2026年9月10日

Film A Step Into the Past mencetak rekor baru dengan memecahkan rekor pendapatan box office hari pertama di Hong Kong.

Pada periode pergantian tahun ini, sebuah film kembali “mengguncang” pasar Hong Kong yang sempat sep...

Pada periode pergantian tahun ini, sebuah film kembali “mengguncang” pasar Hong Kong yang sempat sepi. Versi layar lebar A Step Into the Past yang menghadirkan kembali para pemain utama dari drama aslinya dilaporkan meraup sekitar HK$11,29 juta pada hari pertama tayang di Hong Kong–Makau. Angka itu disebut melampaui rekor harian film lokal tahun lalu sebesar HK$9,17 juta (The Last Dance), bahkan diklaim menjadi pembukaan hari pertama terbesar dalam sejarah film Hong Kong, sekaligus film lokal pertama yang menembus HK$10 juta dalam satu hari.

Kencangnya laju pembukaan juga terlihat dari intensitas penayangan: sekitar 1.460 jadwal tayang dalam sehari (termasuk midnight show), sampai-sampai penonton bercanda “lebih rapat dari jadwal bus.” Di Tiongkok daratan, meski porsi penayangan hanya sekitar 11%–17%, film ini tetap mencatat performa kuat dari sisi jumlah penonton per layar dan tingkat keterisian kursi, dengan pendapatan hari pertama dilaporkan sekitar RMB 40,496 juta.

Mesin utama di balik ledakan ini jelas: “semua kembali.” Louis Koo, Raymond Lam, Jessica Hsuan, Sonija Kwok, dan jajaran inti drama lama hadir lagi, memicu nostalgia lintas generasi. Cerita film melanjutkan kisah 19 tahun setelah akhir versi drama, menambahkan ide “time traveler membawa senjata modern” yang mengubah sejarah, serta memakai format multi-ending dan post-credit—strategi yang memang sengaja dibuat agar fans lama bernostalgia sekaligus ramai berdiskusi.

Namun di balik catatan manis itu, ada realitas industri: film Hong Kong beberapa tahun terakhir cukup berat di box office. Sepanjang 2025, film lokal jarang menembus HK$20 juta, sehingga A Step Into the Past dipandang sebagai “suntikan semangat.” Data yang beredar juga menyebut penonton usia 35+ mendominasi (bahkan disebut sampai 60%), menandakan gelombang ini banyak ditopang “belanja nostalgia.” Di daratan, film ini berpotensi mengalami “perbedaan suhu” karena genrenya bukan tipe keluarga (family-friendly) dan promosi lebih menekankan nostalgia, sehingga daya tarik ke penonton muda arus utama masih perlu dibuktikan.

Tekanan biaya juga penting: dengan biaya produksi yang disebut mencapai HK$350 juta, film ini membutuhkan dukungan dari pendapatan Hong Kong dan pembagian pendapatan di daratan. Jika total box office Hong Kong bisa menembus HK$15 juta, film ini berpeluang menjadi kandidat kuat juara box office film lokal tahunan; sementara hingga pagi 1 Januari, total daratan juga dilaporkan sudah melewati RMB 50 juta.

Kesimpulannya, “pembukaan spektakuler” ini bukan hanya kemenangan IP klasik, tetapi juga semacam uji tekanan bagi masa depan film Hong Kong: nostalgia masih terbukti punya daya beli kuat, namun pertanyaan besarnya—apakah momentum ini bisa menjembatani penonton baru? Bab awalnya meledak, tetapi ending-nya masih menunggu jawaban pasar.

接著讀