2026年9月10日

Arab Saudi Mulai “Perang Harga Minyak Versi Moderat”? BofA: Kenaikan Produksi OPEC+ Isyaratkan Perebutan Pangsa Pasar

Kepala komoditas Bank of America menyebut Arab Saudi memulai "perang harga yang moderat namun berkelanjutan" melalui peningkatan produksi OPEC+, dengan target produsen shale AS dan sesama anggota OPEC. Strategi ini bisa mengubah lanskap pasar minyak global.

Ketika dinamika energi global kembali mengalami perubahan, Arab Saudi tampaknya diam-diam memulai babak baru dalam perang harga. Francisco Blanch, Kepala Riset Komoditas di Bank of America, baru-baru ini menyatakan bahwa Arab Saudi memanfaatkan kebijakan peningkatan produksi dari OPEC+ untuk melancarkan “perang harga yang moderat namun berkelanjutan,” dengan tujuan merebut kembali dominasi di pasar minyak global yang semakin terfragmentasi.

Berdasarkan kesepakatan terbaru OPEC+ pada 31 Mei, negara-negara anggota akan menambah pasokan minyak sebesar 411.000 barel per hari mulai Juli. Ini adalah kali ketiga berturut-turut OPEC+ melakukan pelonggaran batas produksi, menandai perubahan dari strategi sebelumnya yang bertujuan menjaga harga tinggi.

Blanch menekankan bahwa ini bukanlah perang harga yang tajam dan drastis, melainkan penyesuaian strategis yang bertahap. Target utamanya adalah produsen shale oil Amerika Serikat, yang walaupun produksinya pulih, masih menghadapi biaya produksi yang tinggi, serta beberapa anggota OPEC+ lain yang produksinya meningkat saat Arab Saudi menanggung beban pengurangan pasokan.

“Arab Saudi sudah lebih dari tiga tahun menanggung beban menjaga keseimbangan pasar sendirian. Sekarang mereka tidak ingin melakukannya sendiri lagi,” kata Blanch.

Langkah ini mulai menunjukkan dampaknya. Data terbaru dari Baker Hughes menunjukkan jumlah rig pengeboran minyak dan gas aktif di AS telah turun ke level terendah dalam hampir empat tahun. Analis Morgan Stanley juga memperkirakan OPEC+ akan terus meningkatkan produksi dalam tiga bulan mendatang, yang berpotensi menghapus pemangkasan sukarela sebesar 2,2 juta barel/hari yang diberlakukan pada 2023 dan memberi tekanan lebih lanjut terhadap harga minyak.

“Perang harga moderat” Arab Saudi bukan sekadar penyesuaian pasokan—ini bisa menjadi sinyal pergeseran kekuatan dalam tatanan energi global.

接著讀