2026年9月10日

Mobil Sisa dari Pabrikan Bangkrut Kini Jadi Incaran Panas Kaum Muda

Di berbagai kota, masih mudah menemukan mobil-mobil langka dari merek yang sudah bangkrut—beberapa m...

Di berbagai kota, masih mudah menemukan mobil-mobil langka dari merek yang sudah bangkrut—beberapa masih berjuang di jalanan, sementara pemiliknya menempelkan stiker dengan nada pasrah tapi lucu: “Hati-hati menabrak, suku cadang tidak tersedia.”

Mobil-mobil yang dulu dibeli dengan harga ratusan juta rupiah dan mewakili “masa depan” kini kehilangan nyawanya seiring matinya server pabrikan. Sistem pintar berhenti bekerja, sementara pemiliknya harus hidup dalam kekhawatiran tak ada dukungan suku cadang. Namun di sisi lain, saat harga mobil-mobil ini jatuh ke titik terendah, sekelompok anak muda justru melihat kesempatan emas—ini bisa jadi mobil performa pertama mereka dengan harga yang tak masuk akal murahnya.

Dari Barang Gagal Jadi Incaran

Di sebuah tempat parkir kecil di pinggiran timur Beijing, puluhan unit JiYue 07 berderet rapi dengan label besar bertuliskan “Diskon Spesial”. Mobil yang dulunya digadang-gadang sebagai pesaing langsung Zeekr 001 itu kini ibarat barang obral di supermarket, tertutup debu dengan tulisan mencolok di kaca: “Harga Asli ¥229.900, Sekarang ¥148.000.” Seorang pengunjung berseloroh, “Kurang dari 150 juta bisa bawa pulang mobil listrik baru? Ya jelas murah—tapi penuh risiko.”

“Aku bukan bertaruh mereknya bisa bangkit lagi. Aku bertaruh baterai CATL-nya masih sehat,” ujar Xiaolin, seorang programmer berusia 29 tahun sambil mengelus bodi mobil seperti sedang memilih sayur di pasar. Setelah keluar dari pekerjaannya di perusahaan teknologi besar, ia berencana menggunakan uang yang dihemat untuk tinggal setengah tahun di Yunnan. “Kalau pabrikan tutup, server mati, dan sistemnya brick, tak apa. Asal masih bisa jalan, baterai tak soak, suspensi tak berisik—sudah cukup.”

Kuburan Mobil Listrik Jadi Gudang Impian Anak Muda

Masuklah ke grup pecinta EV atau forum “mobil bangkrut” di platform seperti Xiaohongshu atau Xianyu, dan kamu akan melihat dunia baru tumbuh liar—ekosistem mobil bekas yang sepenuhnya tanpa aturan lama. Di sini tak ada lagi loyalitas merek, tak ada garansi, tak ada janji layanan seumur hidup. Yang ada hanya spesifikasi dingin tapi menggoda: “100 kWh baterai CATL + chip Qualcomm 8295 + suspensi double wishbone + diskon 30%.”

Hampir setiap kota kini memiliki “kuburan mobil listrik”-nya sendiri. Mobil-mobil yang dulu jadi pionir teknologi kini kembali hidup sebagai raja nilai. “Kami menyebutnya taruhan hardware,” tulis seorang blogger yang dikenal sebagai “Pemburu EV”. “Kau sedang bertaruh bahwa rantai pasokan akan hidup lebih lama daripada produsennya.”

Ia bahkan membantu tiga pengikutnya membeli unit stok lama dari pabrik JiYue di Ningbo. “Dalam sebulan, lebih dari sepuluh mobil keluar. Semuanya dibeli anak muda, ada yang terbang jauh dari Mongolia Dalam,” katanya. Dari WM EX5, HiPhi X, hingga Nezha U dan JiYue 01—model-model yang dulu bersinar di panggung kini dijual hanya 30–70% dari harga awalnya, menjadi “mobil impian paling worth it” bagi generasi Z.

Dari Gengsi ke Fungsi

“Kau lihat HiPhi X ini? Dulu harganya ¥730.000, sekarang ¥180.000 sudah bisa bawa pulang,” ujar seorang pedagang mobil bekas sambil menunjuk mobil dengan “pintu menari”. “Anak muda tak peduli merek itu masih hidup atau mati—yang penting mobilnya full spek.”

Benar saja, pintu gull-wing-nya masih terbuka dengan megah meski pabriknya sudah tiada. Merek seperti WM, Nezha, dan JiYue—yang dulu diremehkan—kini justru jadi idola baru di pasar mobil listrik bekas. Fitur mewah sudah tak penting, yang dicari kini adalah kekuatan mesin dan keandalan komponen.

“Aku bukan beli mobil, aku beli satu set perangkat keras bergerak,” ujar A-Kai, desainer berusia 24 tahun yang membeli WM W6 seharga ¥60.000 dari harga aslinya ¥280.000. Ia membagikan kisahnya di media sosial—bagaimana ia memodifikasi sistem dengan software pihak ketiga, berburu suku cadang dari mobil rongsok, dan bergabung di grup komunitas perbaikan. “Pabrikan hanya perakit. Yang aku butuhkan cuma daftar spesifikasi.”

Generasi Baru Pecinta DIY

Bagi banyak anak muda, mobil “gagal produksi” ini adalah ladang kreativitas. Sebagian memodifikasi mobil jadi kendaraan harian sederhana—tanpa fitur canggih, tapi fungsional dan efisien. Sebuah Nezha S, misalnya, dipertahankan baterainya tapi dihapus sistem pintarnya, diberi kaca film, tirai, dan dudukan ponsel—jadilah ruang kecil yang tenang di tengah hiruk-pikuk kota.

Ada juga yang memilih gaya “geek”, menambah Wi-Fi portable, jok warna-warni, dan speaker besar di bagasi. Dengan biaya seharga satu smartphone, mereka menghidupkan kembali separuh kemewahan yang dulu hilang bersama mereknya.

“Tak Ada Mobil Gagal, Hanya Pemilik yang Tak Kreatif”

Fenomena ini menunjukkan perubahan mendasar dalam cara generasi muda memandang nilai sebuah mobil. Mereka tumbuh di era digital, terbiasa dengan inovasi cepat, dan tak lagi tunduk pada “prestise merek.” Asal komponen kuat—baterai CATL, chip Qualcomm, suspensi Bosch—itu sudah cukup.

“Aku tak percaya startup yang tak bisa rilis laporan keuangan, tapi aku percaya pada CATL, Qualcomm, dan Bosch,” kata seorang pembeli yang terbang dari Shenzhen ke Tianjin untuk membeli Nezha S. “Selama fondasinya kuat, mobil ini tetap bisa jalan.”

Dari Garansi Palsu ke Servis Swadaya

Namun, diskon besar selalu datang dengan risiko. Banyak yang baru benar-benar paham arti “mobil bangkrut” setelah membelinya. Seorang pemilik WM kehilangan fungsi navigasi dan musik karena server ditutup. Pemilik HiPhi lain tak bisa menemukan gagang pintu pengganti di seluruh negeri. Beberapa perusahaan asuransi bahkan memasukkan mobil merek bangkrut ke daftar hitam—premi naik gila-gilaan, bahkan ada yang menolak melindungi sama sekali.

Kondisi ini melahirkan profesi baru: perantara asuransi mobil bangkrut. Di sisi lain, komunitas daring bertukar firmware, tutorial jailbreak, dan jaringan suku cadang bekas. Bengkel independen pun kini mulai fokus pada perbaikan mobil-mobil ini.

Pakar industri menyerukan pembentukan “Dana Tanggung Jawab Purna Jual Nasional”, agar setiap produsen menyumbang sebagian penjualan untuk menanggung layanan dasar bila mereknya bangkrut. Standardisasi komponen juga dianggap penting untuk menurunkan biaya perawatan. Saat ini, banyak pemilik memilih “gotong royong” dalam komunitas untuk berbagi suku cadang dan bantuan teknis.

Masa Depan yang Rapuh tapi Menarik

Ada sedikit kabar baik: pada 6 September, WM Motor mengumumkan rencana untuk kembali berproduksi. Tapi secara keseluruhan, pemandangannya tetap suram—jumlah merek mobil listrik di Tiongkok menyusut dari lebih 400 pada 2018 menjadi sekitar 40 pada 2025. Diprediksi pada 2030 hanya tersisa 19.

Sementara itu, inovasi terus melaju. CATL berencana memproduksi baterai solid-state pada 2027 dengan jangkauan hingga 1.500 km. Ironisnya, mobil-mobil “penuh spesifikasi” yang kini diburu mungkin akan usang dalam tiga tahun.

Namun bagi anak muda, hal itu tak masalah. “Mungkin tiga tahun lagi sudah ketinggalan zaman,” kata seorang pembeli baru, “tapi aku butuh mobil sekarang—dan danaku cuma 100 juta.”

Di era baru ini, di mana merek bukan lagi segalanya, generasi muda menemukan cara baru untuk mendefinisikan kebebasan di balik kemudi. Mobil-mobil dari pabrikan bangkrut kini bukan sekadar peninggalan masa lalu—mereka telah menjadi simbol keberanian, kreativitas, dan semangat untuk tetap melaju, apa pun risikonya.

接著讀