2026年9月12日

Cinta Sejati! Dong Fangzhuo (41) Berkali-kali Meneteskan Air Mata: Minta Maaf kepada Timnas U23 China, Namun Tegaskan “Bertahan Saja Tak Akan Bisa Menang”

Pada dini hari 25 Januari, partai final Piala Asia U23 berakhir pahit bagi Tiongkok. Tim U23 China h...

Pada dini hari 25 Januari, partai final Piala Asia U23 berakhir pahit bagi Tiongkok. Tim U23 China harus mengakui keunggulan Jepang dengan skor telak 0–4, sehingga gagal meraih gelar juara. Seusai laga, mantan pemain tim nasional Dong Fangzhuo yang kini berusia 41 tahun mengunggah video di media sosial untuk memberikan penilaian atas penampilan tim. Dalam video tersebut, ia beberapa kali larut dalam emosi dan menitikkan air mata, menyaksikan kondisi sepak bola China yang menurutnya masih memprihatinkan.

Sebelumnya, sepanjang perjalanan tim U23 China hingga menembus final, Dong kerap melontarkan kritik terhadap pendekatan “sepak bola bertahan” yang dianggapnya terlalu dominan. Ia bahkan sempat menyebut kelolosan China sebagai “cokelat yang rasanya seperti kotoran”—pernyataan yang membuatnya dihujani kecaman dari banyak penggemar.

Namun kali ini, setelah melihat langsung kekalahan 0–4 dari Jepang, Dong mengaku sangat terpukul. Ia membuka videonya dengan permintaan maaf yang tulus: “Pertama-tama, saya ingin dengan sungguh-sungguh meminta maaf kepada tim pelatih U23, para pemain, dan juga seluruh suporter. Memang ada bagian dari ucapan saya sebelumnya yang kurang pantas. Itu menyakiti kerja keras para pemain dan juga melukai antusiasme para fans. Di sini saya menyampaikan permintaan maaf secara resmi kepada semuanya.”

Dong menegaskan bahwa laga final itu membuatnya dipenuhi perasaan campur aduk. “Setelah menonton pertandingan terakhir melawan Jepang, saya benar-benar dilanda banyak emosi,” ujarnya. Saat mengatakan itu, ia tampak tak kuasa menahan tangis dan emosinya sempat lepas kendali. Dengan suara tercekat, ia melanjutkan, “Sejujurnya, para pemain sudah mencetak sejarah dengan mencapai final. Tapi memang, kita juga melihat jelas jarak kita dengan tim-tim kuat.”

Dari titik itu, Dong mengalihkan fokus pada pesan yang ia anggap paling penting: arah sepak bola China ke depan. Menurutnya, tim tidak boleh terus-menerus bergantung pada satu cara bermain saja—terutama jika ingin berkembang melampaui capaian satu turnamen.

“Di pertandingan-pertandingan krusial, yang ingin saya sampaikan adalah: tim yang punya ambisi harus memiliki mimpi,” katanya. “Kita tidak boleh membatasi diri hanya pada satu pertandingan atau satu kompetisi. Yang lebih penting, kita tidak bisa hanya mengandalkan satu gaya bermain untuk meraih kemenangan. Saya berharap tim kita bisa lebih beragam dalam cara bermain.”

Ia menekankan bahwa sebuah tim yang matang harus mampu bertahan sekaligus menyerang—dan memiliki solusi ketika keadaan berbalik. “Saya berharap kita bukan hanya bisa bertahan, tapi juga bisa menyerang. Begitu lawan unggul lebih dulu, bagaimana kita memecah kebuntuan? Ini hal yang wajib kita pikirkan,” ujar Dong. “Kita harus berani mencoba. Kalah itu tidak menakutkan. Yang menakutkan adalah tidak berani mencoba—dan yang lebih menakutkan lagi adalah takut menghadapi tantangan.”

Dong pun menyampaikan penilaian yang sangat tegas: mengandalkan pertahanan saja tidak akan cukup untuk menang. “Sepak bola tidak bisa hanya bergantung pada keberuntungan,” katanya. “Kalau hanya bertahan, kita cuma berharap lawan menembak tidak akurat, berharap tidak ada bola yang membelok, dan berharap kiper kita selalu fokus sepanjang waktu. Dengan bertahan saja, kita tidak akan bisa meraih kemenangan—paling-paling hanya memastikan kita berusaha semaksimal mungkin untuk tidak kalah.”

接著讀