2026年9月10日

Perbandingan Jepang dan Korea di Piala Asia U-23: Media Korea Akui Realitas yang Tak Terbantahkan

Final Piala Asia U-23 AFC 2026 yang digelar di Arab Saudi berakhir dengan kemenangan telak 4-0 bagi ...

Final Piala Asia U-23 AFC 2026 yang digelar di Arab Saudi berakhir dengan kemenangan telak 4-0 bagi tim U-23 Jepang atas China. Hasil ini membawa Jepang mencatat sejarah sebagai tim pertama yang berhasil mempertahankan gelar, sekaligus menegaskan dominasi mereka di level sepak bola usia muda Asia.

Media Korea Selatan Sports Chosun langsung menyoroti hasil tersebut dengan membandingkan Jepang dan Korea Selatan. Dalam artikelnya, media tersebut menulis dengan nada getir: “Sebuah kenyataan yang tidak ingin kami akui, namun tidak bisa dihindari: Jepang adalah yang terkuat di Asia.” Mereka menilai bahwa sepak bola Korea kini tak lagi menjadi pemeran utama dan membutuhkan reformasi besar-besaran.

Pada laga final, Jepang tampil sangat dominan sejak awal. Gelandang Okuni Tomohiro membuka skor pada menit ke-12, mematahkan rekor nirbobol China sepanjang turnamen. Menit ke-20, Ogura Yukinari mencetak gol spektakuler dari jarak jauh untuk membawa Jepang unggul 2-0.
Di babak kedua, Sato Ryunosuke sukses mengeksekusi penalti pada menit ke-57, sebelum Ogura kembali mencetak gol pada menit ke-76 untuk mengunci kemenangan 4-0.

Dengan hasil ini, Jepang meraih gelar Piala Asia U-23 ketiga mereka—terbanyak sepanjang sejarah—serta menjadi tim pertama yang berhasil mempertahankan gelar juara. Sepanjang turnamen, Jepang mencetak 16 gol dan hanya kebobolan satu kali, termasuk kemenangan 1-0 atas Korea Selatan di semifinal.

Sports Chosun juga menyoroti performa China yang dipimpin pelatih Antonio Puche. Meski untuk pertama kalinya melaju ke final dan mencatat lima laga tanpa kebobolan, pertahanan China runtuh menghadapi kualitas dan organisasi permainan Jepang.

Sebaliknya, Korea Selatan harus puas di peringkat keempat setelah kalah adu penalti dari Vietnam pada laga perebutan tempat ketiga. Pelatih Lee Min-seong menyebut timnya masih “dalam proses”, namun media menilai masa depan mereka di Asian Games mendatang tampak suram dan berpotensi menjadi “generasi yang hilang”.

Artikel tersebut juga mengutip komentar penggemar luar negeri yang menilai masalah Korea bukan sekadar satu generasi. Dengan kemajuan negara-negara Asia lain dan semakin besarnya kesenjangan teknik, keunggulan fisik yang dulu dibanggakan Korea kini tak lagi efektif. Tanpa evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan usia muda dan pendidikan sepak bola, Korea Selatan berisiko menghadapi masa sulit yang berkepanjangan.

接著讀