2026年9月10日

9 Pemain Cedera, 3 Bintang Inti Masih Tertatih! Chelsea di Ambang Krisis, Manajemen Tegas Tolak Belanja Bek di Bursa Musim Dingin

Pada dini hari tanggal 5 Oktober waktu Beijing, laga panas “Red vs Blue” akan tersaji di pekan ke-7 ...

Pada dini hari tanggal 5 Oktober waktu Beijing, laga panas “Red vs Blue” akan tersaji di pekan ke-7 Premier League musim 2025/26, ketika Chelsea menjamu Liverpool di Stamford Bridge. Menjelang duel besar ini, jurnalis Daily Mail yang mengikuti Chelsea, Kieran Gill, menulis kolom khusus yang mengungkap kondisi sulit yang kini dihadapi The Blues. Di bawah kepemilikan Clearlake Capital, Chelsea pernah dikenal memiliki skuad paling mewah dan dalam di Eropa. Namun kini, tim yang dulu bertabur bintang itu justru dilanda badai cedera, dan sedikit saja lengah, mereka bisa benar-benar kolaps.

Musim panas lalu, Chelsea masih berada di puncak kejayaan. Mereka menumbangkan Paris Saint-Germain dengan skor 3-0 di final Piala Dunia Antarklub, meraih “grand slam” gelar di level klub. Hanya 25 hari setelahnya, pasukan Enzo Maresca tampil garang di dua laga pramusim — menang 2-0 atas Bayer Leverkusen dan menghancurkan AC Milan 4-1 — hasil yang membuat fans penuh optimisme menyambut musim baru. Namun hanya tujuh minggu berselang, tim juara itu berubah total. Kini, Chelsea kehilangan 9 pemain karena cedera, sementara tiga pemain inti termasuk Moisés Caicedo terpaksa tampil dalam kondisi tidak fit. Sepanjang September, performa mereka menurun drastis — hanya menang tipis 1-0 atas Lincoln City di Piala Liga, imbang 2-2 melawan Brentford, dan kalah dari Bayern Munich, Manchester United, serta Brighton. Dulu mereka diejek karena “skuad terlalu gemuk”, tapi kini justru kekurangan pemain. Meski tampil di kandang sendiri, menghadapi juara bertahan Liverpool dengan rekor tanpa kemenangan dalam tiga laga liga terakhir jelas membuat situasi Chelsea sangat berat.

Chelsea sebenarnya memiliki sistem analisis data paling canggih di dunia sepak bola, yang secara real-time mengumpulkan detail performa tim dan pemain untuk membantu keputusan taktis Maresca. Namun sekalipun dengan dukungan teknologi, krisis ini tak bisa dihindari. Menurut Daily Mail, beberapa minggu lalu striker João Pedro sempat meminta waktu istirahat, tetapi karena tidak ada pelapis yang tersedia, Maresca tak punya pilihan selain terus menurunkannya sebagai starter. Sejak bergabung, Pedro sudah tampil di 3 laga Piala Dunia Antarklub, 6 laga Premier League, dan 2 laga Liga Champions, hanya sekali mendapat jeda saat melawan Lincoln City di Piala Liga.

Sementara itu, striker muda Mason Burstow (Giwu) yang sempat dipinjamkan ke Sunderland, dipanggil pulang setelah Delap mengalami cedera. Namun sejauh ini, ia belum diberi kesempatan bermain satu kali pun. Padahal musim lalu ia tampil 16 kali di semua ajang, mencetak 6 gol, termasuk hat-trick di Conference League. Kini, di tengah krisis pemain, ia tetap tidak dimainkan — sebuah keputusan yang dinilai sebagian pengamat sebagai bentuk “taruhan ego” dari Maresca.

Masalah terbesar Chelsea justru bukan di lini depan, melainkan di lini belakang. Levi Colwill, Wesley Fofana, dan Axel Disasi semuanya absen karena cedera, memaksa pemain muda Hato, yang sebenarnya disiapkan untuk menggantikan Cucurella di posisi bek kiri, tampil sebagai bek tengah darurat. Meski situasi genting, pihak manajemen klub tetap bersikap tegas — menolak keras rencana membeli bek baru pada bursa transfer musim dingin.

Menurut pandangan manajemen, keputusan itu masuk akal. Musim lalu, Chelsea tampil luar biasa di dua kompetisi, finis di posisi empat besar Premier League sekaligus menjuarai UEFA Conference League dan Piala Dunia Antarklub. Musim panas ini mereka memang melepas sejumlah pemain, namun juga mendatangkan 10 rekrutan baru, sehingga dewan klub menilai Maresca masih bisa “menggali kekuatan dari dalam” seperti musim lalu.

Namun realitasnya jauh lebih keras. Tingkat persaingan antara Conference League dan Liga Champions jelas tak sebanding. Di Eropa level ketiga, Chelsea bisa menang besar bahkan dengan skuad cadangan, tetapi ketika menghadapi Bayern Munich di Liga Champions, bahkan dengan kekuatan penuh mereka tetap tumbang 1-3. Beberapa waktu lalu, Maresca secara terbuka mengakui bahwa skuadnya tidak cukup dalam untuk bersaing di Premier League dan Liga Champions secara bersamaan — pernyataan yang kabarnya membuat manajemen murka. Meski begitu, ucapan sang pelatih asal Italia bukan tanpa alasan.

Dengan jadwal Premier League yang padat dan rawan badai cedera di awal, pertengahan, dan akhir musim, Chelsea kini menghadapi ujian paling berat di era Clearlake. Menjelang duel melawan Liverpool, pertanyaan terbesar bukan lagi apakah mereka bisa menang — tapi apakah The Blues masih mampu bertahan dan tidak benar-benar runtuh sebelum badai ini berakhir.

接著讀