Ditolak 10 Kali, Tawaran Gaji Rp 5 Triliun Gagal Gaet Talenta OpenAI—Satu Kalimat Picu Perang Perekrutan Terliar di Silicon Valley
Dari obrolan santai jadi pemicu perang talenta—saran dari Mark Chen memicu Meta bentuk “tim super AI...
Dari obrolan santai jadi pemicu perang talenta—saran dari Mark Chen memicu Meta bentuk “tim super AI” yang didominasi peneliti Tiongkok lulusan Tsinghua dan Peking.
Perang besar AI di Silicon Valley kembali memanas.
Menurut laporan The Wall Street Journal, CEO Meta Mark Zuckerberg menawarkan kompensasi hingga $300 juta (~Rp 5 triliun) kepada sejumlah karyawan inti OpenAI, namun setidaknya 10 orang menolaknya secara langsung. Salah satunya adalah Mark Chen, Kepala Penelitian OpenAI, yang tak menyangka ucapannya akan memicu “perang perekrutan AI paling agresif dalam sejarah Silicon Valley.”
01. Satu Saran, Lahirkan Tim Impian
Musim semi lalu, Zuckerberg sempat ngobrol ringan dengan Mark Chen soal strategi AI generatif Meta. Chen menyarankan: "Tingkatkan investasi pada talenta terbaik."
Zuck langsung menangkap saran itu sebagai panggilan bertindak. Ia bahkan mengundang langsung Chen untuk bergabung dengan Meta, menanyakan: “Apa yang bisa meyakinkanmu?” Tapi Chen menolak halus: “Saya sangat menikmati pekerjaan saya di OpenAI.”
Setelah penolakan itu, Zuck menyusun daftar global talenta AI teratas dan mulai merekrut diam-diam. Saat ini, menurut bocoran daftar internal yang didapat investor VC Deedy, 40% dari 44 orang di “tim super AI” Meta adalah eks-OpenAI.
02. Peneliti Tiongkok Mendominasi, Alumni Tsinghua & Peking Mencuat
Yang mengejutkan, 50% dari anggota tim ini adalah peneliti keturunan Tiongkok, dengan banyak di antaranya lulusan Tsinghua dan Peking University. Dari model multimodal, NLP, hingga reasoning agent, mereka jadi kekuatan utama Meta:
- Chengxu Zhuang (MIT, ex-OpenAI): Ahli bahasa & visi komputer.
- Chenxi Liu (ex-Waymo & DeepMind): Fokus VLM, baru 2 bulan di Meta.
- Chunyuan Li (xAI, HUST alumni): Pakar difusi dan generatif multimodal.
- Nama-nama besar lainnya seperti Ji Lin, Ren Hongyu, dan Zhao Shengjia juga telah beralih ke Meta setelah sukses di OpenAI.
Bahkan lab Zurich OpenAI yang memelopori ViT juga hampir “diborong” oleh Meta.
03. Uang Bukan Segalanya—GPU Tanpa Batas Jadi Kunci
Zuckerberg menegaskan bahwa daya tarik Meta bukan cuma uang, tapi akses GPU tanpa batas—sebuah “mimpi basah” bagi ilmuwan AI.
Meta berencana menggelontorkan puluhan miliar dolar untuk membangun klaster AI berskala gigawatt, seperti proyek Prometheus dan Hyperion. Sebagai respons, CEO OpenAI Sam Altman mengumumkan target 1 juta GPU aktif akhir tahun ini.
Kini persaingan bukan lagi sekadar rekrutmen, tapi adu kekuatan komputasi.
04. Dari Lelucon Jadi Realita: Kerja di OpenAI Biar Bisa Lompat ke Meta
Sebuah candaan yang viral di kalangan engineer kini berbunyi: “Alasan masuk OpenAI adalah agar bisa direkrut Meta.”
Meski terdengar lucu, tapi tren ini nyata: OpenAI sebagai batu loncatan, Meta sebagai panggung ambisi. Dengan compute power sebagai “mata uang” baru, industri AI kini memasuki fase industrialisasi elit.
Elon Musk Menyesal atas Unggahan Pedas Tentang Trump: “Saya Terlalu Berlebihan”
Setelah terlibat dalam perdebatan sengit dengan mantan Presiden Donald Trump, Elon Musk secara terbuka menyatakan pada 11 Juni bahwa ia menyesali serangkaian unggahan yang ia buat minggu lalu tentang Trump, dan mengakui bahwa kata-katanya “terlalu berlebihan.” Insiden ini menarik perhatian luas dan bahkan ayah Musk turut angkat bicara, menyarankan putranya untuk beristirahat.
Ash Lui Rilis Versi Korea dan Kanton “GAMER” untuk Menembus Pasar Korea
(Kuala Lumpur, 22)Ash (Loo Shin Yau), artis Malaysia yang dikenal setelah menembus Top 10 dalam prog...
Wakil Presiden PICC, Yu Ze, Resmi Diselidiki
Pada 6 Desember, Komisi Pusat untuk Inspeksi Disiplin dan Komisi Pengawasan Nasional mengumumkan bah...
Da Ying menggelar konser perdananya dengan kursi khusus untuk mendiang ibunya, sambil menahan air mata berterima kasih kepada penggemar
(Kuala Lumpur, 14) Penyanyi-penulis lagu lokal Da Ying (DIOR), yang sudah 5 tahun berkarya, menggela...
WTT Champions: Peringkat 6 Dunia Tersingkir! Takluk 2–4 dari Tomokazu Harimoto, Gagal Melaju dalam Perburuan Gelar
Pada 11 Januari (waktu Beijing), ajang WTT Champions Doha terus berlangsung sengit dan kini memasuki...
Tak gentar dengan kebangkitan bank digital, CEO Maybank soroti tantangan terbesar para pesaing
(Kuala Lumpur, 21 Januari) Bank digital sudah beroperasi sejak beberapa waktu lalu dan turut menguba...
Derek Tang dirumorkan “paling miskin pun punya HK$100 juta”; reaksinya justru memicu dugaan bahwa kekayaannya jauh lebih besar.
(Hong Kong, 22) Kekayaan artis Hong Kong Derek Tang Siu-chun sejak lama menjadi bahan perbincangan. ...
Tinggal satu hari menuju final Piala Asia U23: kelemahan terbesar Timnas China terungkap, jalan menuju gelar kini makin berat.
Dalam dua hari ke depan, Piala Asia U23 akan memasuki fase paling menentukan dengan digelarnya laga ...
Dari Sony ke Tony: bagaimana raksasa Jepang berdamai—dan berjuang menyelamatkan diri.
Pada 20 Januari, Sony menandatangani MoU dengan TCL untuk menyerahkan 51% kendali bisnis hiburan rum...
Bukan sekadar 3,96 per dolar AS, ringgit kembali mencetak level tertinggi baru!
(KUALA LUMPUR, 27) Nilai tukar ringgit melanjutkan penguatan. Setelah kemarin menguat hingga 3,96 pe...
Acara Korea mengungkap detik-detik sebelum wafatnya Barbie Hsu: “Ia ingin pulang,” namun mengalami henti jantung saat dalam perjalanan menuju bandara.
(Taipei, 4)Aktris Taiwan Barbie Hsu (Xu Xiyuan) genap satu tahun meninggal dunia pada tanggal 2. Pad...
Rp 7,5 Miliar: Brand Self-Heating Hotpot Paling Populer Kini Bangkrut
Siapa sangka, “Zihai Guo”, yang dulu begitu populer dan sempat menjadi pemain paling bersinar di kat...