2026年9月10日

Nasib TikTok di AS Masih Gantung: Di Tengah Tekanan E-Commerce dan Ketidakpastian Regulasi

Setelah perpanjangan 75 hari, TikTok kembali berlomba melawan waktu. Sementara operasinya di AS masih belum pasti, lini e-commerce mereka menghadapi tekanan akibat tarif impor dan kenaikan harga. Di tengah pertumbuhan pengguna dan ambisi komersial, TikTok harus menghadapi ketidakpastian politik AS dan volatilitas pasar secara bersamaan.

Strategi “Besar dan Tak Tergoyahkan” TikTok Terancam di AS

Pada Mei lalu, TikTok mencatatkan lebih dari 1 miliar pengguna aktif bulanan di luar negeri. Strategi perusahaan jelas: tumbuh menjadi besar dan tak tergantikan, menarik loyalitas pengguna sambil menghindari konflik regulasi dan mendorong monetisasi secara agresif.

Pertumbuhan TikTok Shop Terhambat Tarif Impor

Diluncurkan akhir 2023, TikTok Shop dalam 13 bulan berhasil melampaui Amazon dan Temu dalam GMV di Inggris. Namun target pertumbuhan 200% untuk pasar AS pada 2025 menghadapi hambatan serius akibat kebijakan tarif Presiden Trump. Biaya meningkat, trafik menurun, dan sistem penuh gangguan membuat pebisnis frustrasi.

Jual atau Dilarang: TikTok Dihantui Tenggat Waktu

Trump kembali menegaskan bahwa jika ByteDance tak menjual aset TikTok di AS sebelum 19 Juni, pelarangan akan diberlakukan—meski kemungkinan diperpanjang lagi. TikTok mungkin terhindar dari pelarangan untuk sementara, namun masalah pokoknya belum teratasi: menyerahkan kontrol atau dipaksa menjual.

Peringatan bagi Perusahaan China yang Ekspansi ke Luar Negeri

Profesor Nie Huihua dari Universitas Renmin menyarankan agar perusahaan seperti TikTok memprioritaskan strategi geopolitik. Solusi realistis adalah “model kepercayaan ala ZTE”—menyerahkan kendali operasional tapi tetap mempertahankan saham mayoritas.

Untuk menghindari risiko seperti itu, perusahaan seperti Kuaishou dan Mixue Ice Cream kini fokus pada pasar non-AS, termasuk Brasil dan Arab Saudi, demi menghindari ketidakpastian politik di Barat.

接著讀