2026年9月10日

Dari “Sanya Terlalu Mahal untuk Dikunjungi” hingga Lonjakan Libur Imlek: Siapa yang Membanjiri Sanya Tahun Ini?

Jika harus merangkum wisatawan yang memadati Sanya selama libur Imlek 2026 dalam satu kalimat, Ayu—p...

Jika harus merangkum wisatawan yang memadati Sanya selama libur Imlek 2026 dalam satu kalimat, Ayu—pemandu wisata yang sudah tujuh tahun bekerja di sana—memberikan tiga kata kunci: lebih muda, lebih internasional, dan lebih gemar berbelanja.

“Tahun lalu saya tinggal di rumah yang sama, tapi tahun ini sehari sebelum terbang, pemiliknya mendadak memberi tahu kalau rumahnya tidak bisa ditempati, dan saya harus cari solusi sendiri.”

Bagi Pak Li dari Beijing, menghabiskan musim dingin di Sanya sudah menjadi rutinitas tahunan. Sejak awal Desember tahun lalu, ia sudah memesan homestay untuk lebih dari setengah bulan. Namun tahun ini, untuk pertama kalinya ia mengalami pembatalan sepihak dari pihak penginapan.

Saat Pak Li memesan kamar pada awal Desember, tarif homestay masih RMB 8.499. Tetapi pada 25 Januari, ketika ia kembali mengecek penginapan di sekitar lokasi yang sama, ia mendapati harga untuk periode yang sama sudah melonjak ke kisaran RMB 30.000–40.000—naik tiga hingga empat kali lipat.

Kisah Pak Li jelas bukan satu-satunya. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari platform OTA (online travel agency), hingga awal Februari, rata-rata harga tiket pesawat menuju Bandara Internasional Sanya Phoenix dan Bandara Haikou Meilan pada puncak kedatangan libur Imlek (13–19 Februari) berada di sekitar RMB 1.815, naik 116% dibandingkan periode Imlek tahun lalu. Pada saat yang sama, rata-rata harga hotel di Sanya selama periode puncak check-in (15–20 Februari) juga naik lebih dari 200% secara tahunan.

Cerita “Sanya terlalu mahal sampai tidak sanggup dikunjungi” kembali berulang. Namun bagi Ayu, Sanya bukan baru mahal tahun ini—melainkan memang selalu mahal setiap tahun. Yang benar-benar ia rasakan berubah adalah hadirnya generasi muda yang mulai menggeser logika konsumsi kota wisata ini.

Setiap hari, akun media sosial Ayu dibanjiri 500–600 pesan konsultasi, dan lebih dari 30% berasal dari generasi kelahiran setelah 1995 dan 2000. Dibanding tahun lalu, jumlah konsultasi dari kelompok muda ini meningkat hingga dua kali lipat.

Pariwisata Imlek bangkit kuat, Sanya kembali jadi destinasi favorit.

Dibanding tahun lalu, Ayu merasa jelas bahwa Sanya “ramai lagi” pada libur Imlek kali ini.

Pada libur Imlek 2025, Sanya sempat mengalami penurunan wisatawan yang cukup kentara. Faktor pemicunya berlapis: krisis reputasi akibat insiden wisatawan terjebak/tertahan di Xidao dan Pulau Wuzhizhou, citra “biaya tinggi” Sanya yang makin membesar, serta pergeseran arus wisata ke destinasi yang lebih ramah di kantong seperti wisata salju Harbin. Data resmi menunjukkan, pada empat hari pertama libur Imlek 2025, jumlah kunjungan ke atraksi utama di Sanya turun lebih dari 20% secara tahunan—bahkan disebut oleh pelaku industri sebagai “Imlek paling sepi”.

Namun untuk libur Imlek 2026—yang juga menjadi Imlek pertama setelah Hainan memasuki fase operasional “penutupan pulau” (closed-loop customs) secara menyeluruh—gelombang wisata Sanya justru kembali dengan laju yang lebih cepat dan lebih kuat.

Sejumlah data dari platform OTA memperlihatkan Sanya mencatat pertumbuhan pemesanan lebih dari 100% dibanding tahun lalu, sehingga masuk daftar 10 besar “destinasi kuda hitam” di Tiongkok. Bersama Haikou, Sanya juga menempati jajaran tujuan penerbangan domestik terpopuler saat Imlek. Data Tongcheng Travel menyebut, hingga 27 Januari, tren pemesanan hotel selama Imlek di Hainan naik 191% secara tahunan, dengan pertumbuhan pemesanan hotel di Sanya mencapai 167%.

Data Qunar juga menunjukkan lonjakan yang sangat menonjol di beberapa kawasan. Dalam peringkat nasional kawasan dengan pertumbuhan pemesanan hotel tertinggi, distrik Nanshan Cultural Tourism Zone / Yazhou Bay Sci-Tech City di Sanya berada di posisi teratas dengan pertumbuhan 1,8 kali lipat. Kawasan Dadonghai / Luhuitou / Peninsula juga mencatat pertumbuhan 1,6 kali lipat dan masuk jajaran teratas secara nasional.

Dari “lingkar wisata Sanya Raya”, destinasi 5A Yanoda Rainforest Cultural Tourism Zone menyampaikan bahwa kebijakan terkait pelabuhan perdagangan bebas dan mekanisme “penutupan pulau” mendorong wisatawan masuk lebih awal. Jumlah pengunjung sebelum liburan meningkat lebih dari 25% dibanding periode Imlek tahun lalu, sementara pemesanan di tengah liburan naik lebih dari 20%.

Panasnya pasar ini turut merembet ke agen perjalanan. Ayu mulai masuk mode “kerja penuh” sejak 8 Desember 2025, menuntaskan enam rombongan tur secara beruntun dalam sebulan—naik lebih dari 50% dibanding periode yang sama tahun lalu. Ia juga memperhatikan, kemacetan di Sanya belakangan jauh lebih parah.

“Di sekitar Coconut Dream Corridor di Sanya Bay, meskipun papan parkir menunjukkan nol slot, tetap ada puluhan mobil van bisnis yang antre di jalan utama dari jam 4 sore sampai malam,” kata Ayu.

Profil wisatawan berubah: lebih muda, lebih internasional, dan lebih fokus belanja.

Lalu, siapa sebenarnya yang datang ke Sanya pada Imlek tahun ini? Ayu punya jawabannya dengan sangat jelas.

Dari enam rombongan yang ia tangani belakangan ini, dua di antaranya didominasi oleh generasi 95-an dan 00-an—fenomena yang dulu jarang sekali terlihat. Pada tahun-tahun sebelumnya, jadwal Ayu pada periode yang sama hampir selalu dipenuhi keluarga dengan anak. Ayu menjelaskan, sejak Hainan memasuki fase operasional “penutupan pulau”, pesan masuk dari anak muda meningkat tajam: dari 500–600 konsultasi harian, sekitar sepertiganya berasal dari 95-an dan 00-an.

Laporan Tongcheng Travel juga menegaskan tren tersebut: struktur wisatawan Imlek di Hainan makin seimbang dan makin muda. Keluarga muda kelahiran 80-an masih menjadi kekuatan utama, tetapi kelompok 95-an dan 00-an, serta “new silver generation” kelahiran 75-an, semakin aktif. Gabungan dua segmen ini naik lebih dari 10 poin persentase dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Mengapa jumlah anak muda yang memilih Sanya saat Imlek tiba-tiba meningkat? Selain cuaca hangat dan spot foto yang “instagrammable”, Ayu menilai belanja bebas bea (duty-free) adalah daya tarik kunci.

Agar selaras dengan minat wisatawan, Ayu biasanya menempatkan kunjungan ke Sanya International Duty Free Shopping Complex atau Hainan Tourism Duty Free City pada setengah hari terakhir itinerary. Dulu, banyak peserta tur cenderung menolak agenda belanja, bahkan sejak awal pendaftaran sudah menegaskan tidak akan membeli apa pun. Kini, semakin banyak anak muda justru aktif bertanya soal aturan, kategori produk, dan strategi belanja duty-free.

“Sebagian dari mereka belum paham detailnya. Begitu dijelaskan dengan jelas, rasa penasaran mereka langsung naik—mereka ingin lihat sendiri sebenarnya bisa hemat berapa banyak,” ujar Ayu.

Yang sering terjadi setelah itu adalah belanja melebihi rencana. “Awalnya anggaran hanya beberapa ribu yuan, tapi akhirnya membeli barang senilai RMB 20.000–30.000.”

Produk digital seperti ponsel, serta kosmetik dan skincare, menjadi kategori paling populer. Harga ponsel bisa lebih murah RMB 700–800 dibanding harga resmi, laptop bisa lebih murah lebih dari RMB 1.000, bahkan ada wisatawan dari luar daerah yang meminta Ayu membantu membelikan iPhone.

Ayu masih ingat momen pada 30 Januari saat membawa rombongan ke Hainan Tourism Duty Free City. Sepasang kekasih muda menarik perhatiannya: sang perempuan terus memilih barang hingga kantong belanja kosmetik dan skincare menumpuk di tangannya, sementara sang laki-laki mencoba menahan—namun tetap tidak berhasil. “Dia bilang, ‘Tidak mudah bisa ke Sanya, jadi sekalian,’” kenang Ayu.

Bagi Ayu, perubahan paling terasa selama tujuh tahun kariernya adalah pergeseran sikap wisatawan terhadap belanja: dari “terpaksa menerima” menjadi “menanti dengan antusias”. Pada saat yang sama, perubahan lain datang dari luar perbatasan—jumlah wisatawan mancanegara terus meningkat sejak “penutupan pulau” diberlakukan.

Data Qunar menunjukkan, pada 1 Januari, pemesanan tiket pesawat inbound ke Sanya melonjak lima kali lipat secara tahunan, menjadi yang tercepat di seluruh negeri. Pada 1–7 Januari, jumlah wisatawan inbound ke Sanya naik 28%, dengan pelancong dari negara-negara bebas visa seperti Korea Selatan, Thailand, Singapura, dan Malaysia menjadi arus utama kedatangan.

Yanoda Rainforest juga menyampaikan bahwa sejak kebijakan tersebut berjalan, jumlah pengunjung luar negeri meningkat lebih dari 30% secara tahunan. Selama Imlek tahun ini, wisatawan mancanegara bahkan menjadi motor konsumsi penting. Seorang pengelola hotel di Sanya menyebut okupansi kamar stabil di 85%–90%, dengan porsi wisatawan luar negeri mendekati 50%—menjadi penopang utama arus tamu.

Ungkapan “pantai Sanya dipenuhi turis Rusia” bukan hal baru. Ayu sering melihat keluarga Rusia di objek wisata, restoran, hingga pusat perbelanjaan duty-free.

Namun yang menarik, menjelang Imlek tahun ini, Ayu untuk pertama kalinya menerima konsultasi dari IP yang menunjukkan Inggris, Finlandia, dan Norwegia. Seorang tamu berwajah Asia yang bisa berbahasa Mandarin menghubunginya, mengatakan ingin membawa teman-teman dari Inggris berlibur ke Hainan, serta berharap menyewa mobil van bisnis lengkap dengan pemandu wisata.

“Rombongan jarak jauh dari Eropa seperti ini dulu sangat jarang saya temui,” kata Ayu.

Jika kembali dirangkum dalam satu kalimat, deskripsi Ayu tetap tegas: wisatawan Sanya pada Imlek 2026 semakin muda, semakin internasional, dan semakin gemar berbelanja.

接著讀