2026年9月12日

Nilai Perusahaan Bukan Sekadar Retorika: Deli Group & CEO Minta Maaf soal Kasus PHK Karena “Pincang” — Tapi Ini Mungkin Bukan Kasus Tunggal

Sebuah unggahan netizen pada 29 September membuat Deli Group—raksasa alat tulis kantor—terseret ke p...

Sebuah unggahan netizen pada 29 September membuat Deli Group—raksasa alat tulis kantor—terseret ke pusaran publik. Seorang pelamar yang mengaku lulus tiga tahap wawancara dan datang untuk lapor kerja di kantor pusat Ningbo mengatakan bahwa pada hari itu HR meminta dia pulang karena berjalan pincang, dan diminta menandatangani surat “mengundurkan diri secara sukarela”. Unggahan tersebut langsung menuai empati dan kecaman, sekaligus dugaan diskriminasi dan potensi pelanggaran hukum.

Respon perusahaan cepat. Akun yang mengklaim sebagai Chen Xueqiang, Executive President Deli Group, memberi komentar yang menyatakan keterkejutan dan permintaan maaf, dan pihak Deli kemudian mengonfirmasi bahwa komentar itu memang dari Chen. Pada 30 September, Deli merilis pernyataan resmi: mereka membentuk tim khusus untuk investigasi, menyatakan bahwa keterangan pelapor “pada dasarnya benar”, dan menyampaikan bahwa eksekutif telah meminta maaf secara langsung serta mengirimkan Kepala Kantor Presiden untuk bertemu pelapor. Perusahaan juga berjanji melakukan perbaikan manajemen dan budaya perusahaan.

Organisasi lokal juga turun tangan: federasi penyandang disabilitas setempat dan pengawas ketenagakerjaan menyatakan telah memantau dan menghubungi pihak terkait. Selain itu, ada bukti di media sosial tentang kasus serupa—seperti pelamar tunarungu yang kehilangan tawaran kerja—serta keluhan karyawan mengenai besaran iuran jaminan sosial, besaran upah lembur, dan kebijakan cuti. Hal ini memperluas masalah dari satu insiden menjadi sorotan terhadap praktik rekrutmen dan ketenagakerjaan perusahaan secara umum.

Walau Deli Group memiliki kinerja komersial yang kuat, insiden ini mengingatkan bahwa nilai-nilai perusahaan—termasuk keberagaman dan kepedulian kemanusiaan—harus diimplementasikan secara nyata. Itu membutuhkan SOP yang jelas, pelatihan HR yang kuat, serta mekanisme kepatuhan yang mencegah diskriminasi, terutama pada tahap onboarding.

Permintaan maaf CEO dan komitmen perbaikan adalah langkah awal yang penting. Namun yang menentukan adalah hasil verifikasi oleh otoritas ketenagakerjaan dan tindakan perbaikan konkrit yang berkelanjutan. Hanya dengan begitu, insiden ini bisa menjadi momentum perubahan budaya kerja yang nyata, bukan sekadar peristiwa PR sesaat.

接著讀