2026年9月10日

Ditolak 10 Kali, Tawaran Gaji Rp 5 Triliun Gagal Gaet Talenta OpenAI—Satu Kalimat Picu Perang Perekrutan Terliar di Silicon Valley

Dari obrolan santai jadi pemicu perang talenta—saran dari Mark Chen memicu Meta bentuk “tim super AI...

Dari obrolan santai jadi pemicu perang talenta—saran dari Mark Chen memicu Meta bentuk “tim super AI” yang didominasi peneliti Tiongkok lulusan Tsinghua dan Peking.

Perang besar AI di Silicon Valley kembali memanas.

Menurut laporan The Wall Street Journal, CEO Meta Mark Zuckerberg menawarkan kompensasi hingga $300 juta (~Rp 5 triliun) kepada sejumlah karyawan inti OpenAI, namun setidaknya 10 orang menolaknya secara langsung. Salah satunya adalah Mark Chen, Kepala Penelitian OpenAI, yang tak menyangka ucapannya akan memicu “perang perekrutan AI paling agresif dalam sejarah Silicon Valley.”

01. Satu Saran, Lahirkan Tim Impian

Musim semi lalu, Zuckerberg sempat ngobrol ringan dengan Mark Chen soal strategi AI generatif Meta. Chen menyarankan: "Tingkatkan investasi pada talenta terbaik."

Zuck langsung menangkap saran itu sebagai panggilan bertindak. Ia bahkan mengundang langsung Chen untuk bergabung dengan Meta, menanyakan: “Apa yang bisa meyakinkanmu?” Tapi Chen menolak halus: “Saya sangat menikmati pekerjaan saya di OpenAI.”

Setelah penolakan itu, Zuck menyusun daftar global talenta AI teratas dan mulai merekrut diam-diam. Saat ini, menurut bocoran daftar internal yang didapat investor VC Deedy, 40% dari 44 orang di “tim super AI” Meta adalah eks-OpenAI.

02. Peneliti Tiongkok Mendominasi, Alumni Tsinghua & Peking Mencuat

Yang mengejutkan, 50% dari anggota tim ini adalah peneliti keturunan Tiongkok, dengan banyak di antaranya lulusan Tsinghua dan Peking University. Dari model multimodal, NLP, hingga reasoning agent, mereka jadi kekuatan utama Meta:

  • Chengxu Zhuang (MIT, ex-OpenAI): Ahli bahasa & visi komputer.
  • Chenxi Liu (ex-Waymo & DeepMind): Fokus VLM, baru 2 bulan di Meta.
  • Chunyuan Li (xAI, HUST alumni): Pakar difusi dan generatif multimodal.
  • Nama-nama besar lainnya seperti Ji Lin, Ren Hongyu, dan Zhao Shengjia juga telah beralih ke Meta setelah sukses di OpenAI.

Bahkan lab Zurich OpenAI yang memelopori ViT juga hampir “diborong” oleh Meta.

03. Uang Bukan Segalanya—GPU Tanpa Batas Jadi Kunci

Zuckerberg menegaskan bahwa daya tarik Meta bukan cuma uang, tapi akses GPU tanpa batas—sebuah “mimpi basah” bagi ilmuwan AI.

Meta berencana menggelontorkan puluhan miliar dolar untuk membangun klaster AI berskala gigawatt, seperti proyek Prometheus dan Hyperion. Sebagai respons, CEO OpenAI Sam Altman mengumumkan target 1 juta GPU aktif akhir tahun ini.

Kini persaingan bukan lagi sekadar rekrutmen, tapi adu kekuatan komputasi.

04. Dari Lelucon Jadi Realita: Kerja di OpenAI Biar Bisa Lompat ke Meta

Sebuah candaan yang viral di kalangan engineer kini berbunyi: “Alasan masuk OpenAI adalah agar bisa direkrut Meta.”

Meski terdengar lucu, tapi tren ini nyata: OpenAI sebagai batu loncatan, Meta sebagai panggung ambisi. Dengan compute power sebagai “mata uang” baru, industri AI kini memasuki fase industrialisasi elit.

接著讀

Elon Musk Menyesal atas Unggahan Pedas Tentang Trump: “Saya Terlalu Berlebihan”

Setelah terlibat dalam perdebatan sengit dengan mantan Presiden Donald Trump, Elon Musk secara terbuka menyatakan pada 11 Juni bahwa ia menyesali serangkaian unggahan yang ia buat minggu lalu tentang Trump, dan mengakui bahwa kata-katanya “terlalu berlebihan.” Insiden ini menarik perhatian luas dan bahkan ayah Musk turut angkat bicara, menyarankan putranya untuk beristirahat.

456 天前