2026年9月10日

Raksasa berlian global tak lagi berkilau, namun negara-negara Afrika justru berlomba-lomba.

(London, 10 Februari) — Raksasa industri berlian global De Beers tengah menghadapi perubahan kepemil...

(London, 10 Februari) — Raksasa industri berlian global De Beers tengah menghadapi perubahan kepemilikan bersejarah, seiring pemegang saham mayoritasnya, Anglo American, mempercepat rencana penjualan di tengah melemahnya permintaan dan meningkatnya persaingan dari berlian buatan laboratorium.

Menurut laporan Financial Times pada 9 Februari, CEO Anglo American Duncan Wanblad mengatakan bahwa perusahaan masih menargetkan penyelesaian penjualan De Beers tahun ini, meskipun kondisi pasar terus memburuk. Ia menyebut proses penjualan berjalan “relatif lancar” dan hampir dapat dipastikan pemerintah Botswana akan meningkatkan kepemilikan sahamnya.

Transaksi tersebut kini mendekati tahap akhir putaran penawaran kedua, dengan calon pembeli yang “kemungkinan besar merupakan sebuah konsorsium” yang terdiri dari pemerintah dan investor swasta. Selain Botswana, pemerintah Angola menyatakan minat untuk membeli 20% hingga 30% saham, sementara Namibia masih mempertimbangkan pembelian saham minoritas.

Anglo American bulan ini juga memperingatkan kemungkinan penurunan nilai aset De Beers untuk tahun ketiga berturut-turut, dipicu oleh tekanan dari berlian sintetis serta tarif impor AS terhadap berlian yang dipoles di India. Meski sejumlah analis menilai penjualan di titik terendah pasar berisiko menggerus nilai, manajemen menegaskan bahwa melepas bisnis berlian adalah langkah terbaik demi melindungi imbal hasil pemegang saham.

Botswana, yang saat ini memiliki 15% saham De Beers, memegang peranan kunci dalam proses ini. Presiden Duma Boko sebelumnya telah menyatakan keinginannya untuk meningkatkan kepemilikan negara tersebut, dan setiap kesepakatan pada akhirnya harus mendapatkan persetujuan pemerintah Botswana.

Para analis menilai meningkatnya keterlibatan negara-negara Afrika mencerminkan pergeseran kepemilikan De Beers kembali ke benua tersebut — sekaligus menegaskan tantangan besar yang sedang dihadapi industri berlian alami secara global.

接著讀