2026年9月12日

Mengupas Laporan Q3 Industri Otomotif Global: Raksasa Barat Melemah, Produsen China Tetap Kokoh

Sumber: LieyunwangMenjelang berakhirnya tahun 2025, industri otomotif global sedang memasuki fase pe...

Sumber: Lieyunwang
Menjelang berakhirnya tahun 2025, industri otomotif global sedang memasuki fase penyesuaian yang sangat menantang. Laporan kinerja kuartal ketiga menunjukkan adanya pelemahan pertumbuhan pada hampir semua raksasa otomotif internasional.

Data penjualan memperlihatkan bahwa keunggulan pertumbuhan stabil yang selama bertahun-tahun dipegang oleh merek otomotif asing tradisional kini mulai pudar, bahkan beberapa di antaranya mencatatkan angka negatif. Meski Toyota, Volkswagen, dan Hyundai masih menunjukkan pertumbuhan yang relatif stabil, perusahaan seperti Stellantis, Honda, dan Mercedes-Benz mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Sebaliknya, produsen mobil utama dari Tiongkok menunjukkan daya tahan dan ketangguhan pertumbuhan yang sangat mencolok. Angka penjualan terus melaju positif, dengan BYD, SAIC, Geely Holding, Chery, dan XPeng semuanya mencatat pertumbuhan dua digit atau lebih. Menariknya, BYD berhasil mencapai penjualan 3,26 juta unit dalam tiga kuartal pertama, memasuki deretan lima besar dunia hanya terpaut 50.000 unit dari Ford—sebuah bukti nyata dari daya saing BYD yang semakin menguat di pasar global.

Dari sisi pendapatan, jurang perbedaan antara produsen Tiongkok dan luar negeri semakin terlihat jelas. Selama periode Januari hingga September, perusahaan otomotif besar Tiongkok seperti BYD, Geely Holding, dan Chery membukukan pertumbuhan pendapatan dua digit. Sementara itu, sebagian besar raksasa otomotif Barat hanya mencatat pertumbuhan satu digit, bahkan Stellantis, Mercedes-Benz, BMW, dan Tesla mengalami kontraksi pendapatan.

Dalam hal profitabilitas, kondisinya serupa. Dipengaruhi oleh kebijakan tarif AS serta penurunan penjualan di pasar Tiongkok, banyak produsen mobil asing mengalami penurunan laba bersih yang sangat besar. Mercedes-Benz, Volkswagen, dan Honda mengalami penurunan lebih dari 50%, sementara Toyota—yang biasanya mencetak laba global tertinggi—turun sebesar 16%. Di sisi lain, perusahaan Tiongkok seperti BYD dan Chery justru mencatatkan laba lebih dari 10 miliar RMB pada tiga kuartal pertama, menunjukkan ketahanan finansial yang jauh lebih tangguh.

Secara keseluruhan, perbedaan kinerja ini sangat mencolok: produsen Tiongkok bergerak dengan langkah stabil dan agresif untuk mempersempit jarak dengan raksasa otomotif tradisional dari Barat, menciptakan tren jelas yang dapat digambarkan sebagai “Timur naik, Barat melemah”.

Di balik kesenjangan ini, terdapat faktor penting yang menjadi pendorong utama: investasi berkelanjutan dari perusahaan Tiongkok dalam penelitian dan pengembangan untuk transformasi kendaraan cerdas dan elektrifikasi. Laporan kuartal ketiga menunjukkan bahwa peningkatan belanja R&D produsen Tiongkok secara umum lebih tinggi dari rekan global mereka, sebagian besar mencatat pertumbuhan dua digit. BYD bahkan menginvestasikan 43,7 miliar RMB, naik 31% dari tahun sebelumnya. Sebaliknya, tekanan profitabilitas global membuat produsen luar negeri seperti Volkswagen dan BMW justru menurunkan belanja R&D masing-masing sebesar 9% dan 15%.

Ketika raksasa otomotif global menghadapi kesulitan dalam melakukan “putaran besar” pada sistem bisnis lama mereka, produsen Tiongkok justru memasuki momentum emas untuk mendobrak struktur pasar tradisional. Ke depan, pertanyaannya adalah: mampu kah merek Tiongkok memanfaatkan jendela waktu ini untuk memperkuat dominasi teknologi, daya tarik produk, dan pengaruh global—hingga akhirnya memimpin persaingan otomotif dunia?

接著讀