2026年9月10日

Indeks dolar AS mencatat penurunan harian terbesar dalam beberapa tahun—apakah Trump menyambutnya dengan senang?

(Washington, 29)Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (27 waktu setempat) berupaya mered...

(Washington, 29)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (27 waktu setempat) berupaya meredam kekhawatiran atas pelemahan dolar, dengan menyebut penurunan terbaru “tidak perlu dikhawatirkan.” Namun pernyataannya justru memicu reaksi pasar yang kuat, membuat dolar mencatat penurunan harian terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Analis menilai sikap Washington yang lebih toleran terhadap dolar lemah dipandang sebagai sinyal kebijakan, sehingga meningkatkan kekhawatiran bahwa dolar bisa memasuki fase penurunan jangka panjang.

Menanggapi pergerakan mata uang, Trump mengatakan dolar “berjalan dengan baik.” Meski demikian, dolar mengalami penurunan satu hari paling tajam sejak kebijakan tarif tahun lalu diperkenalkan. ICE Dollar Index sempat turun hingga 1,5% dan menyentuh level terendah sejak awal 2022.

Pelemahan dolar turut mengangkat aset lain: euro dan pound naik ke level tertinggi sekitar lima tahun, yen menguat mendekati 152, sementara harga emas menembus US$5.500 per ons.

Trump juga menyatakan nilai dolar bisa bergerak “seperti yo-yo.” Ia menyinggung perselisihan mata uang di masa lalu dengan China dan Jepang, yang menurutnya kerap menginginkan mata uang lebih lemah untuk menjaga daya saing, meski tetap bergantung pada dolar AS.

Dampak bagi konsumen dan perdagangan
Dolar yang melemah berdampak langsung pada konsumen. Di satu sisi, hal ini dapat menaikkan biaya impor, meningkatkan tekanan inflasi, dan mengurangi daya tarik aset AS bagi investor asing. Di sisi lain, dolar lemah membantu meningkatkan daya saing ekspor. Trump mengatakan pergerakan dolar saat ini menguntungkan perusahaan AS, seraya membandingkannya dengan kebijakan Jepang yang lama menginginkan yen lebih lemah untuk mendukung ekspor, dan menambahkan bahwa dolar perlu menemukan titik keseimbangannya.

Stephen Jen, CEO Eurizon SLJ Capital dan penggagas “teori senyum dolar,” menilai sikap Trump mencerminkan awal dari penurunan struktural baru bagi dolar. Menurutnya, pemerintah AS tampak lebih memilih nilai tukar yang mendukung ekspor ketimbang mempertahankan mata uang yang kuat.

Ia memperingatkan bahwa pasar—yang selama ini terbiasa dengan kombinasi ekonomi AS yang kuat dan dolar yang kuat—mungkin belum siap menghadapi kondisi di mana ekonomi tetap tangguh, namun dolar justru melemah.

接著讀