2026年9月10日

Matcha yang Kamu Kira dari Jepang? Ternyata Asli Buatan China

Musim panas ini, persaingan layanan pesan-antar makanan sedang memanas, dan tren minum bubble tea ju...

Musim panas ini, persaingan layanan pesan-antar makanan sedang memanas, dan tren minum bubble tea juga menggila. Di setiap menu toko minuman, selalu ada warna hijau yang mencuri perhatian — matcha. Dari matcha milk tea, matcha latte, matcha jelly, hingga matcha cream, hampir semua merek berusaha menambahkan sentuhan matcha ke sebanyak mungkin menu mereka. Sepanjang tahun 2024 saja, brand minuman meluncurkan 73 varian baru berbahan matcha. Bahkan, seri “Triple Thick Matcha” milik HeyTea yang dirilis akhir 2023 berhasil terjual hampir 10 juta cangkir hanya dalam dua bulan. Para pencinta matcha yang gemar rasa pahit-manis khasnya memegang teguh prinsip “hidup lebih indah dengan sedikit hijau setiap hari” — tak hanya minum berbagai varian matcha, tapi juga menikmati kue, biskuit, es krim, hingga cokelat rasa matcha.

Meski namanya terdengar seperti produk Jepang, sebagian besar matcha dalam minuman dan dessert favoritmu sebenarnya berasal dari Tiongkok. Matcha sendiri lahir di Tiongkok. Pada masa Dinasti Song Selatan, biksu Jepang Eisai membawa teknik pembuatan matcha ke Jepang. Di sana, matcha berkembang menjadi simbol budaya dan bagian penting dari upacara minum teh. Matcha sejati tidak sama dengan bubuk teh biasa. Daun teh yang digunakan, disebut tencha, harus dibudidayakan dengan metode peneduhan untuk meningkatkan kandungan asam amino, kafein, klorofil, dan polifenol, yang memberi cita rasa khas matcha. Di Jepang, matcha terbaik dari panen pertama (ichibancha) hanya diseduh dengan air panas untuk dinikmati secara seremonial — bukan diolah menjadi kue atau minuman campuran. Matcha yang digunakan untuk biskuit, cokelat, atau es krim umumnya adalah kelas E — dipanen massal dengan mesin, berharga terjangkau namun kualitas aromanya rendah.

Di luar Jepang, kebanyakan orang mengenal matcha lewat produk kelas E ini — dan di segmen inilah Tiongkok merajai pasar. Sejak 2020, Tiongkok menjadi produsen matcha terbesar di dunia dengan output 3.916 ton, melampaui Jepang yang memproduksi kurang dari 3.000 ton. Pada 2024, jumlah ini diperkirakan menembus 5.000 ton. Berbeda dari Jepang yang mempertahankan fungsi seremonial matcha, 70% produksi matcha Tiongkok digunakan untuk industri makanan dan minuman — bubuk inilah yang ada di matcha latte, biskuit, dan cokelat yang kamu nikmati. Zhejiang dan Guizhou adalah dua pusat produksi matcha terbesar di Tiongkok. Zhejiang telah membangun fondasi sejak 1980-an dan kini menjadi produsen matcha terbesar di dunia. Guizhou, yang baru memulai pada 2017, tumbuh pesat berkat dukungan pemerintah serta kondisi geografis yang ideal — pegunungan tinggi, awan tebal, dan sinar matahari terbatas. Di Tongren, Guizhou, pabrik memproduksi 1.300 ton matcha setiap tahun — seperempat dari total produksi Jepang — dan mempekerjakan hampir 100.000 petani teh.

Jepang tidak berhenti memproduksi matcha dan tetap menjadi eksportir utama. Pada 2024, hampir 60% ekspor teh hijau Jepang berbentuk bubuk. Namun, produksinya sulit mengimbangi permintaan karena penuaan tenaga kerja, berkurangnya lahan, dan dampak perubahan iklim. Tiga perempat petani teh berusia di atas 60 tahun, luas lahan berkurang 25% sejak 2008, dan gelombang panas ekstrem sejak 2020 sering menurunkan hasil panen. Akibatnya, merek terkenal seperti Ippodo dan Marukyu Koyamaen mengalami kelangkaan pasokan pada 2024, hingga harus membatasi penjualan atau menghentikan produksi sementara. Harga matcha premium Jepang kini mencapai USD 89 untuk 40 gram — jauh dari terjangkau untuk konsumsi harian.

Dari matcha latte Starbucks hingga biskuit “Uji matcha” favoritmu, besar kemungkinan bubuk hijaunya 100% berasal dari Tiongkok. Meski warisan budaya matcha Jepang tetap ikonik, skala produksi besar, kondisi alam yang menguntungkan, dan efisiensi industri membuat Tiongkok menjadi pemasok tak terlihat di balik ledakan popularitas matcha dunia. Jadi, saat menyeruput matcha latte yang lembut dan harum, ingatlah — itu bukan hanya rasa nikmat, tapi juga wujud kekuatan agrikultur modern Tiongkok.

接著讀