2026年9月10日

Minuman Alkohol Rendah Booming, Tapi Brand Sulit Meraih Laba

“Cocktail ini terlihat bagus, rasanya enak, cocok diminum saat berkumpul dengan teman,” kata Zhang Q...

“Cocktail ini terlihat bagus, rasanya enak, cocok diminum saat berkumpul dengan teman,” kata Zhang Qiqi (nama samaran), konsumen generasi 2000-an, saat berbelanja di Hema, Beijing, pada 29 Desember untuk persiapan Tahun Baru. Situasi serupa terjadi di seluruh negeri, dengan zona promosi minuman alkohol rendah yang menonjol di supermarket, menarik perhatian konsumen muda.

Pasar minuman alkohol rendah berkembang pesat. Menurut “Laporan Tren Minuman Alkohol Rendah” dari TMIC dan Kantar, pasar China naik dari 20 miliar CNY pada 2020 menjadi lebih dari 57 miliar CNY pada 2024. Secara global, pasar mencapai 634,17 miliar CNY pada 2023 dan diproyeksikan melewati 740 miliar CNY pada 2025.

Pemain Baru Memasuki Pasar
Dari eksperimen pada 1970-80an hingga minuman trendi saat ini, minuman alkohol rendah mengalami beberapa gelombang inovasi. Bir nanas muncul sebagai pionir, sementara Bacardi “Bingrui” dan RIO bersaing di 2000-an. RIO berhasil merebut pasar melalui branding “muda dan modis.” Pasca-2020, merek seperti Meijian, Berry Sweet, dan Luoyin memanfaatkan media sosial dan bar khusus untuk meningkatkan popularitas.

Memasuki 2025, pasar semakin padat: produsen minuman keras tradisional seperti Moutai, Wuliangye, dan Luzhou Laojiao meluncurkan anggur buah rendah alkohol, sementara rantai retail dan restoran seperti Hema dan 7Fresh meluncurkan produk mereka sendiri. Produk baru seperti Autumn Pear Rice Wine Hema dan Cream Cheese Rice Wine 7Fresh langsung habis terjual.

Perubahan Preferensi Konsumen
Preferensi konsumen muda beralih dari “budaya jamuan” ke “minum santai.” Skenario konsumsi utama meliputi minum di rumah, berkemah, dan berkumpul dengan teman. Usia 18-35 tahun menyumbang 68% penjualan, dengan 62% perempuan. Kesadaran kesehatan mendorong preferensi minuman rendah alkohol, sementara minuman keras tinggi mulai ditinggalkan. Statistik nasional menunjukkan produksi baijiu China turun 11,5% YoY pada Jan-Okt 2025, menandai sembilan tahun berturut-turut penurunan.

Tantangan Brand
Meski pasar panas, profitabilitas sulit dicapai. Perusahaan induk RIO, Bailun, melaporkan pendapatan 22,7 miliar CNY pada tiga kuartal pertama 2025 (-4,89% YoY) dan laba bersih 5,49 miliar CNY (-4,35% YoY). Analis mencatat generasi muda mengalami “kelelahan minuman manis,” tingkat pembelian ulang menurun, dan inovasi kesehatan serta skenario masih diperlukan. Produksi OEM memungkinkan iterasi cepat, tetapi homogenisasi membatasi diferensiasi brand.

Kesimpulan
Minuman alkohol rendah telah berhasil menarik konsumen muda, tetapi brand “bintang” yang benar-benar mendominasi pasar dan mindshare masih langka. Kategori ini meriah, namun profitabilitas dan daya saing jangka panjang brand tetap menjadi tantangan.

接著讀