2026年9月10日

AI Model Suara Berskala Besar Hadir di Dunia Otomotif

Seiring gelombang inteligensi yang kian menyapu industri otomotif, semakin banyak produsen mobil mem...

Seiring gelombang inteligensi yang kian menyapu industri otomotif, semakin banyak produsen mobil memilih CES sebagai panggung teknologi utama untuk menampilkan ambisi dan inovasi mereka. Padatnya peluncuran teknologi otomotif di ajang ini bahkan membuat CES kerap dijuluki sebagai “pameran mobil terbesar kedua di Amerika”.

Di CES, perusahaan teknologi seperti NVIDIA, LG Electronics, dan Bosch ramai-ramai memamerkan platform otomotif berbasis large model serta solusi kokpit AI. NVIDIA memperkenalkan model berpikir dan bernalar Alpamayo, yang disebut akan debut pada Mercedes-Benz CLA model tahun 2025. Sementara itu, BMW mengumumkan langkahnya menuju platform kendaraan generasi baru, dengan fokus pada asisten personal cerdas serta teknologi eDrive generasi keenam yang telah ditingkatkan.

Geely Galaxy M9 juga mencuri perhatian di CES dengan membawa kemampuan end-to-end voice large model Step-Audio2 dari StepFun (階躍星辰). Asisten AI berbahasa Inggris di dalam kabin diposisikan sebagai sistem interaksi kendaraan pertama di industri yang mengusung end-to-end voice large model, sehingga menarik minat pengunjung dan membuat banyak orang rela mengantre untuk mencoba langsung.

Di stan Geely, pengunjung tampak berbaris untuk merasakan pengalaman interaksi kokpit cerdas Galaxy M9.

Wakil Presiden StepFun, Li Jing, mengatakan kepada Sci-Tech Innovation Board Daily bahwa jika 2025 adalah tahun pertama “large model masuk ke mobil”, maka 2026 berpeluang menghadirkan lebih banyak solusi kokpit cerdas yang lengkap dan terintegrasi. Bahkan, ia menilai kemampuan “Agent” tingkat pintu masuk (智慧體)—sebagai agen/asisten cerdas—berpotensi memasuki fase produksi massal dan penerapan skala besar di dalam kabin kendaraan.

End-to-End Voice Large Model Masuk Mobil, Titik Balik Kokpit Cerdas Kian Dekat

Pendiri Li Auto, Li Xiang, pernah menyatakan secara terbuka bahwa “AI adalah segalanya bagi masa depan Li Auto.” Kini, persaingan di pasar otomotif memang sudah beralih penuh menuju adu kecerdasan. Di 2026, teknologi otomotif diprediksi akan semakin fokus pada rekonstruksi “ruang ketiga” yang cerdas—di mana mobil bukan lagi sekadar alat transportasi, melainkan kantor bergerak, pusat hiburan, dan perpanjangan dari ekosistem rumah pintar.

Kokpit cerdas yang ditenagai large model dipandang sebagai bentuk produk generasi berikutnya. Ada dua penggerak utama: pabrikan otomotif terdepan dan penyedia model dasar (foundation model). Perusahaan large model seperti ByteDance dan StepFun pun aktif mengeksplorasi peluang ini.

Dalam konteks tersebut, large model Doubao milik ByteDance telah menjalin kerja sama dengan banyak merek otomotif, termasuk Mercedes-Benz, SAIC Audi, SAIC Roewe, Changan Mazda, hingga Dongfeng eπ, dan lainnya.

Sementara itu, model kolaborasi StepFun–Geely yang dipamerkan di CES—Geely Galaxy M9—disebut sudah lebih dulu memasuki tahap produksi massal. Dalam empat bulan sejak peluncuran, kendaraan ini dilaporkan telah terjual sekitar 40.000 unit.

Li Jing menekankan bahwa seiring sistem bantuan mengemudi (smart driving) semakin matang, peran kokpit akan menjadi semakin krusial. Ia menjelaskan, end-to-end voice large model StepFun menawarkan pengalaman yang berbeda dari sistem perintah suara mobil generasi sebelumnya: mampu memahami emosi pengguna, memiliki “kecerdasan sosial” (EQ), menyimpan memori, mengubah karakter suara kapan saja, bahkan dapat berperan seperti pemandu yang natural—mengalir dari topik Korea hingga Las Vegas dengan konteks yang tetap nyambung.

Di lokasi CES, pengunjung mancanegara terlihat mencoba langsung interaksi kokpit cerdas Geely Galaxy M9.

“Sejak 2025, large model memengaruhi pengalaman di dalam mobil dengan sangat cepat,” ujar Li. “Asisten cerdas kini bisa menerima perintah secara lebih terbuka, memiliki memori, mendukung banyak bahasa, bahkan memberikan respons emosional sesuai kondisi pengguna. Ia berevolusi dari asisten suara yang kaku menjadi pendamping di dalam kabin. Sebagai ruang hidup ketiga, potensi kokpit saat ini masih jauh dari tergali—dan kokpit merupakan terminal yang secara alami sangat cocok untuk menghadirkan produk Agent ‘super assistant’.”

2026: Kemampuan AI yang Lebih Sistemik Akan Muncul

Tahun 2025 dianggap sebagai “tahun pertama” large model masuk ke kendaraan. Setelah satu tahun iterasi cepat, penerapan large model oleh pabrikan pun mulai bergeser: dari sekadar uji coba yang terburu-buru menuju fase eksplorasi integrasi yang lebih dalam.

Pada 2026, peran mobil menjadi makin jelas: kokpit cerdas harus menopang fungsi gabungan—hiburan, pekerjaan, hingga interaksi sosial—dan interaksi bahasa alami perlahan menggantikan antarmuka manusia–mesin tradisional.

“Di 2025, yang terlihat lebih banyak adalah demonstrasi kemampuan per komponen (atomic capability). Di 2026, kami memperkirakan akan lahir lebih banyak solusi kokpit cerdas yang lengkap, misalnya Agent tingkat pintu masuk yang sangat mungkin muncul tahun ini,” kata Li Jing. “Dari memori yang personal, eksekusi yang proaktif, pengalaman layanan konten, hingga Agent yang benar-benar memahami Anda—solusi end-to-end ini akan digunakan pada model produksi massal yang jelas, dan progres penerapannya bisa jadi lebih cepat dibanding ponsel atau terminal lain.”

Pandangan serupa juga disampaikan Du Fang, Product Director di PATEO, yang meyakini AI akan menjadi kemampuan native pada sistem operasi (OS).

“Saat ini, banyak fungsi AI di dalam kokpit masih bergantung pada komputasi cloud, tetapi arah paling penting ke depan adalah AI dengan kolaborasi perangkat–cloud (端雲協同),” jelasnya. “Mengintegrasikan AI secara mendalam ke lapisan OS bukan hanya fondasi utama kecerdasan kendaraan, tetapi juga inti komputasi untuk menyatukan pengalaman lintas domain—kokpit, smart driving, hingga chassis.”

Du Fang memaparkan arsitektur berlapis: ke bawah, AI perlu tertanam hingga fondasi OS; ke atas, AI perlu berkembang hingga ekosistem Agent berbasis cloud. Modul yang disebut mencakup AI suara offline, VLM sisi perangkat (on-device), memori sisi perangkat, Agent sisi perangkat, serta pusat orkestrasi cloud, memori cloud, dan Agent cloud.

Tantangan Edge–Cloud dan Ekosistem Masih Perlu Dipecahkan

Meski tren menguat, pengalaman large model di industri masih sangat beragam. Sumber daya juga cenderung lebih terkonsentrasi pada smart driving, sementara large model untuk kokpit masih kurang dipoles dari sisi skenario dan pendalaman fungsi.

Li Jing menilai peningkatan pengalaman kokpit sering kali menuntut perombakan total sistem yang sudah ada—sesuatu yang membuat tiap pabrikan bergerak sangat hati-hati. “Beralih dari pendekatan tradisional menuju penggerak berbasis large model bukan hanya soal pengalaman harus lebih baik, tetapi juga harus membuktikan kapabilitasnya benar-benar stabil dan dapat diandalkan,” ujarnya.

Di sisi lain, kolaborasi edge–cloud telah menjadi medan utama pengembangan kokpit cerdas. Large model di sisi perangkat mampu menutup kelemahan pendekatan cloud-only—baik dari sisi biaya, ketergantungan jaringan, maupun privasi data. “Saat ini, sebagian besar model masih berjalan di cloud. Bagaimana merancang edge–cloud collaboration yang tepat adalah tantangan besar, terutama karena kemampuan komputasi chip di sisi perangkat akan langsung menentukan skala model dan kecocokan skenario,” kata Li.

Selain itu, jika large model ingin benar-benar membentuk ulang ekosistem aplikasi otomotif, kemampuan untuk menarik lebih banyak mitra industri dan pengembang juga menjadi faktor kunci.

“Munculnya interaksi berbasis Agent akan mengubah bentuk layanan secara signifikan—bahkan bisa menjadi rekonstruksi pengalaman konsumen dan model bisnis, sekaligus mengubah cara layanan didistribusikan,” ujar Li. “Ketika Agent menjadi asisten yang lebih memahami Anda, rekomendasi layanan—misalnya memilih penerbangan dan rentang harga—akan semakin banyak diserahkan kepada Agent.”

Dulu, multi-touch pada iPhone dan ekosistem aplikasi (App) mendefinisikan ulang pengalaman pengguna, mendorong ponsel menuju era cerdas, dan mempercepat ledakan industri internet seluler. Ke depan, Agent yang didorong large model beserta sistem operasinya juga perlu membangun jaringan distribusi dan ekosistem yang matang, agar mampu mendorong transformasi inteligensi otomotif sekaligus melahirkan model bisnis yang benar-benar baru.

接著讀

The Guardian: Sepak Bola Jepang Diakui Eropa — Mengapa Klub Premier League Kini Memburu Talenta Jepang

Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang telah menjelma menjadi kekuatan baru dalam sepak bola dunia. Selain tim nasionalnya yang terus menunjukkan performa luar biasa, kini semakin banyak pemain Jepang tampil gemilang di liga Inggris, menarik perhatian luas dari dunia sepak bola Eropa. Media Inggris The Guardian pun membahas secara mendalam mengapa klub-klub Inggris mulai fokus merekrut pemain dari Asia, terutama Jepang.

406 天前