2026年9月10日

Apakah “senjata” terkuat Eropa mampu menandingi Amerika Serikat?

(Brussel/Washington, 20 Januari) Di tengah meningkatnya tekanan Presiden Amerika Serikat Donald Trum...

(Brussel/Washington, 20 Januari) Di tengah meningkatnya tekanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait upaya memperoleh Greenland dan upaya Eropa mencari langkah balasan, pasar keuangan mulai membahas kemungkinan ekstrem: penggunaan modal sebagai alat tekanan politik.

Negara-negara Eropa memegang obligasi dan saham Amerika Serikat senilai triliunan dolar, sebagian di antaranya dimiliki oleh dana sektor publik. Hal ini memicu spekulasi bahwa Eropa dapat merespons perang tarif baru dengan menjual aset-aset AS, langkah yang berpotensi menaikkan biaya pinjaman AS dan menekan pasar saham.

Namun, penerapannya dinilai sangat sulit. Sebagian besar aset tersebut dimiliki investor swasta di luar kendali langsung pemerintah, dan aksi jual besar-besaran juga berisiko merugikan investor Eropa sendiri. Karena itu, banyak analis menilai kemungkinan langkah ini tetap rendah, terutama karena Eropa sejauh ini menghindari konfrontasi langsung sejak Trump kembali berkuasa setahun lalu.

“Senjata modal” sebagai risiko ekstrem

Meski demikian, wacana “mempersenjatai modal” mulai muncul dalam diskusi pasar, seiring kebijakan ekspansif AS mengubah lanskap geopolitik. Total aset AS yang dimiliki Eropa diperkirakan melebihi 10 triliun dolar, dengan negara non-Uni Eropa seperti Inggris dan Norwegia memiliki jumlah lebih besar.

Para analis menilai defisit investasi internasional AS yang besar berpotensi menjadi kelemahan dolar, tetapi hanya jika pemegang asing bersedia menanggung kerugian. Investor sektor publik Eropa secara teori dapat menghentikan penambahan aset AS atau mulai mengurangi kepemilikan, namun eskalasi yang jauh lebih besar kemungkinan diperlukan sebelum tujuan politik mengalahkan pertimbangan imbal hasil.

Ketegangan ini telah tercermin dalam pergerakan pasar pada Senin, dengan tekanan pada indeks saham AS, pasar saham Eropa, dan dolar, sementara emas dan mata uang safe haven menguat. Pola ini mengingatkan pada reaksi pasar terhadap tarif Trump tahun lalu, meski dengan intensitas yang lebih ringan.

Dari perang dagang ke konflik finansial

Hingga kini, respons paling nyata dari Uni Eropa masih berfokus pada perdagangan, termasuk wacana menunda persetujuan perjanjian dagang dan mempertimbangkan tarif atas puluhan miliar euro barang AS. Beberapa pemimpin Eropa juga mendorong persiapan langkah balasan yang lebih keras.

Jika aset AS benar-benar dijadikan alat tekanan, hal itu akan menandai eskalasi besar—mengubah sengketa dagang yang berkembang menjadi konflik finansial yang berdampak langsung pada pasar modal global.

Pengamat menilai, meskipun kekuatan militer dan ekonomi AS tetap dominan, ketergantungannya pada modal asing untuk membiayai defisit eksternal merupakan titik lemah struktural. Dalam kondisi stabilitas geoekonomi Barat yang terguncang, kesediaan Eropa untuk terus memainkan peran lama tersebut kini dipertanyakan.

Investor swasta jadi faktor penentu

Sebagian kecil aset AS memang dimiliki sektor publik Eropa, tetapi mayoritas dikuasai investor swasta. Selain itu, banyak sekuritas AS yang tercatat di Eropa sebenarnya dimiliki investor dari luar kawasan.

Investor yang khawatir terhadap risiko kebijakan AS kemungkinan telah memangkas eksposur sejak gejolak pasar tahun lalu. Meski dolar melemah, obligasi pemerintah AS mencatat kinerja tahunan terbaik sejak 2020, sementara pasar saham terus mencetak rekor.

Sejumlah analis menilai penyeimbangan ulang portofolio telah terjadi, sehingga mengurangi dampak dari potensi gejolak baru. Secara keseluruhan, Uni Eropa hampir tidak memiliki kemampuan untuk memaksa investor swasta menjual aset dolar, dan hanya dapat mendorong pergeseran dana secara bertahap ke aset berdenominasi euro.

接著讀