2026年9月10日

Mengaku Paling Bersih, Tetap Terjerat: Raksasa Liga Super Tiongkok Dihukum, Label “Tim Palsu” Tak Terelakkan

Pada 29 Januari 2026, pengumuman sanksi dari Asosiasi Sepak Bola Tiongkok (CFA) mengguncang dunia se...

Pada 29 Januari 2026, pengumuman sanksi dari Asosiasi Sepak Bola Tiongkok (CFA) mengguncang dunia sepak bola nasional. Sebanyak 13 klub profesional dijatuhi pengurangan poin dan denda, dengan sembilan klub Liga Super Tiongkok (CSL) memulai musim baru dari posisi minus—tanpa satu pun yang langsung terdegradasi. Badai “anti-pengaturan skor” yang datang terlambat ini membuka kembali luka lama sepak bola profesional Tiongkok dan memunculkan satu pertanyaan tajam: jika para raksasa pun tumbang, siapa yang masih bisa menghindari cap “tim palsu”?

Shanghai Shenhua dan Tianjin Jinmen Tiger menjadi yang paling menonjol, masing-masing dipotong 10 poin dan didenda 1 juta yuan. CFA menyatakan kedua klub terlibat transaksi yang melanggar etika olahraga pada periode 2016–2018. Bagi Shenhua, klub legendaris dengan basis suporter besar, hukuman ini terasa sebagai kejatuhan simbolik. Bagi Tianjin—dengan sejarah panjang sejak era Tianjin Teda—sanksi ini menandai penyelesaian dosa masa lalu yang tertunda.

Kejutan berlanjut ketika klub-klub besar lainnya ikut terseret. Juara bertahan Shanghai Port kehilangan lima poin, sementara Beijing Guoan—yang lama mengklaim diri sebagai klub “paling bersih”—mendapat hukuman serupa. Klaim moral runtuh seketika, dan keheningan para pendukung di media sosial mencerminkan kekecewaan yang mendalam.

Shandong Taishan bahkan kehilangan enam poin akibat pelanggaran yang berlangsung antara 2013 hingga 2020. Sebagai klub peraih banyak gelar, lamanya periode pelanggaran menunjukkan betapa mengakarnya masalah lama dalam CSL. Hampir semua raksasa tradisional tersentuh hukuman, membuat kredibilitas liga berada di titik kritis.

Menariknya, tak ada klub yang terdegradasi—berbeda dengan kasus 2009 yang menjatuhkan Guangzhou Pharmaceutical dan Chengdu Blades. CFA menegaskan sanksi ditentukan berdasarkan skala, sifat pelanggaran, dan dampak sosial, namun banyak pihak mempertanyakan apakah pemotongan poin dan denda saja cukup memberi efek jera.

Dengan 13 klub dihukum dan 73 pelaku sepak bola dilarang seumur hidup, langkah ini jelas signifikan. Namun ketika klub yang mengaku “paling bersih” pun tercoreng, label “tim palsu” tak lagi bersifat individual—melainkan cap kolektif dari sebuah era. Musim baru CSL pun dimulai dengan beban sejarah yang berat.

Kini pertanyaannya bukan lagi siapa yang bersalah, melainkan apakah sepak bola Tiongkok mampu benar-benar berubah. Hanya dengan menegakkan keadilan dan menjadikan hasil pertandingan murni ditentukan oleh kemampuan, CSL dapat melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu dan merebut kembali kepercayaan publik.

接著讀