2026年9月10日

Pergolakan Visa H-1B Membuka Peluang untuk Kanada — Akankah Disambut?

-

Amerika Serikat mengejutkan dunia teknologi global dengan lonjakan biaya visa H-1B — dan kini banyak yang bertanya apakah Kanada akan memanfaatkan momentum ini untuk menarik talenta internasional terbaik.

Pekan lalu, Presiden Donald Trump mengumumkan biaya baru sebesar 100.000 dolar AS untuk setiap aplikasi H-1B, langkah yang membuat perusahaan-perusahaan Silicon Valley kelabakan. Meski pemegang H-1B yang sudah ada tidak terdampak, kebijakan yang mulai berlaku pada Minggu ini diperkirakan akan memangkas drastis peluang pekerja asing berpendidikan tinggi — terutama lulusan internasional dari universitas AS — yang berharap bisa tinggal dan berkarier jangka panjang di Amerika.

Bagi Kanada, kesempatan ini begitu jelas. Pengacara imigrasi, ekonom, dan kalangan bisnis menyerukan Ottawa untuk bergerak cepat dan memposisikan Kanada sebagai alternatif ramah bagi pekerja global.

“Ini adalah peluang luar biasa yang bisa dimanfaatkan pemerintah Kanada,” kata Evan Green, pengacara imigrasi berbasis di Toronto. Build Canada, organisasi nirlaba yang fokus meningkatkan produktivitas nasional, juga mendesak Kanada untuk “bergerak cepat,” dengan alasan “ratusan ribu profesional H-1B yang sangat terampil dan bergaji tinggi kini mencari rumah baru.”

Perdana Menteri Mark Carney tampaknya mulai memperhatikan. Dalam pidatonya di New York pekan ini, ia menyoroti talenta riset dan AI lokal Kanada — sambil berseloroh, “sayangnya, sebagian besar dari mereka pergi ke AS.” Menyinggung perubahan kebijakan visa AS, ia menambahkan: “Mungkin kita bisa menahan satu atau dua dari mereka.”

Kekuatan dan Tantangan Kanada

Kanada sejak lama dipandang sebagai tujuan ideal bagi talenta global, dengan universitas kelas dunia, pusat riset yang kuat, zona waktu yang sama dengan AS, serta kualitas hidup yang tinggi. Bukti sejarah juga mendukung: studi dari University of Pennsylvania menunjukkan bahwa setelah AS memangkas besar-besaran kuota H-1B pada 2004, perusahaan multinasional memindahkan pekerja yang sama ke Kanada, berkat kebijakan imigrasi Kanada yang lebih terbuka.

Tren ini berlanjut hingga kini. Pada 2023, pemerintah Kanada meluncurkan program khusus yang memungkinkan pemegang H-1B di AS mengajukan izin kerja Kanada. Program itu mencapai kuota 10.000 aplikasi hanya dalam 24 jam. Walaupun tidak semua berhasil pindah, pengacara Kanada memastikan bahwa banyak pekerja terampil yang gagal di AS sudah beralih ke utara.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa sistem imigrasi Kanada juga punya kendala. Pengacara Calgary, Mark Holthe, mengatakan banyak pendatang baru kesulitan memperoleh status penduduk tetap, sehingga masa depan mereka tidak pasti. Ekonom University of Waterloo, Mikal Skuterud, juga memperingatkan agar tidak melebih-lebihkan kesiapan Kanada, menunjuk pada pengurangan imigrasi dalam beberapa tahun terakhir dan perdebatan politik mengenai program pekerja asing sementara.

“Kanada tidak terlihat lebih bisa diprediksi daripada AS,” kata Skuterud. “Dan itu masalah jika ingin menarik talenta.” Ia juga menambahkan bahwa struktur gaji di Kanada cenderung lebih rendah dibandingkan AS, sehingga membuat persaingan untuk pekerja top semakin berat.

Ujian Kemauan Politik

Meski begitu, banyak pihak percaya Kanada harus bergerak sekarang. Bukti menunjukkan bahwa program H-1B telah berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi AS dan inovasi teknologi. Dengan strategi yang lebih ambisius, Kanada bisa ikut meraih manfaat dari gelombang talenta global ini.

Departemen Imigrasi, Pengungsi, dan Kewarganegaraan Kanada (IRCC) menolak berkomentar langsung terkait perubahan kebijakan AS, tetapi juru bicara Matthew Krupovich menegaskan adanya jalur-jalur seperti Express Entry dan Global Skills Strategy, serta menambahkan bahwa pemerintah terus “mencari solusi baru untuk menarik talenta terbaik dunia.”

Kini pertanyaannya: akankah Kanada bertindak cukup cepat — sebelum para pekerja terampil itu mencari tempat lain?

接著讀