2026年9月10日

Raup 120 Miliar Yuan! Mantan Bintang Asing CSL Sindir Pemain China: “Sok Jadi Superstar, Padahal Tak Tahu Cara Bermain Sepak Bola”

Baru-baru ini, mantan gelandang tim nasional Brasil Hernanes kembali menjadi sorotan setelah memberi...

Baru-baru ini, mantan gelandang tim nasional Brasil Hernanes kembali menjadi sorotan setelah memberikan komentar tajam tentang pemain sepak bola Tiongkok dalam sebuah wawancara dengan media Brasil. Menurutnya, banyak pemain Tiongkok yang “merasa diri mereka superstar, padahal sebenarnya tidak tahu cara bermain sepak bola.” Pernyataan itu langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan penggemar dan media.

Hernanes, yang lahir pada tahun 1985 di Brasil, dikenal sebagai salah satu gelandang paling berbakat di masanya dan bahkan pernah dijuluki sebagai “Pirlo kedua” karena kemampuan teknik dan visi bermainnya yang luar biasa. Ia memulai karier profesional bersama São Paulo FC di liga Brasil, dan pada usia 22 tahun sudah menjadi motor utama di lini tengah klub tersebut. Berkat performa gemilangnya, ia kemudian hijrah ke Italia dan bermain untuk beberapa klub besar Serie A seperti Lazio, Inter Milan, dan Juventus. Nilai pasarnya bahkan pernah mencapai 18 juta euro di puncak kariernya.

Pada musim 2017, Hernanes resmi bergabung dengan Hebei China Fortune di Chinese Super League dengan nilai transfer 10 juta euro. Namun, perjalanannya di Tiongkok tidak berjalan mulus. Karena kesulitan beradaptasi, ia hanya bertahan selama enam bulan sebelum dipinjamkan kembali ke São Paulo. Ia sempat kembali ke Hebei, tetapi performanya tidak sesuai harapan — hanya mencetak 3 gol dari 13 pertandingan di musim 2018. Meski begitu, kontraknya sangat menggiurkan: dengan gaji 8 juta euro per tahun, ia mengantongi total 16 juta euro atau sekitar 1,2 miliar yuan dalam dua musim — menjadikannya salah satu pemain dengan bayaran tertinggi di liga.

Dalam wawancara tersebut, Hernanes berbicara tanpa basa-basi. Ia menilai bahwa para pemain Tiongkok menerima gaji yang sangat tinggi — bahkan lebih besar daripada banyak pemain Eropa — namun tidak memiliki profesionalisme dan kemampuan yang sepadan. “Mereka menganggap diri mereka bintang besar,” ujarnya, “padahal kenyataannya mereka masih jauh tertinggal.” Ia bahkan menyoroti masalah mendasar: “Ketika bola tidak diberikan sesuai kebiasaan mereka, mereka langsung bingung harus berbuat apa. Mereka hidup dalam bayangan popularitas semu dan enggan belajar hal baru.”

Meski terdengar keras, banyak yang mengakui bahwa kritik Hernanes mengandung kebenaran. Pada masa kejayaan CSL, ketika banyak pemain asing kelas dunia bermain di liga tersebut, seharusnya para pemain lokal bisa belajar dan berkembang. Namun yang terjadi justru sebaliknya — gaji terus meningkat, tetapi kualitas permainan menurun, dan performa tim nasional juga semakin terpuruk. Komentar Hernanes memang menyakitkan, tetapi tidak bisa dipungkiri: ia menyentuh titik lemah paling nyata dalam sepak bola Tiongkok.

Apakah kamu sependapat dengan pandangan Hernanes ini?

接著讀

Tiga kabar penting dari Guangdong!

Alasan sebenarnya Xu Jie tidak masuk tim nasional akhirnya terungkap, Du Feng kemungkinan besar menolak kembali melatih Timnas Tiongkok, dan Guangdong Southern Tigers resmi berangkat menuju turnamen klub.

282 天前