2026年9月10日

Dari Rekrut Besar-besaran di OpenAI dan Google hingga Perekrutan Mendadak Dihentikan: Mengupas Tim Inti Meta MSL — 50% Talenta Tiongkok, 75% Bergelar Doktor Jadi Andalan

Pada pertengahan Agustus 2025, The Wall Street Journal mengungkap kabar mengejutkan: Meta, yang baru...

Pada pertengahan Agustus 2025, The Wall Street Journal mengungkap kabar mengejutkan: Meta, yang baru saja menyelesaikan perekrutan besar-besaran untuk memburu talenta AI kelas dunia, tiba-tiba menghentikan proses rekrutan di divisi kecerdasan buatannya. Tak lama setelah itu, mencuat pula kabar banyak pegawai yang memilih hengkang.

Langkah ini datang setelah periode penuh gejolak: perekrutan dengan tawaran gaji fantastis, restrukturisasi berulang di tim superintelligence, peralihan strategi model ke arah closed-source, hengkangnya anggota inti, kekacauan manajemen internal, hingga perseteruan dengan Scale AI. Strategi yang semula dimaksudkan untuk mengejar ketertinggalan dari OpenAI dan Google kini berbalik menjadi sumber masalah baru bagi Meta.

Kisah ini bermula pada Juni 2025 ketika Mark Zuckerberg menggelontorkan hampir USD 15 miliar untuk membeli 49% saham non-voting di Scale AI, mengamankan sekaligus data dan talenta terbaik. Pendiri Scale AI, Alexandr Wang, langsung didapuk memimpin Meta Superintelligence Labs (MSL), bekerja bersama para peneliti yang direkrut dari OpenAI, DeepMind, Anthropic, dan laboratorium AI papan atas lainnya. Zuckerberg sendiri yang turun tangan menghubungi kandidat melalui email dan WhatsApp, menawarkan bonus tanda tangan bernilai ratusan juta dolar; beberapa paket kompensasi bahkan mencapai USD 100 juta.

Strategi “bakar uang demi talenta” ini sempat mengangkat nama Meta sebagai pemain paling agresif di arena perebutan SDM AI global. Namun, hanya berselang dua bulan, pada Agustus Meta mengumumkan pembekuan rekrutmen di divisi AI dan melarang perpindahan internal ke unit tersebut. Meski disebut sebagai “perencanaan organisasi” untuk menstabilkan struktur dan menyelaraskan anggaran tahunan, langkah ini jelas merupakan penyesuaian strategi besar.

Situasi makin rumit ketika, hanya dalam hitungan minggu setelah pengumuman, euforia perekrutan MSL berubah jadi arus keluar pegawai. Financial Express melaporkan, Rishabh Agarwal keluar setelah lima bulan bergabung; setidaknya tiga peneliti kembali ke OpenAI. Dalam waktu kurang dari dua bulan sejak MSL berdiri, sedikitnya sembilan anggota — mulai dari veteran PyTorch hingga talenta muda Silicon Valley — meninggalkan Meta. Beberapa pegawai lama merasa terpinggirkan oleh tawaran fantastis untuk pegawai baru dan memilih keluar.

Di tengah dinamika ini, sosok Alexandr Wang menempati posisi sentral. Pengusaha muda berusia 28 tahun ini sukses membangun Scale AI menjadi penyedia layanan data labeling berkualitas tinggi untuk perusahaan AI ternama. Namun, gaya kepemimpinannya yang tegas dan latar belakang yang minim di penelitian AI memicu perdebatan. Dalam memo internal, Wang menyatakan bahkan Yann LeCun dan Nat Friedman harus melapor langsung kepadanya, dan kini kontrol publikasi FAIR pun ada di tangannya. Meski mendapat kritik, Zuckerberg memuji Wang sebagai “salah satu pendiri paling brilian di generasinya” dan mempercayakan padanya restrukturisasi MSL menjadi empat unit spesialis: riset superintelligence, produk & riset terapan, infrastruktur AI, serta riset fundamental jangka panjang.

MSL sendiri diisi jajaran nama besar: Nat Friedman (eks CEO GitHub), Daniel Gross (eks partner Y Combinator), Yann LeCun (pemenang Turing Award), Joel Pobar (ahli infrastruktur Meta), dan Mat Velloso (eks eksekutif Microsoft & Google DeepMind). Dari total 44 anggota per Juli 2025, 40% berasal dari OpenAI, 20% dari DeepMind, dan 15% dari Scale AI, dengan setengahnya merupakan talenta asal Tiongkok dan 75% bergelar doktor. Banyak di antaranya adalah pencipta model AI ternama seperti GPT-4o, Gemini, dan proyek LLM penting lainnya.

Namun, di balik perekrutan gemilang, masalah struktural tetap membayangi. Morgan Stanley memperingatkan bahwa kompensasi berbasis saham yang sangat tinggi dapat menggerus nilai bagi pemegang saham bila tak diiringi inovasi nyata. Laporan MIT juga menyebut 95% proyek AI generatif gagal menghasilkan keuntungan cepat, menambah skeptisisme pasar.

Meta pun merombak divisi AI menjadi empat pilar: TBD Lab yang dipimpin Wang (rancang superintelligence), AI Products & Applied Research di bawah Friedman (komersialisasi riset), MSL Infra dipimpin Aparna Ramani (pembangunan infrastruktur AI), dan FAIR yang tetap di bawah LeCun (riset fundamental). Tujuannya: mengintegrasikan talenta mahal ini ke dalam mesin inovasi yang efektif, berpindah dari fase ekspansi menuju optimalisasi.

Meski rekrutmen besar dibekukan, pengecualian masih diberikan untuk peran strategis. Frank Chu, eks pimpinan AI di Apple untuk infrastruktur cloud, pelatihan, dan pencarian, masuk ke MSL Infra atas persetujuan langsung Wang. Namun, kurang dari dua bulan sejak berdiri, MSL kehilangan sejumlah nama penting, termasuk eksekutif Scale AI Ruben Mayer dan peneliti OpenAI Avi Verma yang mundur sebelum mulai bekerja. Pegawai lama seperti Chaya Nayak dan Loredana Crisan pun hengkang karena perebutan sumber daya dengan tim baru.

Di lapangan, gesekan budaya dan perebutan akses komputasi kian terasa. Pegawai baru kecewa dengan birokrasi Meta, sementara data dari Scale AI dikritik kualitasnya yang kurang memadai untuk model-model AI tingkat lanjut. Beberapa sumber internal bahkan menyebut MSL tengah mempertimbangkan penggunaan Google Gemini atau model OpenAI untuk menutup celah kinerja Meta AI.

Pertanyaan besarnya kini: apakah tim elit ini mampu memulihkan stabilitas, menghadirkan terobosan, dan membawa Meta ke garis depan perlombaan superintelligence, atau justru menjadi pelajaran mahal dalam sejarah industri AI?

接著讀

Macron: Trump Akhirnya Sadar Kebohongan Putin, Desak Sanksi Lebih Keras

Pada 25 Mei, Rusia melancarkan serangan besar-besaran dengan rudal dan drone ke Kyiv dan beberapa wilayah Ukraina lainnya, menewaskan sedikitnya 12 orang. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengutuk tindakan Putin, menyatakan kemarahan, dan mempertimbangkan sanksi tambahan. Dalam kunjungannya ke Vietnam, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa Trump akhirnya menyadari bahwa Putin telah berbohong, dan mendesaknya untuk mengubah kemarahannya menjadi tindakan konkret guna mendorong sanksi yang lebih keras terhadap Rusia. Macron juga menyerukan penetapan tenggat waktu akhir, dan jika Putin terus melanjutkan agresinya, harus ada langkah balasan yang lebih keras. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan beberapa pejabat lainnya kembali menegaskan bahwa serangan Rusia adalah kejahatan perang dan mendesak komunitas internasional untuk tidak diam.

471 天前