2026年9月12日

Zhang Jiaqi Ungkap Perjuangan Tersembunyi: “Menstruasi Terasa Seperti Awal Mimpi Buruk, Hampir Selalu Datang Saat Bertanding”

Pada 22 November, atlet loncat indah berusia 21 tahun, Zhang Jiaqi, resmi mengumumkan pensiun dari d...

Pada 22 November, atlet loncat indah berusia 21 tahun, Zhang Jiaqi, resmi mengumumkan pensiun dari dunia olahraga. Ia meninggalkan arena dengan segudang prestasi membanggakan, namun juga menyimpan sejumlah penyesalan. Dalam sebuah wawancara eksklusif terbaru, Zhang Jiaqi membuka hatinya, menceritakan perjalanan kariernya, perasaannya terhadap loncat indah, serta bagaimana takdir kerap memainkan peran besar dalam hidupnya.

Bakat Zhang Jiaqi bersinar sejak usia sangat muda. Pada 2016, saat baru berusia 12 tahun, ia sudah berhasil merebut gelar juara tingkat nasional. Namun, karena usianya belum genap 14 tahun, ia harus rela melewatkan kesempatan tampil di Olimpiade Rio. Setelah itu, Olimpiade Tokyo yang semula dijadwalkan lebih cepat justru tertunda satu tahun. Di masa krusial tersebut, Zhang Jiaqi menghadapi tantangan besar dalam masa pertumbuhan fisik dan perkembangan performanya. Dalam persaingan ketat dengan Quan Hongchan, ia akhirnya kalah dalam perebutan nomor individu dan hanya bisa tampil di nomor sinkron. Pada Olimpiade 2024, ia kembali berada di posisi cadangan untuk nomor ganda dan tidak memperoleh kesempatan turun bertanding.

Munculnya dua bintang baru, Quan Hongchan dan Chen Yuxi, membuat peluang Zhang Jiaqi di level tertinggi semakin terbatas. Ia mengakui ada rasa penyesalan yang tersisa. “Persaingannya terlalu ketat. Di tim nasional, hampir tidak ada yang melakukan kesalahan. Pasti ada perasaan datang di waktu yang tidak tepat,” ujarnya. “Tapi saya menerimanya. Saya percaya setiap orang yang lahir di dunia ini punya misi masing-masing yang harus diselesaikan.”

“Ketika para jenius lahir di zaman yang sama, itu bisa menjadi sebuah tragedi,” tambahnya. “Seperti balet udara yang indah, tetapi sangat kejam.”

Dalam wawancara tersebut, jurnalis juga menyinggung topik yang jarang dibahas secara terbuka di dunia olahraga, yaitu soal menstruasi dan dampaknya bagi atlet. Zhang Jiaqi menjawab dengan jujur, “Itu seperti tanda bahwa mimpi buruk akan dimulai. Secara mental dan fisik pasti ada pengaruhnya. Saat latihan, suasana hati bisa menjadi buruk, mudah marah, dan tubuh terasa lebih cepat lelah.”

“Bagi orang biasa, ini adalah proses yang sangat normal,” lanjutnya. “Tetapi bagi kami, kami harus memikirkan apa yang harus dilakukan jika hal itu terjadi saat pertandingan besar.”

Ketika ditanya apakah ia pernah mengalaminya saat bertanding, jawaban Zhang Jiaqi cukup mengejutkan. “Setiap kali,” katanya. “Sejak Olimpiade Tokyo, rasanya hampir setiap kompetisi saya selalu bertepatan dengan datangnya haid. Saya hanya bisa memaksakan diri untuk tetap melompat. Pasti memengaruhi performa. Tubuh terasa lebih berat, dan bagian bawah terasa sangat terbebani.”

Saat ditanya apakah ada cara melalui obat-obatan untuk mempercepat atau menunda siklus tersebut, Zhang Jiaqi menjelaskan bahwa memang ada caranya, tetapi ia tidak pernah menggunakannya. “Ada cara untuk menundanya, tapi saya tidak pernah memakainya. Kalau sudah datang, ya saya terima saja. Mungkin ini berkaitan dengan kondisi tubuh saya sejak kecil, juga sangat dipengaruhi oleh emosi dan tekanan.”

Melalui pengakuan yang jujur ini, Zhang Jiaqi bukan hanya menunjukkan kerasnya persaingan di olahraga elite dan tekanan mental yang menyertainya, tetapi juga membuka mata publik tentang tantangan fisik yang selama ini diam-diam dihadapi para atlet perempuan di balik gemerlap prestasi.

接著讀