2026年9月10日

Pertaruhan dan Jamuan Meja Makan Para Taipan Terkaya Tiongkok

Meituan, Alibaba, dan JD.com telah menggelontorkan dana gabungan lebih dari seribu miliar yuan untuk...

Meituan, Alibaba, dan JD.com telah menggelontorkan dana gabungan lebih dari seribu miliar yuan untuk menguasai pasar ritel instan. Namun, meski uang sudah terbakar begitu besar, peta baru industri ini belum benar-benar terbentuk. Yang lebih cepat merasakan dampaknya justru pusat perbelanjaan di seluruh negeri, yang kini mencium aroma persaingan kian sengit. Pada tahun 2012, Wang Jianlin dan Jack Ma pernah membuat taruhan terkenal: dalam sepuluh tahun, apakah e-commerce bisa menguasai lebih dari 50% pangsa pasar ritel Tiongkok? Data Biro Statistik Nasional menunjukkan, hingga 2022, penjualan online barang fisik mencapai 12 triliun yuan, hanya 27% dari total ritel sosial. Secara angka, Jack Ma kalah, tetapi kenyataannya, bisnis offline seperti Wang Jianlin dan Wanda harus habis-habisan menahan gempuran e-commerce—hingga tak merasa benar-benar menjadi pemenang. Taruhan 2012 itu masih membekas, tetapi “jamuan makan” tahun 2025 tampaknya membawa dampak yang lebih besar. Saat makan bersama Wang Xing dari Meituan, Liu Qiangdong dari JD.com secara resmi mengumumkan langkah ke ritel instan. Tak lama setelah itu, Alibaba pun masuk dengan investasi besar-besaran. Dua kali dipanggil regulator tak membuat api mereda, justru perang semakin membara. Meski hasil akhir belum jelas, pusat perbelanjaan sudah langsung terguncang. Seorang operator mal besar yang mengelola sekitar seratus pusat perbelanjaan di seluruh negeri menyebutkan, dalam beberapa bulan terakhir efek perang ritel instan terasa sangat nyata. Alasannya sederhana: subsidi besar-besaran ritel instan mayoritas mengalir ke makanan dan minuman. Bagi konsumen yang tidak terlalu peduli dengan “citarasa asap wajan”, lebih nyaman berburu diskon online ketimbang kepanasan datang langsung ke restoran di pusat perbelanjaan. Padahal, bagi mal, restoran adalah mesin utama penarik pengunjung, dengan porsi ruang hampir setengah total area. Perubahan arus konsumen ini jelas menjadi alarm serius. Ironisnya, memperbesar area F&B justru dulu menjadi strategi bertahan setelah hantaman e-commerce di 2012. Kala itu, dampak terbesar terjadi pada penjualan barang standar: banyak supermarket dan department store tutup atau berubah fungsi, sementara mal menambah area pengalaman dan restoran, menyusutkan retail hingga hanya 30%. Setiap meter persegi mal harus dirancang ulang: lantai bawah tanah dan lantai atas penuh dengan restoran yang berganti cepat; lantai dua dan tiga diisi fashion pria, wanita, anak-anak, serta olahraga, ditemani gerai teh dan elektronik; lantai satu yang dulu jadi panggung utama ZARA dan H&M kini dikuasai kosmetik, mainan tren, hingga showroom mobil listrik, ditemani atrium besar untuk event IP populer. Tingkat perputaran tenant mencapai 30%, artinya rata-rata setiap tiga tahun merek di satu mal berganti total. Kini terlihat dua tren jelas: anak muda lebih sering hanya berkeliaran di B1, sementara lantai dasar ditopang “empat pilar” utama—mainan tren, mobil listrik, outdoor, dan minuman teh. B1 bertahan lewat frekuensi tinggi dan transaksi kecil, sementara empat pilar di lantai dasar lebih menekankan pengalaman ketimbang sekadar belanja. Lantai atas yang dulu bisa dihidupkan dengan restoran kini semakin sulit menarik massa. Mengandalkan konsumen datang khusus hanya untuk satu restoran makin mustahil, apalagi dengan ritel instan yang kian merajalela. Pertanyaannya: jika restoran tidak lagi cukup kuat sebagai magnet, konsep apa yang bisa menggantikan sekaligus menyerap ruang besar di mal? Industri belum punya jawaban pasti. Namun tren baru mulai terlihat: konsumsi berbasis minat semakin naik daun. Dari olahraga outdoor, bersepeda, hingga budaya dua dimensi seperti Hanfu, Lolita, JK, dan produk anime; dari pameran komik, pertunjukan stand-up comedy, teater kecil, hingga konser musik urban—semuanya berpotensi hadir di pusat perbelanjaan dan terbukti bernilai komersial. Inilah hal-hal yang bahkan Liu Qiangdong, Wang Xing, dan Jack Ma sekalipun—meski dengan miliaran dana—tidak akan mampu tiru atau rebut secara online.

接著讀

Trump Sang “Presiden Bitcoin”: Kepemilikan BTC Senilai Rp13 Triliun Jadikannya Salah Satu Pemegang Terbesar Dunia

Dulu dikenal sebagai pengkritik kripto, Donald Trump kini diam-diam menjadi salah satu pemilik Bitcoin terbesar di dunia, dengan nilai kepemilikan sekitar $870 juta (Rp13 triliun). Kepemilikan ini diperoleh secara tidak langsung melalui perusahaan media miliknya, Trump Media & Technology Group (TMTG), yang baru-baru ini membeli Bitcoin senilai $2 miliar. Artikel ini mengulas bagaimana strategi media Trump berubah menjadi pertaruhan besar di dunia kripto.

332 天前