2026年9月10日

Drama Korea Tempest Picu Amarah di Tiongkok: Satu Dialog Memicu Gelombang Kontroversi

-

Serial spionase-romantis terbaru dari Disney+, Tempest, bukan hanya menuai perhatian di layar kaca, tetapi juga memicu badai protes di Tiongkok.

Dalam drama ini, aktris papan atas Korea Selatan, Jun Ji-hyun, berperan sebagai diplomat yang terjebak dalam konspirasi pembunuhan. Namun, satu dialog dari karakternya—“Mengapa Tiongkok lebih suka perang? Sebuah bom nuklir bisa jatuh di dekat perbatasan”—langsung memicu kemarahan warganet Tiongkok. Banyak yang menilai kalimat itu merendahkan citra Tiongkok, dan menyerukan agar merek-merek internasional segera memutus kontrak dengan Jun.

Kontroversi ini juga kembali memanaskan perdebatan tentang larangan tak resmi atas hiburan Korea di Tiongkok. Walau tidak pernah diakui secara formal, pembatasan K-content sejak 2016 dianggap sebagai bentuk protes Beijing atas keputusan Seoul menempatkan sistem pertahanan rudal AS, yang dilihat Tiongkok sebagai ancaman keamanan. Harapan pelonggaran sempat muncul belakangan ini, tetapi kasus Tempest seakan menghambat optimisme tersebut.

Di Weibo, kemarahan publik terlihat jelas. “Teruskan larangan drama Korea sampai mati, terima kasih,” tulis salah satu komentar yang mendapat lebih dari 10.000 tanda suka. Pengguna juga menyoroti detail lain yang dianggap menyinggung: adegan Kota Dalian yang digambarkan kumuh, dekorasi pesta yang mirip bendera Tiongkok, hingga pengucapan puisi klasik oleh Jun yang dianggap tidak fasih.

Sejumlah merek besar ikut terseret. Warganet mendapati La Mer, Louis Vuitton, dan Piaget telah menghapus konten terkait Jun dari akun resmi mereka. Tuntutan semakin keras: “Segera hentikan kontraknya secara global, kalau tidak kami akan memboikot LV selamanya,” tulis seorang pengguna di akun Weibo Louis Vuitton.

Agensi Jun menegaskan pada Selasa bahwa kampanye iklannya telah berakhir sebelum drama tayang, sehingga tidak ada kaitannya dengan Tempest. Namun, kasus ini menegaskan kembali kekuatan konsumen Tiongkok, yang kerap melancarkan kampanye boikot ketika merasa harga diri nasional dilecehkan. Sebelumnya, H&M, Uniqlo, hingga Swatch pernah jadi sasaran.

Sebagian warganet membela Jun dengan alasan bahwa ia hanyalah seorang aktris yang tidak menulis naskah, tetapi pendapat ini kalah oleh gelombang kritik. “Dia bukan aktor kecil. Dia bisa memilih naskah! Siapa yang bisa memaksa bintang besar melakukan ini?” ujar seorang pengguna.

Jun Ji-hyun pertama kali melambung lewat film komedi romantis My Sassy Girl (2001) dan terus mempertahankan pamornya lewat drama populer seperti My Love from the Star dan serial Netflix Kingdom. Namun, sama seperti artis Korea lainnya, ia nyaris absen dari panggung hiburan Tiongkok sejak larangan 2016. Awal tahun ini sempat muncul harapan akan pemulihan, ketika menteri luar negeri kedua negara sepakat menghidupkan kembali pertukaran budaya. Bahkan, grup hip-hop Homies sempat mencetak sejarah sebagai grup Korea pertama yang tampil di Tiongkok daratan dalam hampir satu dekade.

Namun, realitas masih rumit. Pada Mei lalu, konser grup K-pop Epex di Fuzhou dibatalkan, dan pertunjukan lain di Hainan ditunda. Meski juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok menegaskan bahwa negara itu tidak menolak “pertukaran budaya yang bermanfaat”, banyak ketidakpastian tetap membayangi.

Sementara itu, industri hiburan lokal Tiongkok berkembang pesat, cukup untuk menghibur 1,3 miliar penduduknya. Bagi banyak warganet Tiongkok, kontroversi Tempest hanya menambah alasan untuk menjauhi konten Korea. Seorang pengguna Weibo menulis dengan sinis: “Sudah 2025 dan kalian masih nonton drama Korea? Norak sekali!”

接著讀