2026年9月12日

‘Kembali ke China!’ Insiden Memalukan di Australian Open: Ibu dan Anak Tionghoa Jadi Sasaran Ujaran Rasis Pasangan Kulit Putih akibat Pemicu yang Terlalu Absurd

Baru-baru ini, seorang perempuan keturunan Tionghoa bernama Joanne membagikan pengalamannya saat men...

Baru-baru ini, seorang perempuan keturunan Tionghoa bernama Joanne membagikan pengalamannya saat menonton pertandingan Australian Open bersama putranya yang berusia 12 tahun. Dalam unggahannya, Joanne menyebut bahwa mereka menjadi sasaran perlakuan rasis dari sepasang suami-istri berkulit putih di tribun penonton.

Australian Open selama ini dikenal sebagai “Happy Slam”, bahkan di area venue terpampang pesan bahwa ini adalah “tempat yang menyambut semua orang.” Namun, menurut Joanne, apa yang ia alami di tribun justru memperlihatkan sisi yang sangat kontras dan memprihatinkan.

Joanne menjelaskan, insiden itu terjadi pada sesi siang hari di hari kedelapan turnamen. Ia dan putranya duduk di Section 7, Row J, untuk menyaksikan pertandingan pertama pada hari itu. Ia tidak menyebutkan secara rinci laga yang ditonton, namun berdasarkan jadwal, kemungkinan merupakan pertandingan babak keempat tunggal putri.

Setelah duduk, Joanne merasa sedikit kepanasan karena berjalan, lalu beberapa kali merapikan rambutnya dengan menyibakkannya ke belakang. Saat itulah, seorang pria berkulit putih yang duduk di belakangnya menegur dengan cara yang kasar. Pria tersebut mengklaim rambut Joanne menyentuh tangannya dan menuntut agar Joanne mengikat rambutnya.

Joanne menanggapi dengan tenang bahwa penonton tidak dilarang melakukan gerakan wajar seperti merapikan rambut, dan menyarankan pria itu untuk memeriksa aturan penonton bila perlu. Meski demikian, demi mencegah konflik semakin membesar, Joanne memilih pindah ke kursi kosong di dekatnya.

Situasi kemudian disebut semakin buruk ketika istri pria tersebut melontarkan ujaran bernada rasis kepada Joanne dan putranya, seperti “kembali ke negaramu” dan “kembali ke China.” Bagi Joanne, ini jelas merupakan tindakan diskriminatif yang sangat menghina dan tidak dapat dibenarkan.

Joanne juga menuding pasangan itu melakukan gestur tidak senonoh, diam-diam mengambil foto dirinya, dan menolak menghapus foto tersebut ketika diminta.

Joanne menegaskan alasan ia memilih bersuara adalah karena ia percaya “diam hanya akan membiarkan prasangka terus tumbuh.” Ia juga menyampaikan bahwa kejadian ini telah menarik perhatian dan diberitakan oleh media lokal Australia maupun media di Inggris, sehingga memicu sorotan lebih luas terhadap pentingnya sikap inklusif dan perlindungan bagi semua penonton di ajang olahraga besar.

接著讀