2026年9月10日

Eskalasi Perang Dagang Tiongkok-AS: Pertarungan Logam Langka dan Chip — Perebutan di Balik Perang Hambatan Non-Tarif

Artikel ini menganalisis pandangan Liu Heping tentang perkembangan baru dalam perang dagang Tiongkok-AS. Ia menunjukkan bahwa setelah perang tarif mereda, pemerintahan Trump beralih ke hambatan non-tarif, termasuk pembatasan visa pelajar Tiongkok, penghentian ekspor produk teknologi tinggi, dan pembatasan chip canggih. Sebagai tanggapan, Tiongkok menggunakan pengendalian ekspor logam langka, yang menyingkap “titik lemah” Amerika dalam ketergantungan pada logam langka Tiongkok. Pertarungan telah beralih dari tarif menjadi pertarungan teknologi dan sumber daya. Liu menekankan bahwa strategi logam langka Tiongkok adalah pertahanan strategis, bertujuan mendorong AS melonggarkan blokade chip, bukan pemutusan total. Jika kebuntuan berlanjut hingga 2030, kedua pihak berisiko kehilangan pasar dan mengalami pemisahan industri, yang akan berdampak luas pada ekonomi global.

Tanya Jawab Utama

T: Bagaimana Anda melihat langkah non-tarif terbaru pemerintahan Trump?
J: Dalam beberapa hari terakhir, Trump mengambil tindakan ekstrem dan tak terduga:
1️⃣ Memperketat visa dan media sosial pelajar Tiongkok, mengancam mencabut 270.000 visa—padahal pelajar ini menyumbang miliaran dolar ke universitas AS dan perkembangan teknologi.
2️⃣ Menghentikan ekspor mesin dan suku cadang pesawat ke Tiongkok, meski sebelumnya Trump bekerja keras untuk pesanan ini.
3️⃣ Memerintahkan perusahaan EDA besar AS menghentikan layanan ke klien Tiongkok, padahal pasar Tiongkok adalah sumber laba utama.

Langkah-langkah ini menunjukkan:
🔹 Perang tarif berakhir, bergeser ke perang hambatan non-tarif.
🔹 Trump rela “saling melukai,” bahkan menggunakan “barang rumah tangga” sebagai senjata.
Selain itu, pejabat AS mengancam akan meningkatkan tekanan melalui isu diplomatik, keamanan, dan Taiwan.

T: Bagaimana tanggapan Anda terhadap tuduhan AS bahwa Tiongkok belum mencabut hambatan non-tarif?
J: Hambatan yang disebut AS itu sebenarnya kontrol Tiongkok atas ekspor logam langka. Faktanya:
✅ Tiongkok tak membuat aturan baru dan telah memulihkan sebagian ekspor logam langka.
✅ Tiongkok memperkuat pengawasan penyelundupan, memakai big data dan inspeksi untuk memastikan alur legal.

Langkah ini sah secara hukum, tapi langsung mengenai kelemahan AS. Laporan menunjukkan jet tempur F-35, chip AI, dan industri mobil AS terancam berhenti produksi karena kekurangan logam langka. AS kini kewalahan mengajukan keluhan pada Trump, menegaskan ketergantungan mereka.

T: Bagaimana Anda melihat pernyataan Kedutaan Besar Tiongkok di AS?
J: Pernyataan Liu Pengyu membuka tiga fakta:
🔸 Tiongkok menahan ekspor logam langka karena AS tetap memblokir chip canggih.
🔸 Pesan Tiongkok: “Mau logam langka? Buka dulu blokade chip.”
🔸 Ini adalah pertarungan pamungkas: logam langka vs. chip, siapa penguasa ekonomi dan teknologi.
Tanggung jawab kini di AS untuk mencabut blokade chip jika ingin perdamaian nyata.

T: Bagaimana Anda melihat arah pertarungan logam langka dan chip ini?
J:
🔹 Kontrol ekspor logam langka Tiongkok adalah pertahanan strategis, bukan pemutusan total—tujuannya memaksa AS kembali rasional.
🔹 Tiongkok tahu logam langka bukan “senjata pamungkas” selamanya. AS punya potensi dan sumber daya, dalam 5 tahun bisa mandiri.
🔹 Tiongkok juga investasi besar dalam R&D chip, diperkirakan 5 tahun lagi bisa pecahkan masalah.

Jika hingga 2030 belum ada kompromi, keduanya bisa kehilangan pasar dan benar-benar “berpisah,” merusak rantai pasok global. AS perlu menunjukkan ketulusan, kedua pihak harus mencegah eskalasi lebih lanjut.

Poin Kunci:
✅ Perang dagang bergeser dari tarif ke pertarungan logam langka vs. chip.
✅ Tiongkok gunakan logam langka sebagai kartu strategi, bukan pemutusan total, untuk mendorong AS longgarkan blokade chip.
✅ Kedua pihak tahu kelemahan masing-masing—Tiongkok butuh chip, AS butuh logam langka.
✅ Tanpa kompromi hingga 2030, pemisahan industri global akan menghancurkan rantai pasok teknologi.
✅ Pantau apakah AS akan melonggarkan blokade chip dan bagaimana Tiongkok terus menggunakan kartu logam langka dalam negosiasi ini.

接著讀