2026年9月10日

Tak Hanya Pasar Saham Bergejolak, Indonesia Kembali Dihantam Pukulan Baru!

(Jakarta, 6 Feb) Berdasarkan laporan media internasional, lembaga pemeringkat kredit Moody’s pada Ka...

(Jakarta, 6 Feb) Berdasarkan laporan media internasional, lembaga pemeringkat kredit Moody’s pada Kamis (5 waktu setempat) menurunkan prospek peringkat Indonesia dari “stabil” menjadi “negatif”, dengan alasan kekhawatiran terhadap stabilitas kebijakan dan tata kelola pemerintahan di bawah Presiden Prabowo Subianto. Meski demikian, Moody’s tetap mempertahankan peringkat kredit kedaulatan Indonesia di level investasi, yaitu “Baa2”.

Langkah ini mencerminkan meningkatnya kewaspadaan pasar global terhadap disiplin fiskal dan transparansi pengambilan kebijakan di ekonomi terbesar Asia Tenggara. Dalam pernyataannya, Moody’s menyebut penurunan prospek dipicu oleh menurunnya prediktabilitas kebijakan, yang berpotensi melemahkan efektivitas implementasi kebijakan serta mengindikasikan pelemahan tata kelola.

Sejak menjabat, Prabowo mendorong berbagai reformasi besar, termasuk memperluas program belanja sosial, membentuk dana kekayaan negara baru bernama Danantara, mengganti menteri keuangan yang dihormati pasar, serta menunjuk orang-orang dekatnya ke dewan bank sentral. Langkah-langkah tersebut memicu kekhawatiran pasar terkait pelebaran defisit fiskal dan independensi kebijakan moneter. Moody’s memperingatkan bahwa jika tren ini berlanjut, kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama dibangun dapat tergerus, sehingga mengganggu stabilitas makroekonomi dan keuangan.

Gejolak pasar dan arus keluar modal

Sebelumnya, pasar modal Indonesia telah mengalami gejolak tajam. MSCI memperingatkan adanya masalah transparansi di pasar saham Indonesia dan risiko penurunan status menjadi “frontier market”, yang memicu arus keluar dana asing.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 5% dalam satu hari dan memicu mekanisme penghentian perdagangan (circuit breaker), dengan nilai pasar menguap lebih dari US$80 miliar (sekitar RM316,4 miliar). Kepala bursa kemudian mengundurkan diri pada akhir Januari. Moody’s menyatakan bahwa peringkat Indonesia masih berisiko diturunkan lebih lanjut jika ekspansi fiskal berlanjut tanpa reformasi pendapatan, atau jika arus keluar modal memperburuk posisi eksternal negara.

Menanggapi penurunan prospek tersebut, Kementerian Keuangan Indonesia menyampaikan “terima kasih” kepada Moody’s karena tetap mempertahankan peringkat investasi, serta menegaskan bahwa pemerintah sedang menjalankan transformasi ekonomi untuk mendorong pertumbuhan sekaligus menjaga risiko fiskal tetap terkendali. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan lembaga pemeringkat internasional belum sepenuhnya memahami langkah reformasi Indonesia, dan mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo telah memerintahkan tindakan tegas terhadap setiap pelanggaran aturan pasar saham. Para analis memperkirakan aset Indonesia masih akan menghadapi tekanan jual dalam jangka pendek hingga pemerintah menyampaikan reformasi transparansi yang lebih meyakinkan.

接著讀