2026年9月10日

Setelah Guo Youcai dan Li Xiaohua Meroket ke Puncak Popularitas, Kini Mereka Meredup — “Chicken Cutlet Brother” Tampaknya Akan Mengulangi Nasib yang Sama

Setelah Guo Youcai dan Li Xiaohua Meroket ke Puncak Popularitas, Kini Mereka Meredup — dan “Chicken ...

Setelah Guo Youcai dan Li Xiaohua Meroket ke Puncak Popularitas, Kini Mereka Meredup — dan “Chicken Cutlet Brother” Tampaknya Akan Mengulangi Nasib yang Sama

Belakangan ini, sosok “Chicken Cutlet Brother” dari Jingdezhen menjadi sensasi baru di dunia maya. Dalam hitungan hari, gerobak ayam gorengnya dikerumuni massa — dari kamera siaran langsung, kreator video pendek, hingga wisatawan dari berbagai daerah. Suasananya bukan lagi seperti warung kaki lima biasa, melainkan pesta rakyat berskala nasional.

Namun di balik euforia itu, satu komentar di internet menjadi viral dan menusuk hati banyak orang:
“Sekelompok jiwa yang kosong berbondong-bondong menuju satu kehidupan yang penuh semangat, menyedot energinya demi menutupi kekosongan mereka sendiri. Setiap tahun, internet akan ‘mengorbankan’ satu orang — semua orang mendapat keuntungan, kecuali dirinya sendiri.”
Kalimat ini menggambarkan dengan tajam kenyataan pahit di era video pendek: siklus tak berujung antara viralitas dan kehancuran.

Melihat perjalanan “Chicken Cutlet Brother”, rasanya seperti mengulang sejarah. Tahun lalu ada Guo Youcai, yang lewat lagu Promise berhasil menyentuh jutaan hati dan menarik lebih dari sepuluh juta penonton ke ruang siarannya. Setelah itu muncul penata rambut Li Xiaohua, yang dengan gunting dan ketulusan berhasil menembus media arus utama. Namun kini, keduanya telah meredup. Penonton pergi, siaran mereka sunyi, dan “idola rakyat” itu kembali menjadi orang biasa. Fenomena “Chicken Cutlet Brother” pun tampaknya hanyalah awal dari siklus yang sama.

Ritme “terkenal — jenuh — dilupakan” ini mencerminkan kerasnya ekosistem perhatian di dunia digital. Di era video pendek, algoritma menentukan eksposur, emosi menentukan trafik, dan penonton memburu hal-hal yang dianggap “tulus” dan “dekat dengan rakyat”. Namun tanpa sadar, mereka justru menguras kehidupan orang-orang yang mereka idolakan. “Chicken Cutlet Brother” menjadi terkenal karena kesederhanaannya — hangat, jujur, dan membumi. Tapi ketika ribuan kamera menyorotnya, keaslian itu perlahan terdistorsi, dikomersialisasi, dan berubah bentuk. Gerobaknya tak lagi sekadar tempat menjual ayam goreng, melainkan panggung digital; ia bukan lagi pedagang biasa, melainkan simbol dari emosi kolektif publik.

Yang paling ironis, penerima manfaat terbesar dari “ledakan viral” bukanlah orang yang jadi pusat perhatian. Mereka mungkin sempat menikmati ketenaran dan pendapatan singkat, namun cepat tergulung oleh gelombang berikutnya. Justru platform, agensi, kreator turunan, dan para pedagang yang menunggangi trenlah yang menjadi pemenang sejati. Ketika sorotan padam, mereka yang dulu dielu-elukan hanya tersisa kehidupan yang terganggu dan ketenangan yang hilang.

Kisah “Chicken Cutlet Brother” tampaknya tidak akan menjadi pengecualian. Popularitas di dunia maya selalu sementara, dan perhatian internet secepat datangnya begitu pula perginya. Meski begitu, bukan berarti ia tak layak disukai — hanya saja, semestinya antusiasme publik dibarengi dengan rasa hormat dan kesadaran. Melihat seseorang yang sederhana seharusnya menjadi bentuk kebaikan, bukan ritual “pengorbanan” demi trafik semata.

Mungkin yang perlu kita renungkan bukanlah “Siapa yang viral sekarang?” melainkan “Mengapa kita selalu butuh seseorang untuk dibakar demi perhatian kita?” Karena ketika hiruk-pikuk mereda, mereka yang pernah kita tonton akan kembali ke kehidupan nyata — sementara kita sudah sibuk mencari kisah berikutnya untuk dikonsumsi.

接著讀