2026年9月10日

Insinyur Mulai Bekerja untuk AI—dan Mengaku ‘Ketagihan’

Jika Anda terbiasa memberi perintah kepada AI, ini mungkin terdengar mengejutkan: kini AI justru mul...

Jika Anda terbiasa memberi perintah kepada AI, ini mungkin terdengar mengejutkan: kini AI justru mulai memberi instruksi kepada manusia.

Baru-baru ini, insinyur Midjourney @aidanshandle membagikan video viral di X. Dalam video tersebut, Claude tidak sekadar menulis kode, melainkan mengatur pekerjaan—meminta manusia merilis versi TestFlight, menulis materi promosi, dan menjalankan pengujian.

Claude bahkan menjelaskan langkah pengujian secara rinci, mencakup perangkat, versi iOS, hingga cara membuat tautan TestFlight dan mempromosikannya di media sosial.

Banyak orang terkejut. Bukankah AI seharusnya menjadi alat? Kini justru bertindak seperti manajer proyek. Adegan ini mengingatkan pada film Ratatouille—bedanya, kali ini AI adalah Remy, dan manusia adalah kokinya.

Perubahan ini dimungkinkan oleh Claude Code, agen AI berbasis terminal dari Anthropic. AI ini mampu memindai proyek, membaca Git log, menganalisis dependensi, menjalankan perintah Bash, mengedit kode, dan menjalankan pengujian secara mandiri.

Lebih penting lagi, Claude Code bisa melakukan iterasi sendiri. Jika pengujian gagal, ia memperbaiki bug dan mengulang proses—memungkinkan eksekusi tanpa pengawasan manusia.

Setelah video tersebut viral, @aidanshandle meluncurkan aplikasi Shannon, yang memudahkan AI untuk “mengatur” manusia dalam proses kerja.

Secara efisiensi, hal ini masuk akal. Seperti navigasi GPS dan pengemudi—ketika AI lebih unggul dalam perencanaan, menyerahkan kendali justru meningkatkan hasil.

Sebelumnya, kolaborasi AI mengikuti model “centaur”: manusia dan mesin bekerja bersama. Kini, alat seperti Cowork memungkinkan AI merencanakan dan mengeksekusi tugas secara mandiri, hanya meminta bantuan manusia saat diperlukan.

Cara kerja pun berubah. AI mengatur file, mengganti nama folder, mengekstrak data dari tangkapan layar, dan membuat tabel otomatis. Produktivitas meningkat drastis—dan siapa yang memegang kendali menjadi kurang penting.

Pendiri Node.js Ryan Dahl bahkan menyatakan bahwa era manusia menulis kode telah berakhir. Konsep ini sejalan dengan “Vibe Coding”, di mana programmer menyampaikan niat, dan AI menangani detail teknis.

Bahkan Linus Torvalds mulai menerapkan pendekatan ini. Insinyur Google Logan Thorneloe juga mengakui bahwa rekayasa perangkat lunak telah berubah secara fundamental.

Namun, peran manusia belum hilang—melainkan bergeser dari menulis kode menjadi meninjau kode. Pemahaman manusia tetap penting untuk menilai kualitas dan makna hasil AI.

Dampak psikologisnya nyata. Peneliti DeepMind Rohan Anil pernah berkata, “Di era mobil, saya merasa seperti kuda.”
Sementara itu, Andrej Karpathy menyebut perubahan ini sebagai “gempa bumi level 9” bagi profesi software engineer.

Mungkin perubahan paling halus bukanlah AI memberontak—melainkan AI mengambil alih dengan sopan, lalu berkata:
“Bisa tolong cek dokumen ini sebentar?”

接著讀