2026年9月10日

Setelah kebakaran Hong Kong, reputasi Su Bingtian melonjak drastis — ucapannya “seakar dan sejiwa” penuh makna, hingga mengejutkan Quan Hongchan

Berita kebakaran di Hung Fuk Court, Tai Po, Hong Kong membuat banyak orang terpukul. Hingga pukul 4 ...

Berita kebakaran di Hung Fuk Court, Tai Po, Hong Kong membuat banyak orang terpukul. Hingga pukul 4 sore pada 1 Desember, korban jiwa telah mencapai 151 orang. Polisi Hong Kong dan ICAC menangkap 14 tersangka setelah menemukan bahwa jaring pengaman yang digunakan ternyata tidak tahan api—barang murahan HK$54 per gulung yang dipalsukan sebagai produk bersertifikat. Mereka bahkan mencoba menyembunyikan barang palsu itu dengan sedikit jaring yang benar. Publik langsung geram.

Di tengah suasana duka itu, nama Su Bingtian tiba-tiba trending. Bukan karena berita olahraga, melainkan pesan belasungkawa yang ia sampaikan lewat Ta Kung Wen Wei:

“Setiap angka dalam laporan korban menyayat hati kita. Para pemadam kebakaran berjuang habis-habisan, dan ketangguhan warga Hong Kong benar-benar mengharukan.”

Namun bagian yang paling menyentuh adalah kalimat berikut:

“Bunga kapuk Lingnan dan bauhinia Hong Kong selalu seakar dan sejiwa.”

Komentar langsung meledak:
“Su selalu tahu cara menyentuh hati.”
“Setelah pensiun justru makin berwibawa.”

Padahal, momen perpisahannya di PON bulan lalu—saat 46 ribu penonton meneriakkan “Su tidak akan tua”—masih segar dalam ingatan.


Dari momen ‘sentuh paha’ hingga menjadi guru — Quan Hongchan sampai tersipu

Ngomong-ngomong soal “Dekan Su”, tak mungkin tidak menyebut penggemar kecilnya yang paling setia—Quan Hongchan.

Pada acara olahraga di Makau tahun lalu, Quan Hongchan yang masih remaja iseng menyentuh paha Su Bingtian untuk merasakan otot sang “manusia tercepat Asia”.
Su tidak marah—bahkan membalas usil dengan pura-pura tidak menerima mikrofon dari Quan setelahnya. Video itu langsung viral.

Setahun kemudian, mereka benar-benar menjadi guru dan murid.

Pada September lalu, Quan diterima di Fakultas Pendidikan Jasmani Universitas Jinan—dan dekan fakultasnya adalah Su Bingtian sendiri. Di acara penyambutan mahasiswa baru, Quan menutupi mulut sambil tertawa malu ketika melihat sosok yang pernah ia “sentuh pahanya” menjadi pimpinannya.

Ia memberikan jersey tim nasional bertanda tangan, sementara Su sudah menyiapkan rencana pembinaan khusus yang menyeimbangkan akademik dan latihan.

Netizen kemudian menemukan bahwa ini bukan pertama kalinya Su menunjukkan kedewasaan sikap. Saat menghadiri kegiatan pemuda Taiwan, ia berkata:

“Kalau Yang Chun-han bisa masuk tim estafet kami, peluang meraih podium Olimpiade akan lebih besar.”
Lalu menambahkan, “Kita semua sebenarnya satu keluarga.”

Jadi pernyataannya soal Hong Kong hanyalah kelanjutan dari ketulusannya.


Pensiun bukan berarti berhenti — Su Bingtian berlari di lintasan baru

Mengapa ucapan seorang atlet pensiunan bisa berdampak besar?
Karena perjalanan Su Bingtian sendiri adalah simbol perubahan.

Catatan 9,83 detik di Olimpiade Tokyo menghancurkan mitos bahwa orang Asia tidak bisa berlari di bawah 10 detik. Ia menjadi ikon harapan.

Dalam perpisahannya di PON, ia berlari tanpa sepatu mengelilingi stadion sambil membungkuk hormat—hingga media pemerintah memujinya dua kali sebagai “legenda yang tidak pernah padam.”

Setelah pensiun, ia sepenuhnya terjun ke dunia pendidikan olahraga.
Selain menjadi dekan dan pembimbing Quan Hongchan, ia juga menyiapkan “Program Elite Ersha” untuk mencetak atlet kelas dunia.

Banyak atlet muda berkata:
“Setiap kali ingin menyerah, saya ingat Su yang mengubah teknik start di usia 32 tahun dan tetap bisa memecahkan rekor.”

Inilah mengapa ucapannya memiliki bobot.

Di tengah banyaknya pesan belasungkawa dari selebritas, ucapan Su tentang “seakar dan sejiwa” terasa paling kuat—
karena tulus dan tepat.

Bunga kapuk adalah lambang Guangzhou, sedangkan bauhinia adalah simbol Hong Kong. Dua bunga, satu makna: keterhubungan.

Netizen bercanda bahwa Quan Hongchan “memilih mentor yang tepat”—sosok juara Olimpiade sekaligus pemimpin yang berhati besar.

Dan Su Bingtian membuktikan bahwa sosok panutan sejati tidak diukur dari medali, tetapi dari konsistensi hati—di lintasan maupun dalam kehidupan.

接著讀