2026年9月10日

Sudah Tahun 2025, Namun Wong Lo Kat dan Jiaduobao Masih Bertarung Soal Merek Dagang — Di Baliknya, Pasar Gift Box Lesu dan Tren Ekspansi Global Makin Panas

Baru-baru ini, Guangzhou Pharmaceutical Group (GPH) dan Jiaduobao Group kembali berseteru soal kepem...

Baru-baru ini, Guangzhou Pharmaceutical Group (GPH) dan Jiaduobao Group kembali berseteru soal kepemilikan merek dagang “Wong Lo Kat”. Namun berbeda dari masa lalu, kali ini perdebatan panas mereka bahkan tak mampu menembus trending topic—sebuah tanda bahwa pamor pasar minuman herbal klasik ini memang sudah jauh menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Pertarungan Merek di Pasar Internasional

Pada 10 Oktober, Jiaduobao mengumumkan pernyataan resmi di akun WeChat resminya, menegaskan bahwa mereka memiliki hak atas merek “Wong Lo Kat” di luar negeri. Ini merupakan kali kedua dalam dua minggu mereka mengeluarkan pernyataan serupa untuk mempertahankan klaim kepemilikan globalnya.

Tak lama kemudian, pihak GPH melalui akun resmi “Wong Lo Kat Walovi” merilis tanggapan keras. Mereka menegaskan bahwa Guangzhou Wanglaoji Health Industry telah mendaftarkan merek “Wong Lo Kat” dan “Walovi” di lebih dari 100 negara dan wilayah di seluruh dunia. GPH menuduh Jiaduobao salah menafsirkan hukum merek dagang dan menghalangi ekspansi global Wong Lo Kat.

Siapa sangka, di tahun 2025 pertarungan merek dagang ini masih berlanjut? Meski demikian, hal ini bisa dimengerti. Lihat saja sengketa merek Red Bull yang sudah berlangsung lebih dari delapan tahun tanpa penyelesaian. Kini, pertarungan dua raksasa herbal ini bergeser ke ranah internasional—sebuah babak baru dalam persaingan mereka yang tampaknya belum akan berakhir.

Awal Mula Perselisihan

Asal muasal konflik ini bermula dari keturunan Wong Zebang, sang pendiri Wong Lo Kat, yang mendaftarkan merek tersebut di luar negeri dan kemudian memberikan lisensi kepada Jiaduobao. Bagi para pecinta film Hong Kong klasik mungkin mengenali nama ini dari film Rouge, di mana ada dialog legendaris: “Coke? Itu Wong Lo Kat versi luar negeri.” Kalimat itu menggambarkan betapa mendalamnya pengaruh merek ini terhadap budaya populer.

Namun saat hubungan kedua pihak memburuk, Jiaduobao mengambil langkah berani dan kontroversial: mengganti semua produk baik di dalam maupun luar negeri dari “Wong Lo Kat” menjadi “Jiaduobao”. Rak-rak supermarket luar negeri yang dulu dipenuhi kaleng merah bertuliskan Wong Lo Kat pun beralih menjadi Jiaduobao. Langkah ini dilakukan demi konsistensi merek dan menghindari kebingungan di kalangan konsumen internasional—serta agar Jiaduobao tak lagi “secara tak sengaja” mempromosikan pesaingnya.

Strategi “Walovi” dari GPH

Tahun 2023 menjadi titik balik bagi GPH. Di bawah kepemimpinan Li Chuyuan, mereka meluncurkan rencana besar “Wong Lo Kat Go Global” dengan memperkenalkan lini produk luar negeri dan merek baru bernama “Walovi”. Meski terdengar aneh, langkah ini adalah bagian dari upaya memperluas pasar global dan membangun identitas yang lebih mudah dikenali oleh konsumen muda yang mungkin tak lagi mengenal nama “Wong Lo Kat”.

Langkah ini muncul di tengah kondisi pasar yang menurun. Antara 2020 hingga 2022, penjualan paket hadiah (gift box) Wong Lo Kat anjlok drastis. Para distributor enggan menimbun stok, dan GPH pun harus mencari cara baru. Mereka akhirnya mengembangkan lebih banyak varian produk seperti Litchi Lo Kat dan Coconut Milk Yerou, serta fokus memperluas penjualan ke luar negeri. Sebagai perusahaan publik di bawah naungan Baiyunshan, GPH tak hanya dituntut untuk mencatatkan laba, tapi juga menampilkan “kisah pertumbuhan” yang menarik bagi investor.

Sebaliknya, Jiaduobao menuduh GPH melakukan “pencatutan merek dagang” dan “menghambat kompetisi yang sehat”, menempatkan dirinya sebagai korban intervensi birokrasi. Ironisnya, GPH juga menuduh Jiaduobao melakukan hal yang sama—menghalangi “merek nasional” untuk menembus pasar global.

Namun di balik perang kata-kata ini, keduanya menghadapi badai internal. GPH kini berada dalam masa restrukturisasi besar setelah sejumlah petinggi, termasuk Li Chuyuan, ditangkap dalam kasus korupsi. Sementara Jiaduobao telah lebih dulu melakukan “bersih-bersih” sejak 2020, menawarkan hadiah 5 juta yuan bagi pelapor pelanggaran, dan bahkan mempublikasikan nama-nama eksekutif yang terlibat dalam kasus penyalahgunaan jabatan.

Pasar Gift Box yang Kian Dingin

Musim libur panjang gabungan Mid-Autumn Festival dan Hari Nasional tahun ini membawa kabar kurang menggembirakan bagi kedua merek. Penjualan gift box Wong Lo Kat dan Jiaduobao merosot tajam. Tahun ini bahkan disebut sebagai “musim paling dingin dalam sejarah penjualan”.

Penyebabnya beragam: waktu libur yang terlalu panjang membuat banyak orang memilih bepergian daripada bersilaturahmi, cuaca hujan berkepanjangan menurunkan aktivitas belanja, dan rak-rak promosi yang biasanya penuh di pusat perbelanjaan kini nyaris kosong. Gift box pada dasarnya bergantung pada pembelian impulsif, dan ketika produk tak terlihat, penjualan pun otomatis anjlok.

Khusus di pasar tier-2 dan tier-3, situasinya lebih suram. Banyak warga pedesaan sibuk memanen hasil pertanian dari ladang berlumpur akibat cuaca buruk. Di tengah kondisi itu, siapa yang masih sempat membeli minuman herbal untuk dijadikan bingkisan?

Tren penurunan ini sebenarnya bukan hal baru. Bahkan saat Imlek, yang biasanya menjadi puncak penjualan, permintaan gift box terus menurun. Fenomena serupa terlihat di industri susu, di mana penurunan konsumsi menjadi sorotan media sosial—menandakan bahwa budaya “hadiah musiman” sudah tak lagi relevan bagi generasi muda yang cenderung lebih praktis.

Dua Arah, Satu Nasib

Dalam menghadapi perubahan ini, kedua raksasa herbal tersebut tetap mempertahankan gaya lama mereka. Wong Lo Kat mencoba berevolusi dengan strategi “modernisasi dan diversifikasi produk”—menyasar konsumen muda melalui kolaborasi dan kampanye kreatif. Sebaliknya, Jiaduobao tampak stagnan; bahkan pada tahun 2025, lini produknya seperti Kunlun Mountain masih menggunakan slogan lama, “Buka tutupnya, air langsung meluap,” yang pertama kali populer satu dekade lalu.

Sementara itu, semakin banyak perusahaan minuman China justru mengalihkan fokus ke pasar global. Dari Asia Tenggara hingga Timur Tengah, merek-merek lokal mulai mencetak sukses besar. Pergeseran basis manufaktur ke luar negeri dan meningkatnya populasi diaspora Tionghoa menciptakan peluang baru bagi produk budaya seperti teh herbal. Pasar luar negeri kini menjadi medan baru yang sangat menggoda—dan tentu saja, tak satu pun dari dua pemain lama ini mau menyerah begitu saja.

Kesimpulan

Baik Wong Lo Kat maupun Jiaduobao sama-sama melewatkan peluang besar di dalam negeri: mulai dari tren teh tanpa gula, minuman elektrolit, hingga minuman berbasis tanaman. Kini mereka beralih ke strategi “menyelamatkan diri lewat pasar global”. Namun, apakah langkah ini benar-benar mampu menghidupkan kembali kejayaan minuman herbal legendaris asal Tiongkok ini?

Satu hal yang pasti: di dunia bisnis, rivalitas kadang bertahan lebih lama dari produk yang mereka perebutkan.

接著讀