2026年9月10日

Apakah Modal Kembali Melirik Pasar Hotpot Mini?

Laporan kinerja semester pertama industri restoran baru saja dirilis, dan hasilnya membawa hawa ding...

Laporan kinerja semester pertama industri restoran baru saja dirilis, dan hasilnya membawa hawa dingin yang terasa jelas.
Xiabuxiabu masih terjebak dalam kerugian, bahkan raksasa hotpot Haidilao pun mengalami “kemunduran” yang mengejutkan, dengan penurunan kinerja yang memicu sorotan industri.

Di tengah situasi ini, hotpot mini mulai dipandang sebagai kunci strategi banyak pemain F&B untuk mencari jalan keluar.
Namun, di balik ramainya tren ini, tersembunyi risiko dan hambatan yang tak bisa diabaikan.

Gelombang Kedua Hotpot Mini

Siapa sangka, bisnis hotpot mini yang dulu dilemahkan oleh Xiabuxiabu kini justru kembali memanas?

Dulu, setelah berhasil menguasai segmen hotpot mini berharga terjangkau, Xiabuxiabu mengalihkan fokusnya ke pasar premium. Sayangnya, strategi ini tidak memenuhi ekspektasi dan justru menjerumuskan perusahaan ke kerugian berkelanjutan.

Pada periode 2016–2020, hotpot mini menjadi medan perebutan banyak merek restoran besar. Dalam beberapa tahun berikutnya, nama-nama besar seperti Haidilao, Yoshinoya, Hofuland Noodles, Nanchengxiang, Banu, hingga Country Chicken meluncurkan produk hotpot mini mereka sendiri.

Dalam beberapa tahun terakhir, dengan daya beli konsumen yang cenderung melemah, hotpot mini—berkat konsep “satu orang, satu panci”, fleksibilitas tempat makan, dan harga yang ramah di kantong—kembali menjadi primadona pasar.
Kini, arena hotpot mini diwarnai pemain nasional seperti Xiabuxiabu, merek lintas kategori seperti Nanchengxiang dan Country Chicken, hingga banyak merek regional yang agresif berekspansi seperti “Weila” di Henan, “Chuan Shiduo” di Xi’an, dan “Longge” di Shandong.

Persaingan yang sengit ini nyatanya tidak menyurutkan niat pendatang baru.

Haidilao, yang selama ini fokus di segmen hotpot menengah-atas, melakukan penyesuaian strategi: pada November 2024 meluncurkan “Feipai Zhenxian Mini Hotpot” untuk uji pasar, dan pada Juli 2025 menghadirkan brand baru self-service hotpot mini “Ju Gaogao” di berbagai kota.

Xiabuxiabu juga kembali menghidupkan lini hotpot mininya. Mei tahun lalu, mereka meluncurkan paket “Khusus Pekerja” seharga 49,9 RMB per orang, dan di beberapa gerai bahkan menawarkan model all-you-can-eat seharga 39,9 RMB untuk membidik pasar kota lapis kedua dan ketiga.

Pemain lintas segmen pun ikut masuk. Mei tahun ini, Beijing Qingfeng Steamed Bun Shop menambahkan menu hotpot mini vegetarian di beberapa gerainya, hanya tersedia setelah pukul 14.00. Juli 2025, raksasa Malatang Yang Guofu membuka gerai perdana self-service hotpot mini di Qingdao.

Masuk Pasar dengan Hati-Hati

Kepopuleran hotpot mini bukan kebetulan.

Data Hongcan mencatat, hingga Juli 2024, terdapat lebih dari 50.000 gerai hotpot mini di seluruh Tiongkok, mencakup sekitar 10% total gerai hotpot nasional. Pada tahun yang sama, konsumsi hotpot mini tumbuh 28,9% year-on-year, menunjukkan momentum yang sangat kuat.

Namun, langkah cepat para raksasa restoran ini juga mencerminkan “kecemasan pertumbuhan” yang mereka rasakan.

Laporan semester pertama 2025 menunjukkan:

  • Haidilao: pendapatan turun 3,7% YoY, laba bersih merosot 13,7%, dan tingkat perputaran meja harian turun dari 4,2 kali/hari menjadi 3,8 kali/hari.
  • Xiabuxiabu: pendapatan anjlok 18,88%, rugi bersih mencapai 84,079 juta RMB, dengan penurunan laba bersih hampir 70% dibandingkan tahun lalu.
  • Yang Guofu: dua kali gagal IPO di Bursa Hong Kong, sempat menuai kritik karena strategi harga, kini mencari terobosan lewat jalur baru.

Arah sudah jelas, namun strategi eksekusinya semakin hati-hati.

Mayoritas pendatang baru berasal dari kategori hotpot, Malatang, atau format serupa—sehingga transisi bisnis lebih mudah dan bisa memanfaatkan pengalaman serta infrastruktur yang sudah ada untuk menekan biaya percobaan.

Contohnya, Yang Guofu sebagai pemimpin pasar Malatang dapat langsung memanfaatkan rantai pasok yang matang, memangkas biaya pembelian bahan dan logistik tanpa harus membangun dari nol.

Dalam strategi ekspansi, pendekatannya pun berubah. Alih-alih mengejar pembukaan gerai secara cepat dan masif, fokus kini ada pada efektivitas operasional. Haidilao “Ju Gaogao” menggandeng tim eksternal berpengalaman, sementara Yang Guofu baru membuka satu gerai hotpot mini self-service di Qingdao untuk menguji respons pasar.

Lebih penting lagi, fokus persaingan telah bergeser. Bukan lagi perang harga murah, tapi kompetisi kualitas.

Sebelumnya, harga rata-rata self-service hotpot mini berkisar 20–30 RMB per orang. Kini, Haidilao dan Yang Guofu menetapkan harga 59,9 RMB dengan peningkatan kualitas bahan, langsung membidik segmen menengah-atas.

Sulitnya Menembus Pasar

Kehati-hatian dalam gelombang baru hotpot mini ini berakar pada satu kesepakatan industri: bisnis hotpot mini tidak mudah dijalankan.

Kesulitan ini berlaku bagi pemain premium maupun pemain berorientasi harga terjangkau.

Bagi pemain menengah-atas seperti Haidilao dan Yang Guofu, tantangan terbesarnya adalah menyeimbangkan pengendalian biaya dengan kesediaan konsumen membayar.

Untuk mempertahankan citra “premium”, investasi besar dibutuhkan pada bahan baku, desain interior, hingga layanan—yang semuanya mendorong biaya tinggi. Namun, basis pelanggan utama hotpot mini masih sensitif harga. Jika konsumen merasa harga 59,9 RMB tidak sebanding dengan nilai yang diterima, risiko jatuh ke situasi “biaya tinggi, pengembalian rendah” sangat besar.

Segmen harga sekitar 60 RMB pun sudah dihuni banyak merek hotpot tradisional yang kuat, sehingga persaingan makin ketat.

Sementara itu, pemain berorientasi harga terjangkau menghadapi risiko penurunan kualitas akibat perang harga. Demi menarik pelanggan, beberapa brand berani memasang spanduk “kaldu 19,9 RMB” atau “all-you-can-eat 29,9 RMB” di depan gerai. Namun, harga rendah berarti margin tipis, memaksa penurunan standar bahan baku, yang akhirnya menurunkan kualitas dan memicu spiral “harga rendah → kualitas turun → pelanggan hilang”.

Data Hongcan menunjukkan tekanan yang ada: hingga Juli 2024, 81,6% brand hotpot mini hanya memiliki lima gerai atau kurang, dan brand dengan lebih dari 100 gerai jumlahnya kurang dari 1%.

Bahkan Weila, salah satu sedikit brand hotpot mini dengan lebih dari 1.000 gerai, menghadapi dilema “besar di jumlah, lemah di pengaruh”, kesulitan menciptakan daya saing yang berbeda di pasar.

接著讀