2026年9月10日

Sony Bersatu dengan TCL: Era Emas Elektronik Jepang Berakhir

TV Sony seharga lebih dari 10.000 yuan pernah menjadi simbol status dan kualitas bagi rumah tangga C...

TV Sony seharga lebih dari 10.000 yuan pernah menjadi simbol status dan kualitas bagi rumah tangga China. Kini, raksasa Jepang tersebut menyerahkan bisnis hiburan rumah tangga kepada perusahaan China—TCL.

Pada 20 Januari 2026, TCL Electronics mengumumkan di Bursa Hong Kong bahwa mereka menandatangani nota kesepahaman dengan Sony untuk membentuk perusahaan patungan. Perusahaan baru ini akan menjalankan bisnis TV dan audio rumah secara global dalam model terpadu. Dengan kepemilikan TCL 51% dan Sony 49%, nasib TV Sony yang legendaris kini berada di tangan perusahaan China.

Kebangkitan dan Kemunduran Sony

Pada 1980-an dan 1990-an, merek TV Jepang seperti Sony, Panasonic, Toshiba, dan Sharp mendominasi pasar China. Teknologi Trinitron Sony menjadi standar kualitas gambar, dan TV 29 inci dengan harga di atas 10.000 yuan sangat diminati. Label “Made in Japan” menciptakan premium yang bertahan lama, memberikan loyalitas merek selama lebih dari satu dekade.

Namun, awal 2000-an, merek lokal China seperti TCL, Hisense, dan Changhong mulai bangkit, memanfaatkan biaya rendah untuk merebut pangsa pasar. Pada 2010-an, penyebaran smartphone dan tablet melemahkan peran TV di hiburan rumah. Sony yang tetap mempertahankan posisi premium mulai kehilangan relevansi di pasar, diperparah oleh keluhan konsumen tentang keandalan produk.

Kolaborasi Strategis: TCL dan Sony

Joint venture ini memadukan “efisiensi China” dengan ekosistem warisan Sony. Sony menyumbang reputasi merek dan teknologi, sementara TCL menyediakan manufaktur efisien, kontrol biaya, dan distribusi global. Dengan kepemilikan 51%, TCL memegang kendali strategis atas seluruh rantai nilai mulai dari desain produk hingga penjualan global.

Sony mempertahankan 49% untuk tetap terlibat dan memanfaatkan keunggulan biaya dan rantai pasok TCL, sementara TCL mengamankan kendali sekaligus mengakses teknologi dan merek Sony. Kolaborasi ini menandai pergeseran kekuatan signifikan di industri elektronik konsumen global—merek legasi Jepang kini bergantung pada perusahaan China untuk bertahan di pasar.

Kebangkitan Manufaktur China

Sejak perang harga TV “Black March” 1996, merek China menantang dominasi asing. Hisense mengembangkan chip “Xinchip” milik sendiri, dan TCL berinvestasi di lini panel LCD CSOT, menguasai teknologi inti. Pada 2025, merek China memimpin pasar TV global: TCL, Hisense, dan Xiaomi menguasai 31,3% pengiriman global, mengungguli Samsung dan LG di 28,4%.

Inovasi teknologi dan respons pasar membuat perusahaan China naik dari “pengikut harga” menjadi pemimpin teknologi global. Kemitraan Sony-TCL adalah bab terbaru dari pergantian kekuatan industri ini.

接著讀