2026年9月10日

Trump Naikkan Tekanan: Ancam Tarif 25% untuk Jepang, Desak Buka Pasar

Menurut Jiji Press Jepang, Presiden AS Donald Trump kembali mendesak Jepang dalam wawancara pada 15 Juli, meminta pembukaan pasar dan penghapusan hambatan non-tarif. Ia memperingatkan bahwa jika Jepang tak mengalah, AS akan memberlakukan tarif hingga 25% mulai 1 Agustus. Ancaman ini muncul hanya beberapa hari sebelum pemilu majelis tinggi Jepang, meningkatkan tekanan pada PM Shigeru Ishiba.

Trump Ancam Jepang dengan Tarif Tinggi untuk Paksa Buka Pasar

Di tengah mandeknya negosiasi perdagangan AS-Jepang, Presiden Trump kembali buka suara pada 15 Juli. Dalam wawancara di dekat Washington, ia mengatakan, “Kesepakatan bisa dinegosiasikan ulang—asal Jepang bersedia membuka pasarnya.” Namun ia langsung menambahkan, “Kelihatannya mereka tidak berniat begitu.”

Menurut Jiji Press, Trump telah mengirim surat resmi kepada Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba, menyampaikan rencana tarif “resiprokal” dengan kenaikan hingga 25% untuk barang asal Jepang. Ia memperingatkan bahwa jika Jepang tidak memberi kelonggaran, tarif akan diberlakukan sesuai isi surat—secepatnya pada 1 Agustus.

Waktu Pemilu Memperbesar Tekanan Politik

Dengan pemilu majelis tinggi Jepang yang akan digelar 20 Juli, ancaman tarif datang di momen yang sangat sensitif. Laporan menyebutkan Ishiba sedang mengatur pertemuan dengan Menteri Keuangan AS Bessent, yang dijadwalkan mengunjungi Jepang, guna meredakan ketegangan.

Pemerintah AS sejak lama menganggap defisit perdagangan besar dengan Jepang sebagai masalah, terutama di sektor otomotif dan pertanian. Dalam suratnya, Trump menuntut Jepang menghapus hambatan non-tarif seperti standar teknis dan perizinan. Ia juga mengisyaratkan tarif bisa dinaikkan lebih lanjut bila Jepang tak merespons.

Ancaman Tarif Bisa Meluas ke Negara Lain

Trump juga menyatakan akan mengirim surat serupa ke negara-negara dengan volume perdagangan kecil terhadap AS. Ia menekankan bahwa tarif di atas 10% akan dikenakan jika tak ada pembukaan pasar. Strategi tekanan ini, katanya, akan menjadi bagian inti dari kebijakan perdagangannya ke depan.

Analis menilai langkah ini bukan hanya strategi negosiasi, tapi juga sinyal politik untuk memperkuat posisinya di dalam negeri. Jika Jepang gagal merespons, sektor ekspornya—terutama otomotif dan pertanian—berisiko terkena dampak serius.

接著讀