2026年9月10日

Dari Mi Instan hingga Es Krim Kreatif: Satu Gerbong yang Merangkum Dua Dekade Perubahan Konsumsi Makanan dan Minuman di Tiongkok

Dari Mengisi Perut hingga Menikmati Pengalaman: Evolusi Rasa di Dalam Gerbong Kereta Tiongkok Aroma ...

Dari Mengisi Perut hingga Menikmati Pengalaman: Evolusi Rasa di Dalam Gerbong Kereta Tiongkok

Aroma adalah sesuatu yang hidup — ia mampu membangkitkan kembali kenangan yang telah lama terkubur. Di dalam gerbong yang padat dan panas, suara dari berbagai daerah saling bersahutan. Di sudut penyedia air panas, seseorang dengan hati-hati menuangkan air ke dalam mi instan — tidak terlalu banyak, cukup menutupi mie. Jika ditambah acar dan sosis, sedikit air ekstra pun diperbolehkan. Namun jika air berlebih, maka sepanjang perjalanan ia harus berjalan pelan, menahan keseimbangan agar air panas tidak tumpah.

Membawa semangkuk mi panas dari ujung gerbong menuju kursi sendiri adalah sebuah ujian tingkat tinggi: banyak orang, ruang sempit, dan air panas yang tak boleh tumpah. “Bir, minuman, air mineral!” “Kacang, kuaci, bubur delapan harta!” “Permisi, tolong rapatkan kaki!” Mereka yang berpengalaman tahu kapan waktu terbaik untuk bergerak, menghitung kapan troli minuman akan lewat, lalu mengikuti “jalur” yang terbuka dengan langkah cepat dan tepat. Di sepanjang perjalanan, aroma mi yang bergoyang di tangan itu menyebar di udara — pertanda sederhana bahwa sudah waktunya makan.

Suara kuaci yang dikupas, mi yang diseruput, cakar ayam pedas yang digigit, dan seruan pramugara yang menawarkan makanan bercampur menjadi satu simfoni khas perjalanan kereta api. Dalam satu gerbong, semua itu menjadi potret rasa dan kenangan lintas generasi.

Pada tahun 1999, pemerintah Tiongkok memperkenalkan sistem libur panjang baru — menggabungkan hari libur nasional dengan akhir pekan untuk membentuk libur tujuh hari, yang dikenal sebagai “Golden Week”. Tahun itu, sebanyak 28 juta orang melakukan perjalanan dengan total pendapatan pariwisata mencapai 14,1 miliar yuan. Dua puluh enam tahun kemudian, pada libur nasional 2024, jumlah wisatawan domestik mencapai 765 juta orang dengan total pengeluaran lebih dari 700 miliar yuan. Kini, tren “China Travel” masih sangat populer — menurut data Qunar, tingkat hunian hotel di Jingdezhen melonjak 30% pada 1 Oktober, sementara pencarian untuk upacara pengibaran bendera di Beijing naik 12 kali lipat.

Banyak hal telah berubah selama seperempat abad ini. Kereta hijau klasik digantikan oleh kereta cepat Fuxing, dan perjalanan sejauh 1.200 km antara Shanghai dan Beijing kini hanya memakan waktu 4–5 jam, bukan lagi belasan jam. Seiring perjalanan menjadi semakin cepat, cara orang menikmati makanan di perjalanan pun ikut berevolusi — dari kebutuhan sederhana menjadi pengalaman yang penuh makna.

Menurut Zhang Yu’ang, kepala pusat operasi e-commerce What’s Worth Buying, kebutuhan konsumen terhadap makanan dan minuman kini telah melampaui sekadar rasa lapar atau haus. “Kini, banyak orang mencari produk yang indah, fotogenik, punya sentuhan emosional, dan memberikan rasa bahagia di perjalanan. Mereka bukan hanya makanan — mereka adalah teman perjalanan.” Itulah sebabnya kini “teman perjalanan” tidak lagi sebatas mi instan atau kacang, melainkan segelas milk tea lokal yang dikirim ke kursi, set mini tea set elegan, atau es krim bertema kereta cepat yang menjadi simbol gaya hidup baru.

Zhang menambahkan, “Konsumsi makanan dan minuman kini sedang bertransformasi — dari sekadar kebutuhan fungsional menuju pengalaman yang kontekstual dan penuh rasa.” Perubahan gaya konsumsi di gerbong kereta ini sejatinya mencerminkan miniatur evolusi industri makanan dan minuman Tiongkok selama dua dekade terakhir.

Era Keemasan Mi Instan di Atas Rel

Sekitar tahun 1999, industri makanan dan minuman Tiongkok memasuki masa inovasi emas. Merek-merek legendaris seperti Nongfu Spring, Wahaha, Master Kong, dan Uni-President memperkenalkan produk-produk baru yang mengubah gaya makan masyarakat. Dari air mineral alami hingga teh botol dan susu kalsium AD, pilihan konsumen semakin beragam — dan semua itu secara alami masuk ke dalam gerbong kereta.

Namun jika harus memilih satu makanan yang paling mewakili era itu, jawabannya hanya satu: mi instan. Dalam setiap dokumentasi kereta hijau masa lalu, hampir selalu ada penumpang dengan semangkuk mi panas di tangan. Makanan sederhana ini menyatukan semua orang dari berbagai daerah.

Master Kong memperkenalkan mi daging sapi rasa rebusan pada tahun 1992 — lengkap dengan kemasan mangkuk kertas dan garpu plastik. Inovasi ini menjadikannya pilihan sempurna di perjalanan panjang, terutama karena mudah disiapkan dan harganya terjangkau. Pada masa itu, seporsi makanan di kereta bisa mencapai 10 yuan lebih, sementara mi instan hanya sekitar 1,98 yuan — hangat, murah, dan mengenyangkan. Aroma gurih yang menguar di udara menjadi simbol perjalanan dengan kereta api di Tiongkok.

Dari Camilan ke Gaya Hidup

Memasuki tahun 2000-an, selain mi instan, berbagai camilan juga ikut mewarnai perjalanan. Ada cakar ayam pedas Youyou dari Chongqing yang praktis dan cocok dibagi-bagi; ada Wahaha Bubur Delapan Harta yang bisa langsung diminum tanpa takut tumpah; dan tentu saja, Xiangpiaopiao Milk Tea — teh susu yang hanya butuh air panas untuk siap dinikmati. Di masa ketika kereta masih lambat dan pendapatan masyarakat terbatas, fungsi utama makanan di perjalanan hanyalah “mengenyangkan dan mengisi waktu”.

Namun kini segalanya berbeda. Dengan meningkatnya taraf hidup, penumpang mulai mencari makanan yang tidak hanya praktis, tetapi juga segar, sehat, dan menyenangkan. Di sinilah inovasi baru bermunculan. Tahun 2012, Zhou Hei Ya memperkenalkan teknologi Modified Atmosphere Packaging (kemasan segar bertekanan udara khusus) untuk menjaga kesegaran produk olahan bebek mereka. Dengan masa simpan hingga lima hari, produk-produk ini menjadi teman perjalanan baru yang tak hanya lezat, tapi juga higienis dan mudah dibawa.

Dalam beberapa tahun terakhir, minuman juga menjadi bagian dari revolusi ini. Saturnbird Coffee dengan kapsul kopi instan beku-keringnya memungkinkan penumpang membuat kopi berkualitas kafe di mana saja. Sementara Otter Tonton menghadirkan teh buah instan dalam bentuk blok, cukup tambahkan air, dan minuman segar siap dalam hitungan detik. Produk serupa seperti cairan lemon sachet dan Daily Nuts dari Wolong juga booming di platform e-commerce menjelang libur panjang.

Ciri khas baru makanan perjalanan kini bukan hanya praktis, tetapi juga sehat, bergaya, dan memanjakan mata.

Gerbong Sebagai Panggung Budaya Kuliner

Bahkan es krim tematik kini ikut naik ke kereta. Pada Agustus 2025, Guangxi Railway meluncurkan es krim bertema kereta, masing-masing dengan bentuk kepala lokomotif dari era berbeda—dari kereta uap hingga kereta cepat. Sebelumnya, Wuhan Railway Station juga merilis es krim berbentuk bangunan stasiun lengkap dengan elemen khas seperti burung bangau kuning dan bunga sakura.

Fenomena “es krim budaya” ini melambangkan perubahan besar: makan di perjalanan kini bukan sekadar mengisi perut, melainkan cara menikmati budaya lokal. Tren serupa terlihat dari popularitas camilan khas daerah seperti prune Xinjiang, daging sapi kering Mongolia Dalam, atau permen sorgum khas Qingdao yang kini memenuhi rak-rak troli di kereta cepat.

Setiap gigitan bukan hanya rasa, tapi juga cerita dari berbagai penjuru negeri. Kini, perjalanan jauh dengan kereta cepat di Tiongkok bisa terasa seperti menikmati “prasmanan nasional” — satu gigitan di setiap stasiun, satu kenangan di setiap rasa.

Dari semangkuk mi instan hingga es krim berdesain kreatif, dari kebutuhan mengenyangkan hingga pengalaman emosional — evolusi makanan di atas rel adalah cerminan perubahan besar Tiongkok itu sendiri: dari kesederhanaan menuju kemakmuran, dari kecepatan menuju kenikmatan, dari perjalanan menuju pengalaman.

Jadi, saat kamu naik kereta berikutnya, perhatikan makanan di tanganmu — mungkin di sanalah tersimpan kisah dua dekade perubahan selera dan gaya hidup sebuah bangsa.

接著讀