2026年9月10日

Selamat Jalan, Profesor Yang Zhenning! Sosok Legendaris yang Mengubah Wajah Industri AI dan Komputer Tiongkok Selamanya

Sebuah Bintang Besar Telah Jatuh Menurut laporan dari Xinhua News Agency, Profesor Yang Zhenning men...

Sebuah Bintang Besar Telah Jatuh

Menurut laporan dari Xinhua News Agency, Profesor Yang Zhenning meninggal dunia di Beijing pada 18 Oktober 2025 akibat sakit, dalam usia 103 tahun.

Yang Zhenning lahir pada tahun 1922 di Hefei, Provinsi Anhui. Ia adalah seorang fisikawan teoretis legendaris asal Tiongkok. Pada tahun 1938, ia diterima di Universitas Gabungan Barat Daya, lalu melanjutkan studi pascasarjana di Universitas Tsinghua pada tahun 1942 dan meraih gelar magister sains pada tahun 1944. Setahun kemudian, ia berangkat ke Amerika Serikat sebagai penerima beasiswa penuh dari Tsinghua, menempuh pendidikan di Universitas Chicago, dan meraih gelar doktor pada tahun 1948 sebelum menetap sebagai peneliti di sana.

Pada tahun 1949, Yang bergabung dengan Institute for Advanced Study di Princeton. Ia menjadi anggota tetap pada tahun 1952 dan diangkat menjadi profesor pada tahun 1955. Kemudian pada tahun 1966, ia menjabat sebagai Einstein Professor di Stony Brook University, di mana ia mendirikan Institute for Theoretical Physics—yang kini dikenal sebagai C.N. Yang Institute for Theoretical Physics—dan bekerja di sana hingga tahun 1999. Sejak 1986, ia juga menjabat sebagai Bowen Professor di Chinese University of Hong Kong. Pada tahun 1997, ia menjadi Direktur Kehormatan dari Pusat Studi Lanjut Tsinghua (kini Institut Studi Lanjut), dan dua tahun kemudian resmi menjadi profesor di universitas tersebut.

Kontribusi ilmiah paling terkenal dari Yang adalah penemuan teori ketidakselarasan paritas dalam interaksi lemah yang ia kembangkan bersama Li Zhengdao pada tahun 1956. Teori ini mengguncang dunia fisika karena menumbangkan keyakinan lama bahwa hukum alam bersifat simetris. Penemuan ini kemudian diakui sebagai tonggak bersejarah dalam fisika abad ke-20. Pada tahun 1957, Yang dan Li dianugerahi Hadiah Nobel Fisika atas karya luar biasa tersebut.

Selain teori paritas, dua kontribusi besar lainnya dari Yang juga meninggalkan jejak mendalam dalam perkembangan fisika modern.

Pertama adalah Teori Yang–Mills, yang ia kembangkan bersama muridnya Robert Mills pada tahun 1954. Teori ini memiliki pengaruh besar terhadap fisika fundamental dan geometri diferensial modern, serta menjadi dasar matematis bagi model standar fisika partikel. Persoalan “eksistensi dan kesenjangan massa Yang–Mills” bahkan termasuk dalam tujuh “Millennium Prize Problems” bersama hipotesis Riemann dan dugaan Poincaré.

Kedua adalah Persamaan Yang–Baxter yang ia temukan pada tahun 1967. Persamaan ini kemudian menjadi alat penting dalam menyelesaikan berbagai sistem integrabel dan memiliki dampak besar pada teori medan kuantum serta mekanika statistik.

Bagi para ilmuwan muda di Tiongkok, Yang Zhenning bukan hanya seorang ilmuwan besar, tetapi juga seorang pendidik dan panutan sejati.

Sejak tahun 1970-an, ia beberapa kali kembali ke Tiongkok untuk memberikan kuliah, memperkenalkan teori-teori mutakhir seperti teori medan ukur dan mekanika statistik. Pada tahun 1978, atas inspirasinya, Universitas Sains dan Teknologi Tiongkok (USTC) mendirikan program “Kelas Muda”. Atas saran Yang pula, program tersebut menambahkan jurusan perangkat lunak komputer—menandai awal dari pendidikan informatika modern di Tiongkok.

Pengaruhnya juga menjangkau dunia akademik global. Pemenang Turing Award, Yao Qizhi (Andrew Chi-Chih Yao), memutuskan untuk kembali ke Tiongkok dan bergabung dengan Universitas Tsinghua berkat dorongan langsung dari Yang. Pada tahun 1997, Yang membantu mendirikan Institut Studi Lanjut Tsinghua dan menjadi direktur kehormatannya, menarik banyak ilmuwan kelas dunia untuk bergabung. Berkat dorongan beliau, Yao meninggalkan jabatan profesor tetap di Universitas Princeton pada tahun 2004 dan kembali ke Tiongkok untuk mengajar penuh waktu. Ia kemudian mendirikan Institut Ilmu Informasi Interdisipliner (IIIS) di Tsinghua, yang kini dikenal dengan sebutan “Kelas Yao”, dan telah melahirkan banyak generasi pemimpin teknologi global.

Menariknya, menjelang akhir tahun 2016, baik Yang Zhenning maupun Yao Qizhi sama-sama melepaskan kewarganegaraan Amerika Serikat dan menjadi warga negara Tiongkok. Pada tahun 2017, keduanya resmi menjadi akademisi penuh di Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (CAS), menjadikannya peristiwa pertama dalam sejarah lembaga tersebut.

Ketika ditanya tentang perasaannya setelah kembali ke tanah air, Yang berkata, “Sahabat saya Xiong Bingming pernah berkata, ‘Meskipun ayahmu telah tiada, darahnya masih mengalir dalam tubuhmu.’ Saya menjawab, ‘Benar, yang mengalir dalam tubuh saya bukan hanya darah ayah saya, tapi juga darah budaya Tionghoa.’”

Pada tahun 2004, di usia 82 tahun, Yang masih mengajar satu semester penuh mata kuliah Fisika Umum bagi mahasiswa tahun pertama di jurusan fisika Universitas Tsinghua.

Menurut pihak resmi Tsinghua, Yang juga menggalang dana untuk mendirikan Komite Pertukaran Pendidikan dengan Tiongkok, yang telah mendanai hampir seratus peneliti muda Tiongkok untuk melanjutkan studi di Amerika Serikat. Banyak dari mereka kemudian menjadi pilar utama dalam perkembangan sains dan teknologi nasional. Ia juga berperan aktif memberikan masukan dalam kebijakan ilmiah dan pendidikan, serta berkontribusi besar pada pengembangan penelitian dasar di Tsinghua.

Profesor Yao Qizhi pernah menceritakan bagaimana sosok Yang memengaruhi hidup dan kariernya. Ia berkata, “Ketika Profesor Yang dan Li Zhengdao memenangkan Nobel, saya baru berusia 11 tahun. Peristiwa itu mendorong saya memilih jurusan fisika di Universitas Nasional Taiwan. Ketertarikan saya pada sains tumbuh karena mereka. Fisika memberi saya cara berpikir ilmiah dan metode riset yang bermanfaat seumur hidup, bahkan ketika berpindah bidang sekalipun.

Saya tidak pernah membayangkan bisa bertemu langsung dengan Profesor Yang, apalagi membahas rencana untuk kembali ke Tsinghua. Saat saya mengunjungi Tiongkok pada 2002 dan berdiskusi dengan banyak pakar komputer, Tsinghua kemudian mengundang saya untuk membantu meningkatkan riset mereka. Tak lama setelah saya menyetujui tawaran itu, Profesor Yang secara pribadi mengundang saya bertemu. Pertemuan itu terasa hangat dan penuh inspirasi, dan keyakinan saya pun semakin bulat untuk kembali.

Keputusan itu disambut dengan dukungan penuh dari keluarga saya, terutama istri saya yang menganggap ini sebagai pekerjaan yang bermakna bagi bangsa dan masa depan ilmu pengetahuan.”

Wafatnya Profesor Yang Zhenning menandai berakhirnya sebuah era gemilang dalam sejarah sains. Namun, warisannya—kejeniusannya, visinya, dan dedikasinya terhadap pendidikan serta ilmu pengetahuan—akan terus menjadi cahaya yang menerangi generasi mendatang.

Selamat jalan, maestro.

接著讀