2026年9月10日

26 Juta Orang Menyaksikan Kalung AI Ini — Tapi Hasilnya Mengecewakan!

Setelah viral dan dilihat lebih dari 26 juta kali, kalung AI bernama “Friend” akhirnya dikirim ke pa...

Setelah viral dan dilihat lebih dari 26 juta kali, kalung AI bernama “Friend” akhirnya dikirim ke para pembeli.
Namun begitu paket dibuka, harapan berubah menjadi kekecewaan. Kalung yang diiklankan tampak elegan dan futuristik, ternyata terbuat dari plastik ringan. Pepatah lama belanja online pun terbukti lagi: “Gambar hanya untuk referensi, produk asli mungkin berbeda.”

Friend adalah kalung AI yang berfungsi sebagai teman digital. Penciptanya, Avi Schiffmann, menggambarkannya bukan sebagai asisten kerja, melainkan “mainan emosional”—teman yang bisa mendengarkan dan merespons, terinspirasi dari game klasik seperti Tamagotchi dan The Sims.

Dalam dua tahun terakhir, berbagai perangkat AI bermunculan. Friend tampil beda karena tidak berjanji menggantikan smartphone, melainkan menggantikan rasa sepi. Schiffmann bahkan menyebutnya sebagai solusi untuk “epidemi kesepian.”
Sayangnya, hasilnya jauh dari harapan.

😞 Bagaimana “Teman” Seharga $99 Ini Gagal Total

Friend berbentuk bulat pipih berdiameter sekitar 5 cm, dilengkapi mikrofon, lampu LED, dan koneksi Bluetooth ke ponsel. Didukung oleh model AI Gemini, perangkat ini awalnya dijual seharga $99 (sekarang $129) dengan klaim “bayar sekali, gunakan selamanya.”

Konsepnya terdengar menarik—tekan tombol untuk berbicara dengan AI, dan perangkat akan mendengarkan serta merespons.
Namun, tanpa speaker, semua respons hanya muncul dalam bentuk teks di aplikasi ponsel. Jadi “berbicara kapan pun” sebenarnya berarti “lihat layar ponsel.”

Daya tahan baterainya pun jauh dari janji. Dari yang diklaim 15 jam, kenyataannya hanya bertahan sekitar 4 jam.
Lebih parah lagi, mikrofon selalu aktif dan tidak bisa dimatikan, menimbulkan kekhawatiran soal privasi dan penyadapan data. Banyak pengguna merasa tidak nyaman.

Kinerjanya pun buruk—AI sering salah tangkap, terlambat merespons, bahkan kadang melawan pengguna. Salah satu pengulas mengaku AI-nya menjawab: “Kamu terlalu dramatis.”
Hasilnya: frustrasi, bukan kehangatan.

Pada akhirnya, Friend hanyalah aplikasi yang dikemas dalam bentuk perangkat keras—menjual “ilusi teman,” bukan kenyataan.

💡 Bisnis AI dan “Teman Digital”: Antara Kenyamanan dan Komoditas

Kita hidup di masa dengan koneksi terbanyak dalam sejarah, tapi juga kesepian paling mendalam.
Psikolog Sherry Turkle menyebut fenomena ini “Alone Together”—selalu online, tapi jarang benar-benar terhubung.

Perusahaan teknologi kini menjual bukan spesifikasi, tapi perasaan.
Ketika pasar ponsel dan gadget sudah jenuh, “emosi” menjadi komoditas baru.
Schiffmann memahaminya dengan baik: “Kami tidak membuat alat, kami membuat teman.” Ia bahkan membeli domain friend.com seharga 1,8 juta dolar.

Untuk promosi, Friend menggelontorkan lebih dari 1 juta dolar untuk iklan di New York Subway:
“Aku tidak akan mengghosting-mu.”
“Aku tidak akan lupa mencuci piring.”
Namun, iklan-iklan itu segera dicoret oleh warga dengan pesan:
“Berhenti menjual kesepian.”
“AI bukan temanmu.”
“Carilah teman sungguhan.”

Friend menawarkan “persahabatan tanpa risiko”: tidak ada penolakan, tidak ada konflik, tidak ada kejujuran yang menyakitkan.
Namun justru di situlah letak masalahnya—tanpa emosi manusia, tidak ada hubungan yang nyata.

Bayangkan jika suatu hari semua orang berjalan dengan Friend di lehernya, berbicara dengan AI, bukan dengan sesama manusia.
Mungkin saat itu, semua orang didengar, tapi tak seorang pun mendengarkan.

接著讀