2026年9月10日

Kabar Baik untuk Setan Merah: Mount Hanya Cedera Ringan dan Siap Hadapi Man City – Terungkap Alasan Semua Pelatih United Memujinya

Pada laga melawan Burnley sebelum jeda internasional, Mason Mount harus ditarik keluar di babak pert...

Pada laga melawan Burnley sebelum jeda internasional, Mason Mount harus ditarik keluar di babak pertama. Hal ini membuat fans Manchester United khawatir, mengingat gelandang internasional Inggris berusia 26 tahun itu sudah beberapa kali mengalami cedera serius dan absen panjang sejak bergabung. Namun, media Inggris melaporkan kabar melegakan: cederanya kali ini hanya ringan. Mount, bersama Matheus Cunha, diperkirakan siap tampil dalam laga panas Derby Manchester di markas City pertengahan bulan ini. Meski begitu, dengan riwayat cederanya, manajer Rúben Amorim mungkin akan menurunkan Mount dengan lebih hati-hati.

Cunha sendiri menunjukkan perkembangan luar biasa. Lewat pembaruan latihan yang ia unggah, terlihat kedua kakinya tak bermasalah dan ia kemungkinan bisa kembali berlatih penuh bersama tim lebih cepat dari jadwal. Untuk Mount, tim medis memastikan kondisinya tidak serius. Keputusan Amorim menariknya saat jeda hanyalah langkah pencegahan. Saat ini Mount fokus pada latihan kekuatan dan pemulihan di gym, serta latihan mobilitas fisik.

Mengapa Semua Pelatih United Menyukainya

Dua tahun lalu, United menggelontorkan £60 juta untuk merekrut Mount yang kontraknya di Chelsea tersisa setahun. Langkah ini sempat membingungkan fans. Namun, baik Erik ten Hag maupun penggantinya, Amorim, sama-sama memiliki keyakinan besar terhadap sang gelandang.

Ten Hag sudah mengincar Mount sejak masa peminjamannya di Vitesse di Eredivisie dan baru bisa memboyongnya ketika melatih United. Sementara itu, Amorim bahkan menjadikan Mount sebagai pemain pertama yang ia peluk saat tiba di klub. Ini membuktikan bahwa pemain favorit pelatih tidak selalu menjadi idola fans.

Di masa puncaknya, seperti lima tahun lalu saat persiapan Euro 2020, Mount dipandang sebagai tipe pemain sistem yang kontras dengan gaya flamboyan Jack Grealish. Grealish mengandalkan bakat individual, sedangkan Mount menawarkan kontribusi tim yang konsisten. Layaknya mentornya, Frank Lampard, Mount ahli mengeksekusi taktik pelatih, memiliki kecerdasan bermain, paham berbagai sistem, serta mampu menemukan dan menciptakan ruang untuk memaksimalkan potensi rekan setimnya.

Peran Penting di Skuad Bertabur Bintang

Musim ini, Mount sudah menunjukkan kualitasnya. Sama seperti di final Liga Europa musim lalu, kerja keras dan disiplin taktis membuatnya tetap mendapat tempat di starting XI, meski United telah menghabiskan £200 juta untuk merekrut Benjamin Šeško, Bryan Mbeumo, dan Cunha. Amorim bahkan rela mencadangkan bintang muda Alejandro Garnacho demi memberi ruang untuk Mount.

Ketika Šeško hanya ikut latihan pramusim selama seminggu, Mount mendapat kepercayaan sebagai starter di posisi kiri — salah satu posisi terbaiknya ketika dilatih Thomas Tuchel di Chelsea. Pada laga pembuka melawan Arsenal di Old Trafford, Tuchel yang kini melatih timnas Inggris bahkan hadir menyaksikan langsung penampilan apik Mount.

Mount juga dikenal fleksibel. Di bawah Amorim, hanya tiga pemain United yang persentase tampilnya dalam sistem tiga bek di atas rata-rata — Mount, Manuel Ugarte, dan Rasmus Højlund. Dari ketiganya, meski Ugarte pernah dilatih Amorim, kepercayaan penuh justru jatuh kepada Mount.

Kecerdasan Taktis yang Tak Selalu Terlihat Fans

Salah satu kekuatan terbesar Mount adalah kemampuannya bergerak di antara dua lini lawan untuk menerima bola, menjaga penguasaan, dan menghubungkan permainan. Pada laga kontra Arsenal, bek Gabriel sempat kesal kepada rekan-rekannya karena membiarkan Mount bebas.

Selain menjaga bola, Mount juga piawai memberikan umpan terobosan berbahaya. Penonton Old Trafford menikmati umpan vertikalnya kepada Mbeumo dalam laga melawan Arsenal dan Burnley — mengingatkan pada assist-nya kepada Kai Havertz di final Liga Champions 2021 yang membawa Chelsea menaklukkan City.

Mount juga mahir melakukan switching play ke sisi lemah, bagian dari taktik khas Amorim untuk menyerang dari satu sisi lalu cepat memindahkan bola ke sisi lain. Baik bekerja sama dengan Diogo Dalot, Luke Shaw, maupun Patrick Dorgu, Mount selalu menunjukkan pemahaman posisi yang cerdas. Salah satu contohnya terlihat saat melawan Fulham, di mana ia melakukan kombinasi one-two dengan Dorgu di kiri sebelum memberi bola kepada Cunha yang nyaris mencetak gol.

Tantangan Utama: Tetap Bugar

Sejak era Sir Alex Ferguson berakhir, United sering merekrut pemain berbakat namun kesulitan membangun kohesi tim. Mount adalah pengecualian — pemain yang memperkuat sistem permainan. Namun, tantangan terbesarnya adalah kebugaran. Dalam dua tahun sejak datang dari Chelsea, ia belum pernah bermain penuh 90 menit di laga Premier League untuk United. Cedera saat melawan Burnley menjadi yang keenam sejak ia bergabung, termasuk dua cedera besar yang membuatnya absen lebih dari 20 pertandingan.

Sejarah sepak bola penuh dengan pemain hebat yang kariernya diganggu cedera — bahkan Ronaldo Nazário tidak terkecuali. Jika Mount terus bermasalah dengan kebugaran, ia berisiko menjadi “kisah yang seharusnya bisa lebih besar”, layaknya Owen Hargreaves.

Untuk saat ini, fans United boleh bernapas lega. Mount kemungkinan siap tempur menghadapi City, dan jika Amorim bisa mengelolanya dengan bijak, kecerdasan, visi, dan disiplin taktisnya bisa menjadi pembeda di laga-laga krusial musim ini.

接著讀