2026年9月10日

Gelombang IPO terkuat dalam hampir 20 tahun, Malaysia memimpin pasar IPO Asia Tenggara.

(Kuala Lumpur, 28 Januari)Malaysia mencatat kinerja paling aktif di pasar penawaran umum perdana (IP...

(Kuala Lumpur, 28 Januari)
Malaysia mencatat kinerja paling aktif di pasar penawaran umum perdana (IPO) Asia Tenggara tahun lalu berdasarkan jumlah transaksi, menurut laporan terbaru Deloitte.

Didukung aktivitas kuat di pasar ACE, Malaysia membukukan 59 IPO—jumlah tertinggi sejak 2006—dengan dana terhimpun sekitar US$1,4 miliar. Sebagai perbandingan, pada 2024 terdapat 55 IPO dengan total dana US$1,6 miliar.

Dalam Laporan Pasar Modal IPO Asia Tenggara 2025, Deloitte menyebut kinerja kuat Malaysia didorong oleh meningkatnya kepercayaan investor serta banyaknya perusahaan yang aktif mencari pendanaan melalui bursa.

Sektor industri memimpin jumlah IPO

Deloitte menyoroti keunggulan Malaysia dari sisi diversifikasi sektor, sentimen pasar yang positif, serta kerangka regulasi yang matang. Tahun lalu juga menandai sejumlah tonggak penting, termasuk IPO sekunder pertama dan pencatatan anak perusahaan dari emiten yang terdaftar di Korea Exchange (KRX).

Dari sisi sektor, industri menjadi penyumbang IPO terbanyak, diikuti sektor konsumen, energi dan sumber daya, serta teknologi, media dan telekomunikasi (TMT).

Untuk nilai dana yang dihimpun, sektor konsumen, energi dan sumber daya, serta industri menjadi tiga kontributor terbesar.

Menariknya, dua IPO terbesar Malaysia dalam dua tahun terakhir berasal dari sektor konsumen, yakni ECOSHOP pada 2025 dan 99SMART pada 2024.

Nilai dana masih di bawah Singapura

Meski unggul dari sisi jumlah IPO, Malaysia menempati peringkat kedua berdasarkan nilai dana yang dihimpun, dengan pangsa 22%. Singapura memimpin kawasan dengan 31%, disusul Indonesia (17%), Vietnam (15%), Filipina (9%), dan Thailand (6%).

Deloitte menilai keberhasilan Singapura didukung regulasi yang ramah pasar serta sejumlah IPO berskala besar yang bersifat ikonik.

Pemulihan IPO berbasis nilai

Deloitte juga mencatat bahwa tren IPO Asia Tenggara pada 2025 menunjukkan pemulihan yang lebih berorientasi pada nilai, dengan sektor properti, energi, dan jasa keuangan tampil menonjol.

Meski jumlah IPO besar meningkat, sentimen pasar tetap berhati-hati. Perusahaan yang berencana melantai di bursa kini lebih selektif dalam menentukan waktu, sehingga strategi penggalangan dana cenderung lebih “kecil namun fokus.”

Deloitte memperkirakan, meskipun ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global masih berlanjut, reformasi regulasi dan kepercayaan investor akan terus menopang pasar IPO Asia Tenggara, membuka peluang bagi lebih banyak perusahaan untuk menciptakan nilai melalui pencatatan saham.

接著讀