2026年9月12日

Lululemon dan Bisnis Pria: Bukan Salah Laki-Laki Semata

Laporan kuartalan terbaru Lululemon kembali mengecewakan pasar. Pertumbuhan pendapatan hanya satu di...

Laporan kuartalan terbaru Lululemon kembali mengecewakan pasar. Pertumbuhan pendapatan hanya satu digit, proyeksi setahun penuh kembali diturunkan, dan valuasi perusahaan sudah anjlok lebih dari 60% dari puncaknya.

Segmen pakaian wanita, dengan legging yoga ikonik sebagai andalan, masih bertahan. Namun lini pakaian pria — yang sebelumnya dianggap mesin pertumbuhan baru — justru mandek. Pada akhirnya, dompet pria memang lebih sulit dibuka.

🚩 Dari Puncak ke Penurunan

Tahun 2022, tim Olimpiade Kanada tampil di Beijing dengan seragam Lululemon, dan valuasi perusahaan sempat melampaui Adidas. Tapi momentum pertumbuhan sudah mulai melemah. Stok menumpuk, sementara pesaing baru seperti Alo Yoga dan Maia Active makin agresif.

Di atas kertas, bisnis Lululemon sangat bergantung pada pakaian wanita — hampir 90% pendapatan. Akuisisi perangkat kebugaran pintar Mirror senilai USD 500 juta hanya memberi kontribusi kecil, sementara bisnis sepatu hampir tak ada.

Bagi investor, segmen pria dan sepatu saat itu dipandang sebagai “tambang emas” yang belum digarap.

🚹 Sulitnya Menjual ke Pria

CEO Calvin McDonald pada 2019 berjanji melipatgandakan penjualan pria sebelum 2023 — target yang secara teknis tercapai. Bahkan pada 2021, penjualan pria sempat tumbuh lebih cepat daripada lini wanita.

Namun angka lebih detail menunjukkan kenyataan pahit: porsi pendapatan pria hanya naik tipis dari 23,5% menjadi 25,2% dalam lima tahun. Momentum pertumbuhan kini merosot, sehingga target “lipat ganda lagi pada 2026” tampak jauh dari realistis.

Strategi pun keliru arah. Pakaian wanita tumbuh karena ada gaya hidup jelas — yoga. Untuk pria, Lululemon memilih positioning “athleisure nyaman” dengan celana ABC yang bisa dipakai di segala situasi. Sayangnya, tanpa komunitas atau budaya yang jelas, strategi ini gagal menciptakan ikatan emosional.

Akhirnya, Lululemon kembali ke cara lama: kontrak atlet bintang. Mulai dari Lewis Hamilton hingga Frances Tiafoe. Biaya pemasaran melonjak, tapi kesadaran merek pria di AS hanya 13% — dan di pasar lain lebih rendah lagi.

Bisnis sepatu malah lebih buruk: peluncuran meriah, tapi cepat tenggelam. Mirror dihentikan, lini anak-anak ditutup, diversifikasi produk sejauh ini belum membuahkan hasil.

⏳ Kesempatan yang Terlewat

Pendiri Chip Wilson sejak lama menekankan: sukses Lululemon bukan semata karena “pakaian wanita,” melainkan yoga. Lewat inovasi teknis kain dan positioning gaya hidup, Lululemon menciptakan kategori baru — celana yoga.

Namun di lini pria dan sepatu, resep itu tak diulang. Perusahaan masuk terlalu cepat, tanpa diferensiasi jelas, sehingga mudah ditiru pesaing.

Lebih parah lagi, Lululemon gagal mengamankan akuisisi strategis. Wilson dulu mendorong membeli induk Arc’teryx dan pemasok kain Eclat, tapi ditolak dewan. Kini, perusahaan seperti Anta yang merebut aset tersebut — dan hasilnya luar biasa.

Sementara itu, Lululemon justru digugat Nike atas pelanggaran paten sepatu. Masuk ke pasar performa tinggi memang bukan tugas mudah.

🎭 Intinya

Ambisi Lululemon besar, tapi yang hilang adalah “momen celana yoga” berikutnya. Bisnis pria belum berhasil, sepatu tersandung, diversifikasi belum memberi hasil nyata.

Bagi investor, pertanyaannya sederhana: di luar celana yoga, apa yang benar-benar bisa jadi milik Lululemon?

接著讀