2026年9月10日

Pengakuan Jujur Seorang Pramugari: Sering Dianggap Hanya Pelayan, Padahal Tugas Kami Jauh Lebih dari Itu

Semoga Kamu Selalu Mendarat dengan Selamat Hari ini, kisah inspiratif datang dari Jingshu, seorang p...

Semoga Kamu Selalu Mendarat dengan Selamat

Hari ini, kisah inspiratif datang dari Jingshu, seorang pramugari yang menceritakan sisi sebenarnya di balik senyum anggun dan seragam yang rapi. Di balik angka 19,13 juta penumpang yang diangkut selama libur panjang Hari Nasional dan Festival Pertengahan Musim Gugur 2025, terdapat ribuan penerbangan yang lepas landas dan mendarat setiap hari, jutaan perjalanan menuju rumah dan kepergian jauh, serta ribuan pekerja penerbangan yang tetap bertugas dengan tenang.

Bagi Jingshu, masa liburan bukan waktu istirahat, melainkan masa paling sibuk dalam setahun. Di balik profesi yang sering disalahpahami ini, ia pernah melewati pelatihan ketat di sekolah penerbangan, menghadapi keluhan dan salah paham dari penumpang, menikmati penghasilan yang layak, namun juga menanggung tekanan dan tanggung jawab besar yang tak terbayangkan. Pekerjaannya bukan hanya tentang membagikan makanan atau menata bagasi, tapi tentang menjaga keselamatan, martabat, dan profesionalisme, sambil menyeimbangkan karier dan kehidupan pribadi. Sementara publik ramai memperdebatkan seragam rok atau celana bagi pramugari, orang seperti Jingshu justru terus menulis kisah nyata mereka di ketinggian 30.000 kaki.

Sejak kecil, Jingshu sering mendengar orang berkata, “Kamu tinggi dan cantik, pasti cocok jadi pramugari!” Pada masa itu, profesi pramugari identik dengan kecantikan dan keanggunan — mimpi banyak gadis muda. Tapi keinginannya tumbuh dari hal yang lebih dalam. Ia pernah menonton acara Exchange Life, di mana anak-anak desa dan kota saling bertukar kehidupan selama sebulan. Melihat anak desa yang kesulitan beradaptasi di kota besar membuatnya tergerak. “Aku pikir kalau aku bisa jadi pramugari dan punya penghasilan, aku bisa bantu anak-anak seperti mereka,” kenangnya.

Namun ibunya menolak keras. “Itu pekerjaan yang cepat habis, nanti kalau sudah tua mau kerja apa?” katanya. Setelah lulus SMA, orang tuanya menyekolahkannya di jurusan akuntansi — pekerjaan yang dianggap “semakin tua semakin berharga.” Sayangnya, matematika adalah mata pelajaran yang paling ia takuti. Dua tahun kemudian, takdir berubah. Saat berjalan di jalanan kota, seseorang menawarinya brosur sekolah penerbangan. Ia langsung tahu: inilah jalannya.

Ayahnya mendukung penuh, ibunya akhirnya mengalah. Masuk sekolah penerbangan bukan hal mudah. Penampilan, postur, dan sikap semuanya diperhitungkan. Biaya tiga tahun mencapai lebih dari 100.000 yuan, jumlah besar kala itu. Tapi dengan susah payah, orang tuanya mampu membayar. Saat masuk sekolah, rasa minder menghampiri — terlalu banyak wajah tampan dan cantik. Namun segera ia sadar, penampilan hanyalah permukaan. Yang lebih penting adalah kemampuan dan ketangguhan. Ia belajar etika, tata rias, pertolongan pertama, bela diri, hingga Wing Chun. Setiap pagi harus ikut latihan fisik, bahkan pelajaran matematika yang ia takuti pun tetap ada. Tapi dibanding akuntansi, semuanya terasa lebih hidup dan menyenangkan.

Di tahun kedua, para siswa bisa langsung melamar ke maskapai penerbangan. Jingshu berhasil lolos dan diterima di maskapai besar. Namun sebelum benar-benar terbang, ia harus menjalani pelatihan intensif untuk mendapatkan lisensi terbang. “Kalau sekolah penerbangan mengajarkan cara terlihat seperti pramugari, pelatihan maskapai mengajarkan arti sebenarnya menjadi pramugari,” katanya.

Ia belajar menghadapi berbagai situasi tanpa panduan — penumpang marah, makanan yang tak disukai, hingga keterlambatan penerbangan. Prinsip “penumpang adalah prioritas utama” selalu diingatkan, membuatnya belajar menahan emosi dan tetap tersenyum di tengah tekanan. “Itu bukan kelemahan,” ujarnya, “itu profesionalisme.” Kadang ada penumpang yang melanggar aturan atau bersikap berlebihan, tapi bagi Jingshu, batasan paling penting adalah keamanan makanan dan keselamatan penumpang. “Kalau ada yang berani melanggar area kerja kami, aku akan berdiri tegak mempertahankan tugas.”

Namun kejadian ekstrem seperti itu jarang terjadi. Lebih sering ia menghadapi hal-hal kecil: penumpang yang mengeluh makanan tidak enak, bagasi terlalu berat, atau pelayanan dianggap lambat. “Sebenarnya banyak penumpang hanya butuh dihargai perasaannya,” katanya sambil tersenyum. “Sedikit pengertian dan permintaan maaf bisa menyelesaikan banyak hal.” Kadang ada juga yang menggoda, meminta kontak pribadi, bahkan terang-terangan menyatakan suka. Ia sudah terbiasa menangkis dengan santai. “Aku bilang aku sudah menikah dan punya sepuluh anak,” ceritanya sambil tertawa.

Pendapat bahwa pramugari hanya “pelayan udara” juga sering ia dengar, namun bagi Jingshu, hal itu jauh dari kenyataan. Dalam peraturan resmi Otoritas Penerbangan Sipil Tiongkok disebutkan, “Pramugari adalah bagian dari personel keselamatan penerbangan, dengan tanggung jawab utama menjaga keamanan kabin.” Mereka tidak hanya menyajikan makanan, tapi juga bertugas memastikan sabuk pengaman terpasang, mengawasi aktivitas penumpang, dan siap menghadapi segala kondisi darurat. “Kalau kamu pikir pekerjaan kami hanya membagikan makanan, berarti kamu sangat beruntung — karena penerbanganmu selalu lancar,” ujarnya dengan tawa ringan.

Beberapa waktu lalu, seorang komedian yang dulu bekerja di industri penerbangan sempat viral karena menyarankan agar seragam pramugari diganti dari rok menjadi celana agar lebih aman dan praktis. Banyak penumpang mendukung dengan menulis komentar di kartu saran. Tapi bagi Jingshu, perdebatan itu tak begitu penting. “Seragam adalah bagian dari pekerjaan. Rok atau celana, aku tidak masalah,” ujarnya. “Kalau benar-benar ingin menyampaikan masukan, langsung hubungi call center maskapai — lebih cepat daripada isi kartu saran.”

Di antara semua pengalaman di udara, satu momen paling berkesan bagi Jingshu adalah ketika seorang penumpang muda menyelipkan surat ucapan terima kasih di sela tirai kabin. “Saat itu semua lelahku langsung hilang,” katanya tersenyum. Suaminya sendiri adalah seorang pilot. Mereka disebut “keluarga terbang ganda”. Setelah memiliki anak, mereka harus memilih — siapa yang akan tetap terbang dan siapa yang di rumah. Beruntung orang tua membantu menjaga anak, sehingga Jingshu bisa kembali bekerja setelah enam bulan. “Dalam keluarga seperti kami, tak ada keseimbangan yang sempurna. Hanya pilihan.”

Banyak rekan perempuan akhirnya berhenti terbang demi keluarga, pindah ke pekerjaan darat atau bahkan menjadi ibu rumah tangga. Tapi Jingshu tak ingin menyerah. Ia kini sedang mempersiapkan ujian untuk menjadi pramugari kelas satu — langkah menuju posisi kepala awak kabin. “Awalnya aku memilih profesi ini untuk mencari penghasilan, tapi sekarang ini sudah menjadi panggilan hati.”

Jika bisa berbicara dengan dirinya yang masih remaja, ia akan berkata, “Mimpi kita sudah tercapai.” Kini ia rutin berdonasi untuk program anak-anak, sebuah janji yang ia buat untuk dirinya sendiri dulu. Di rumah, surat ucapan terima kasih dan sertifikat donasinya disimpan rapi di laci. “Suatu hari nanti aku akan menunjukkan semuanya ke anakku, dan bilang — ketika kamu dewasa, bantu juga orang lain semampumu.”

Selama 15 tahun terakhir, jumlah penumpang udara Tiongkok melonjak dari 268 juta menjadi 665 juta. Penerbangan kini menjadi hal biasa, dan industri ini pun semakin inklusif — merekrut awak dengan usia, bentuk tubuh, dan gender beragam, serta memperlonggar aturan soal penampilan. Jingshu telah menyaksikan bagaimana profesi pramugari perlahan berubah: dari simbol kecantikan menjadi simbol profesionalisme. “Mungkin penumpang tak akan ingat namaku,” ujarnya lembut, “tapi jika mereka merasa aman dan nyaman selama penerbangan, bagiku itu sudah cukup.”

(Nama telah disamarkan atas permintaan narasumber)

接著讀