2026年9月10日

“Trump Diam 48 Jam”: Mengungkap Drama di Balik Pemangkasan Suku Bunga The Fed dan Bagaimana Powell Meraih Kemenangan 11:1 demi Independensi

Minggu ini, The Federal Reserve akhirnya mengumumkan pemangkasan suku bunga pertamanya tahun ini, se...

Minggu ini, The Federal Reserve akhirnya mengumumkan pemangkasan suku bunga pertamanya tahun ini, sebesar 25 basis poin. Bagi Donald Trump yang sejak lama menuntut pelonggaran lebih agresif, langkah ini jelas belum memenuhi ekspektasinya. Namun, lebih dari 48 jam setelah keputusan diumumkan, Trump justru memilih diam—sebuah keheningan langka yang mencerminkan “kebijaksanaan bertahan hidup” The Fed di tengah tekanan politik yang luar biasa. Pertemuan FOMC tanggal 17 September dipandang sebagai duel sengit antara The Fed dan Gedung Putih. Meski tekanan eksternal sangat besar, keputusan penurunan suku bunga ini disetujui dengan suara telak 11–1, sebuah sinyal kuat tentang persatuan internal yang tak terduga. Bagi Jerome Powell, inilah seni keseimbangan: retorikanya terdengar hawkish, tetapi tindakannya dovish. Ia mendefinisikan langkah ini sebagai “keputusan manajemen risiko,” sembari menegaskan tidak ada urgensi untuk mengubah kebijakan lebih jauh. Strategi ini jelas bertujuan meredam ekspektasi pasar akan dimulainya siklus pelonggaran besar-besaran. Para analis menilai langkah ini cerdas: Powell memberi Trump cukup alasan untuk mengklaim kemenangan simbolis, namun tetap menjaga independensi The Fed. Kesatuan suara dalam komite juga mengejutkan banyak pihak. Dua anggota yang sebelumnya berbeda pandangan, Christopher Waller dan Michelle Bowman, kali ini bergabung dengan mayoritas. Bahkan Gubernur Lisa Cook—yang disebut-sebut berada di bawah ancaman politik—turut mendukung pemangkasan. Hanya satu suara menolak, yakni Stephen Millan, orang pilihan Trump sekaligus penasihat ekonomi Gedung Putih, yang mendorong penurunan lebih agresif sebesar 50 basis poin. Meski demikian, di balik permukaan masih tersimpan perbedaan tajam. Dot plot terbaru menunjukkan pandangan yang bervariasi, mulai dari tidak ada perubahan hingga penurunan drastis 150 basis poin, menggambarkan rapuhnya konsensus internal. Powell menyebut langkah ini sebagai “cut preventif”, sebuah pendekatan yang punya rekam jejak beragam dalam sejarah: tahun 1995 berhasil menciptakan soft landing, tahun 2001 gagal mencegah resesi, dan tahun 2019 memicu gelombang inflasi tinggi setelah ditambah stimulus fiskal. Kini, kondisi ekonomi Amerika seolah memadukan ketiganya—pertumbuhan lapangan kerja melambat, pengangguran mulai naik, beban tarif dan utang kian berat, sementara inflasi, terutama di sektor jasa, masih membandel. Pasar merespons dengan hati-hati: harga emas sempat menyentuh rekor sebelum terkoreksi, dolar turun lalu rebound, dan imbal hasil obligasi AS relatif stabil. Ini menunjukkan investor percaya pemangkasan kali ini kemungkinan besar hanya sekali, bukan awal dari siklus panjang. Namun, kritik juga berdatangan. Mantan Menteri Keuangan Lawrence Summers menilai inflasi tetap ancaman utama, sementara pelonggaran berlebihan justru bisa menjerumuskan ekonomi ke dalam jebakan stagflasi. Fitch memproyeksikan The Fed akan menurunkan suku bunga secara bertahap hingga 2026, sementara imbal hasil obligasi jangka panjang tetap di atas 4%. Analis emas menilai nada hawkish Powell meredam spekulasi pasar, tetapi ketegangan geopolitik jangka panjang akan terus menjaga permintaan emas. Untuk saat ini, Powell memang berhasil meraih kemenangan tipis namun simbolis—membuktikan independensi The Fed di tengah badai politik. Tetapi dengan masa jabatannya berakhir Mei tahun depan dan Trump berambisi mengubah susunan pimpinan bank sentral, pertarungan sesungguhnya mengenai independensi kebijakan moneter baru saja dimulai. Pertanyaan besar yang tersisa: akankah langkah hati-hati Powell ini dikenang sebagai manuver brilian yang membawa ekonomi AS mendarat mulus, atau justru sebagai awal dari babak baru inflasi dan ketidakpastian?

接著讀