2026年9月10日

Bos Pabrik Baterai di Korea Selatan Divonis 15 Tahun Penjara atas Kebakaran Maut

-

Dalam sebuah putusan bersejarah, pengadilan Korea Selatan menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara kepada CEO sebuah produsen baterai lithium setelah kebakaran pabrik tahun lalu menewaskan 23 orang.

Kebakaran terjadi pada Juni 2024 di pabrik Aricell di Hwaseong, sekitar 45 km selatan Seoul, menewaskan 23 pekerja—termasuk 18 tenaga kerja asing—dan melukai delapan lainnya. Pengadilan menyebut kebakaran itu sebagai “bencana yang sudah dapat diperkirakan,” dan menyatakan CEO Park Soon-kwan serta jajaran eksekutif bertanggung jawab langsung atas tragedi yang seharusnya bisa dicegah.

Hukuman ini menjadi yang terberat dalam sejarah penerapan undang-undang keselamatan industri Korea Selatan, yang mengatur hukuman minimal satu tahun penjara atau denda hingga 1 miliar won (sekitar Rp 11,7 miliar; $717.000; £530.000) bagi insiden kerja yang berakibat fatal.

Jaksa semula menuntut 20 tahun, dengan alasan bahwa eksekutif perusahaan mengubah tata letak pabrik sehingga menyulitkan pekerja untuk melarikan diri. Putra Park, yang juga eksekutif senior di Aricell, turut dijatuhi hukuman 15 tahun penjara serta denda 1 juta won.

Investigasi menemukan kelemahan serius dalam sistem keselamatan: pabrik tidak memiliki prosedur darurat memadai, dan para pekerja kurang mendapat pelatihan keselamatan. Saat kebakaran terjadi, lantai dua fasilitas tersebut menyimpan sekitar 35.000 sel baterai lithium untuk proses inspeksi dan pengemasan. Karena api lithium bereaksi hebat dengan air, petugas pemadam kebakaran harus menggunakan pasir kering, dan butuh waktu berjam-jam untuk mengendalikan api.

Meski CEO Park telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, ia tetap membantah adanya kelalaian keselamatan di pabrik. Namun, putusan pengadilan ini mengirimkan pesan keras: di negara di mana kecelakaan kerja masih sering terjadi, pimpinan perusahaan tak lagi bisa mengabaikan nyawa pekerja demi keuntungan.

Korea Selatan merupakan salah satu produsen baterai lithium terbesar di dunia, yang menjadi sumber tenaga utama bagi berbagai perangkat, mulai dari laptop hingga mobil listrik. Namun tragedi ini memicu desakan kuat untuk perubahan. Presiden Lee Jae-myung menegaskan bahwa perlindungan pekerja masih jauh dari memadai, dan berjanji memperberat sanksi bagi perusahaan yang terbukti lalai hingga menyebabkan kematian.

Kasus ini menjadi titik balik dalam lanskap keselamatan industri Korea Selatan—mendorong era baru di mana para pemimpin korporasi harus benar-benar bertanggung jawab atas keselamatan pekerja mereka.

接著讀