Tak Hanya Pasar Saham Bergejolak, Indonesia Kembali Dihantam Pukulan Baru!
(Jakarta, 6 Feb) Berdasarkan laporan media internasional, lembaga pemeringkat kredit Moody’s pada Ka...
(Jakarta, 6 Feb) Berdasarkan laporan media internasional, lembaga pemeringkat kredit Moody’s pada Kamis (5 waktu setempat) menurunkan prospek peringkat Indonesia dari “stabil” menjadi “negatif”, dengan alasan kekhawatiran terhadap stabilitas kebijakan dan tata kelola pemerintahan di bawah Presiden Prabowo Subianto. Meski demikian, Moody’s tetap mempertahankan peringkat kredit kedaulatan Indonesia di level investasi, yaitu “Baa2”.
Langkah ini mencerminkan meningkatnya kewaspadaan pasar global terhadap disiplin fiskal dan transparansi pengambilan kebijakan di ekonomi terbesar Asia Tenggara. Dalam pernyataannya, Moody’s menyebut penurunan prospek dipicu oleh menurunnya prediktabilitas kebijakan, yang berpotensi melemahkan efektivitas implementasi kebijakan serta mengindikasikan pelemahan tata kelola.
Sejak menjabat, Prabowo mendorong berbagai reformasi besar, termasuk memperluas program belanja sosial, membentuk dana kekayaan negara baru bernama Danantara, mengganti menteri keuangan yang dihormati pasar, serta menunjuk orang-orang dekatnya ke dewan bank sentral. Langkah-langkah tersebut memicu kekhawatiran pasar terkait pelebaran defisit fiskal dan independensi kebijakan moneter. Moody’s memperingatkan bahwa jika tren ini berlanjut, kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama dibangun dapat tergerus, sehingga mengganggu stabilitas makroekonomi dan keuangan.
Gejolak pasar dan arus keluar modal
Sebelumnya, pasar modal Indonesia telah mengalami gejolak tajam. MSCI memperingatkan adanya masalah transparansi di pasar saham Indonesia dan risiko penurunan status menjadi “frontier market”, yang memicu arus keluar dana asing.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 5% dalam satu hari dan memicu mekanisme penghentian perdagangan (circuit breaker), dengan nilai pasar menguap lebih dari US$80 miliar (sekitar RM316,4 miliar). Kepala bursa kemudian mengundurkan diri pada akhir Januari. Moody’s menyatakan bahwa peringkat Indonesia masih berisiko diturunkan lebih lanjut jika ekspansi fiskal berlanjut tanpa reformasi pendapatan, atau jika arus keluar modal memperburuk posisi eksternal negara.
Menanggapi penurunan prospek tersebut, Kementerian Keuangan Indonesia menyampaikan “terima kasih” kepada Moody’s karena tetap mempertahankan peringkat investasi, serta menegaskan bahwa pemerintah sedang menjalankan transformasi ekonomi untuk mendorong pertumbuhan sekaligus menjaga risiko fiskal tetap terkendali. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan lembaga pemeringkat internasional belum sepenuhnya memahami langkah reformasi Indonesia, dan mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo telah memerintahkan tindakan tegas terhadap setiap pelanggaran aturan pasar saham. Para analis memperkirakan aset Indonesia masih akan menghadapi tekanan jual dalam jangka pendek hingga pemerintah menyampaikan reformasi transparansi yang lebih meyakinkan.
Perang Harga CPU Server: AMD dan Intel Turunkan Harga hingga 50%—EPYC 192-Core Kini Hanya Rp 112 Juta
Persaingan di pasar chip server x86 memanas saat AMD dan Intel kompak memangkas harga CPU kelas atas...
Laporan: Manajemen Manchester United Pertimbangkan Pulangkan De Gea Tahun Depan untuk Membimbing Lamins — Amorim Sangat Mengaguminya
Manchester United Pertimbangkan Pulangkan De Gea untuk Bimbing Lamins — Amorim Sangat Mengaguminya M...
Meledak! Yu Jiahao Cetak 17 Poin di Laga Kedua di Luar Negeri, Tapi Gagal Hindari Kekalahan Tipis Satu Poin dan Telan Dua Kekalahan Beruntun
Pada 11 September waktu Beijing, pebasket tim nasional China, Yu Jiahao, kembali mencuri perhatian d...
Taman Hiburan “Disney ala China” Kini Milik Korea Selatan
Bagi banyak perusahaan besar di China, membangun taman hiburan seperti Disneyland adalah mimpi yang ...
Menuai Kontroversi! Mantan Bintang Timnas Tenis Meja China Bela Tomokazu Harimoto: “Dia Pernah Traktir Saya Barbeku — Sosok yang Berkarakter dan Patut Dihormati!”
Pada 26 Oktober waktu Beijing, mantan bintang tenis meja tim nasional Tiongkok, Zhou Yu, memicu perd...
Rusia Kejutan 0-2 Lawan Chile, Akhiri Rekor Tak Terkalahkan 22 Laga
Pada 16 November, Rusia yang peringkat dunia ke-30 kalah 0-2 dari Chile dalam pertandingan persahaba...
Kenyataan dalam dinamika kekuasaan di tempat kerja bukan hanya soal kemampuan, tetapi siapa yang lebih memahami cara “berperan” dan menjaga citra dengan tepat.
Bagi banyak orang, dunia kerja adalah arena kompetisi keterampilan, kinerja, dan jam lembur.Namun ke...
Tune Group menjual sahamnya dan kini bukan lagi pemegang saham terbesar AirAsia X.
(Kuala Lumpur, 6 Januari) AirAsia X (AAX, 5238) mengumumkan bahwa Tune Group tidak lagi menjadi peme...
Gelombang IPO terkuat dalam hampir 20 tahun, Malaysia memimpin pasar IPO Asia Tenggara.
(Kuala Lumpur, 28 Januari)Malaysia mencatat kinerja paling aktif di pasar penawaran umum perdana (IP...
CEO akan segera mengakhiri masa jabatannya, dan AEON Bank mulai menjalankan rencana suksesi.
(Kuala Lumpur, 4)AEON Bank hari ini mengumumkan bahwa Chief Executive Officer (CEO) mereka, Raja Dam...
Hanya Satu Peringkat di Bawah China! Evaluasi Olimpiade Musim Dingin Korea Picu Kritik Tajam
Setelah penutupan Olimpiade Musim Dingin Milan, Korea Selatan finis di peringkat ke-13 klasemen meda...
Cipta Sejarah! Hasil 8–10 Jadi Penentu, Ding Junhui Diuntungkan, 5 Pemain China Masuk Status Unggulan di Kejuaraan Dunia
Di Tour Championship 2026, kekalahan Thepchaiya Un-Nooh dari Barry Hawkins memastikan Ding Junhui te...