menengah memilih destinasi wisata di sekitar kota, membawa seluruh karyawan berlibur sambil sekalian mengadakan acara tahunan. Perusahaan besar membawa tim dalam jumlah besar ke kota pesisir seperti Sanya, menyewa resor mewah untuk berlibur sekaligus rapat. Perusahaan papan atas bahkan langsung membawa karyawan ke luar negeri—anggaran terbatas ke Thailand atau Singapura, anggaran lebih ke Jepang atau Korea, dan yang tidak kekurangan dana langsung ke Eropa atau Amerika. Saat itu, linimasa media sosial Jinglv Jun dipenuhi foto check-in karyawan dari berbagai penjuru Tiongkok hingga dunia. Seberapa jauh perjalanannya, seberapa mahal hotelnya, dan seberapa bagus itinerarinya menjadi tolok ukur tidak resmi kekuatan sebuah perusahaan.

Permintaan yang tinggi membuat hotel meraup keuntungan besar. Hotel-hotel populer harus dipesan setidaknya enam bulan sebelumnya, dan beberapa hotel bahkan bisa memenuhi sebagian besar KPI tahunan mereka hanya dari pesanan acara tahunan—uang mengalir nyaris tanpa usaha.

“Itu adalah dekade emas yang akan selalu kami rindukan,” ujar banyak pelaku industri perhotelan dengan penuh nostalgia.

Namun setelah 2020, antusiasme terhadap acara tahunan perusahaan di hotel dengan cepat mereda.

Bahkan pada 2023, yang disebut-sebut sebagai puncak “konsumsi wisata balas dendam”, jumlah pesanan acara tahunan perusahaan yang diterima hotel masih jauh di bawah level sebelum pandemi.

Dalam dua tahun terakhir, acara tahunan bukan hanya belum pulih, tetapi justru semakin lesu.

Mengapa demikian?

“Kondisi ekonomi domestik dan global yang penuh ketidakpastian adalah latar belakang utamanya,” jelas seorang pelaku industri hotel kepada Jinglv Jun. Berbagai tekanan nyata yang dihadapi perusahaan besar, menengah, dan kecil memaksa mereka memangkas anggaran acara tahunan secara signifikan.

Di perusahaan milik negara dan BUMN pusat, tuntutan yang semakin ketat terkait “kepatuhan dan transparansi” menjadi ambang evaluasi yang penting. Dalam konteks ini, acara tahunan yang menghabiskan banyak biaya dengan mudah menjadi sasaran. Beberapa BUMN bahkan langsung menghapus sesi undian, karena pengadaan hadiah dianggap berada di wilayah abu-abu. Seiring dengan semakin rinci dan ketatnya regulasi, anggaran acara tahunan dipotong, standar konsumsi dan akomodasi diturunkan, serta proses klaim biaya diperketat. Setelah melalui semua itu, banyak pihak merasa mengadakan acara tahunan justru merepotkan dan berisiko, sehingga lebih aman untuk membatalkannya.

Akibatnya, acara tahunan di beberapa BUMN berubah menjadi sekadar rapat laporan akhir tahun. Jamuan makan yang dulu meriah kini hanya menjadi tambahan beberapa hidangan di kantin, sekadar formalitas.

Di sisi perusahaan swasta, realitasnya tak kalah berat.

Pendapatan yang melemah memaksa para pemilik usaha berjuang demi bertahan hidup. “Efisiensi biaya” sering kali dimulai dengan memangkas anggaran perjalanan dan pertemuan. Sejak tahun lalu, banyak perusahaan internet besar menurunkan anggaran perjalanan dan mengurangi kegiatan rapat, dan tentu saja acara tahunan tidak luput dari pemangkasan.

Perusahaan kecil dan menengah lebih ketat lagi dalam berhemat. Seorang pemilik usaha yang membatalkan acara tahunan perusahaannya pernah mengeluh kepada Jinglv Jun bahwa dengan ratusan karyawan, mengadakan acara tahunan yang layak bisa menghabiskan ratusan ribu hingga jutaan yuan. Saat bisnis masih bagus, biaya itu bisa ditoleransi. Namun kini, di tengah tekanan kinerja, anggaran acara tahunan dibagi dua: sebagian besar dialokasikan untuk menjaga arus kas, dan sisanya dibagikan langsung kepada karyawan sebagai tunjangan akhir tahun, sebagai pengganti acara tahunan.

Ada pula alasan tersembunyi lain yang membuat sikap para bos terhadap acara tahunan semakin rumit.

Di mata banyak pimpinan, karyawan generasi pasca-95 dan pasca-00 tidak lagi menganggap acara tahunan sebagai ikatan emosional antara perusahaan dan karyawan, melainkan sebagai beban emosional atau sekadar formalitas.

Terlebih setelah film populer Annual Meeting Can’t Stop dirilis, semakin banyak karyawan muda yang secara terbuka maupun tertutup menentang acara tahunan perusahaan. Mereka menilai ritual lama ini hanya membuat diri yang sudah lelah semakin lelah, memaksa mereka tampil, menyenangkan atasan, dan bersosialisasi dengan rekan kerja yang hubungannya biasa saja—sebuah siksaan mental.

Bos khawatir uang yang dikeluarkan tidak diapresiasi, karyawan khawatir repot tanpa makna. Hilangnya acara tahunan adalah hasil dari pilihan dua arah.

Lalu, apakah acara tahunan perusahaan benar-benar tidak lagi diperlukan?

Belum tentu.

Jinglv Jun mengamati bahwa di saat acara tahunan tradisional meredup, format baru justru mulai bermunculan.

Belakangan ini, banyak orang di media sosial membagikan pengalaman perusahaan mereka yang memindahkan acara tahunan ke pusat pemandian air panas. Alasannya sederhana: biaya lebih rendah dan meninggalkan formalitas. Di sana, semua orang melepas “identitas” masing-masing, tidak ada lagi batasan antara atasan dan bawahan, tidak ada pertunjukan atau permainan yang dibuat-buat—hanya mandi, bersantai, makan, dan menikmati waktu luang di akhir tahun. Format acara yang santai ini justru lebih sesuai dengan selera karyawan muda.

Ada pula perusahaan yang “memecah” acara tahunan, menggantinya dengan kegiatan kebersamaan skala kecil. A mengungkapkan kepada Jinglv Jun bahwa permintaan untuk kegiatan tim kecil melonjak tajam tahun ini, umumnya berbentuk “acara tahunan mini” per departemen. Versi tradisionalnya adalah memesan beberapa meja di hotel, makan dan minum bersama dalam suasana akrab, sekaligus membagikan bonus atas nama departemen. Versi yang lebih modern bisa berupa acara escape room atau pesta privat. Prinsip utamanya sederhana: perusahaan membagikan anggaran ke tiap departemen, dan penggunaannya diserahkan kepada karyawan, selama mereka senang.

Sebagian perusahaan bahkan lebih langsung, mengonversi “acara tahunan” menjadi “manfaat nyata”—baik berupa bonus tunai, cuti berbayar, tambahan hari libur, atau pengaturan kerja yang lebih fleksibel. Cara ini sangat populer di kalangan karyawan generasi 00-an.

Dari sudut pandang ini, acara tahunan sebenarnya tidak benar-benar menghilang. Ia hanya bergeser dari formalitas di hotel menjadi pendekatan yang lebih praktis dan manusiawi.

Pada akhirnya, tujuan utama acara tahunan bukanlah “di mana diselenggarakan” atau “seberapa mewah”, melainkan membuat karyawan merasa dihargai di akhir tahun dan memberi pemimpin rasa kebersamaan dalam organisasi.

Jika itu tujuannya, maka bentuk acaranya bisa disesuaikan.

Perubahan ini sekaligus membawa peluang dan tantangan baru bagi industri perhotelan.

Apakah hotel mampu melepaskan ketergantungan pada pola lama dan mengembangkan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan acara tahunan perusahaan masa kini akan menjadi pertanyaan kunci. Siapa yang mampu memecahkan tantangan ini lebih dulu, dialah yang akan merebut peluang berikutnya.

接著讀